Akurat

Mahakarya Arsitektur Ramah Lingkungan di Singapura Ternyata Jadi 'Jalur Kematian' Satwa Burung

Fitra Iskandar | 4 November 2025, 06:06 WIB
 Mahakarya Arsitektur Ramah Lingkungan di Singapura Ternyata Jadi 'Jalur Kematian' Satwa Burung


AKURAT.CO Apa yang selama ini dipandang sebagai mahakarya arsitektur ramah lingkungan di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, ternyata menyimpan masalah yang tidak banyak diketahui publik. Di balik atap hijaunya yang ikonik dan desain futuristiknya, gedung milik School of Art, Design and Media (ADM) justru menjadi ancaman mematikan bagi burung-burung migran yang melintas di kawasan kampus.

Dinding kaca bangunan itu kerap memantulkan langit, membuat burung-burung mengira area tersebut adalah ruang terbang bebas—hingga akhirnya menabrak kaca dengan kecepatan penuh. Selama musim migrasi, insiden ini bahkan terjadi hampir setiap hari, menurut laporan The Straits Times.

Kondisi ini mendorong sekelompok mahasiswa membentuk inisiatif Project Avigate pada 2022, setelah salah satu pendirinya sendiri menyaksikan burung-burung menabrak gedung itu. Dalam tiga musim migrasi, mereka mencatat 122 tabrakan yang melibatkan 22 spesies berbeda, sementara di seluruh area kampus NTU, jumlahnya telah melampaui 200 kasus.

Dalam laporan setebal 51 halaman yang diserahkan ke pihak universitas pada April 2024, para mahasiswa mengidentifikasi bentuk kaca yang menyerupai corong di gedung ADM sebagai faktor utama yang membingungkan burung.

Sebagai solusi, tim berupaya menggalang dana sebesar S$ 30.000 (≈ Rp 384 juta) untuk memasang stiker khusus pada jendela-jendela berisiko tinggi agar lebih terlihat oleh burung. NTU sendiri telah menyatakan kesiapan menanggung 70 % dari total biaya proyek yang diperkirakan mencapai S$ 100.000 (≈ Rp 1,28 miliar).

Beberapa langkah awal sudah dilakukan, seperti mengurangi silau di bagian atap dan memasang jaring pelindung. Namun pemasangan stiker memerlukan material tahan cuaca dan konstruksi khusus, sehingga prosesnya tidak sederhana.

Meski menghadapi tantangan persetujuan dan pendanaan, para mahasiswa bekerja bersama pihak kampus agar solusi ini bisa diterapkan sebelum musim migrasi berikutnya pada September 2026.

NTU menyampaikan bahwa inisiatif ini akan menjadi percontohan bagi desain gedung yang lebih aman bagi satwa liar di masa depan—sejalan dengan komitmen universitas terhadap keberlanjutan dan perlindungan lingkungan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.