Akurat

Menlu Nigeria Bantah Tuduhan AS Soal Penganiayaan terhadap Umat Kristen

Kumoro Damarjati | 15 Oktober 2025, 17:29 WIB
Menlu Nigeria Bantah Tuduhan AS Soal Penganiayaan terhadap Umat Kristen

 

AKURAT.CO Pemerintah Nigeria membantah tuduhan dari sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat (AS) yang menuding negara itu memfasilitasi kekerasan terhadap umat Kristen. Menteri Luar Negeri Nigeria, Yusuf Tuggar, menegaskan bahwa konflik yang terjadi di negaranya lebih dipicu oleh persaingan sumber daya alam, bukan oleh motif agama.

Dilansir Semafor dan Reuters, Rabu (15/10/2025), Nigeria tengah menghadapi kritik tajam dari anggota Kongres AS dan Parlemen Eropa setelah muncul laporan mengenai serangan terhadap komunitas Kristen di wilayah tengah negara tersebut.

Senator AS Ted Cruz menuduh pemerintah Nigeria “mengabaikan dan bahkan memfasilitasi pembunuhan massal umat Kristen oleh jihadis Islam.” Ia juga berjanji akan menindaklanjuti tuduhan tersebut melalui RUU kebebasan beragama yang diajukan ke Kongres pada September lalu. Sementara anggota Kongres Riley Moore dan Chris Smith menyerukan agar Nigeria kembali dimasukkan dalam daftar Negara yang Menjadi Perhatian Khusus (CPC) karena dugaan pelanggaran kebebasan beragama.

Menanggapi tuduhan itu, Tuggar menyebut pernyataan para pejabat AS tersebut sebagai narasi keliru yang digerakkan oleh kelompok-kelompok kepentingan dan oposisi di dalam negeri Nigeria.

“Kelompok lobi dan bahkan komedian — dan mereka memang komedian — sedang mengobarkan sentimen ini,” ujar Tuggar dalam wawancara dengan Semafor.

Menurut Tuggar, konflik di beberapa wilayah Nigeria terjadi karena ketegangan perebutan lahan, air, dan sumber daya mineral, seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk dan dampak perubahan iklim.

“Nigeria akan mencapai 400 juta jiwa dalam 25 tahun ke depan. Persaingan untuk mendapatkan lahan pertanian dan padang rumput akan semakin ketat,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa Nigeria tidak memiliki agama resmi dan tidak pernah memberi izin bagi tindakan kekerasan terhadap umat beragama mana pun. Pemerintah, kata Tuggar, berkomitmen menjaga kebebasan beragama dan kerukunan di antara warga Muslim dan Kristen.

Hubungan Nigeria dan AS Diuji

Isu penganiayaan terhadap umat Kristen menjadi salah satu tantangan dalam hubungan diplomatik antara Nigeria dan AS. Sebelumnya, pada masa pemerintahan Donald Trump, Washington sempat memperketat kebijakan visa bagi warga Nigeria, mengurangi lama masa tinggal bagi wisatawan dan pelaku bisnis menjadi tiga bulan.

Nigeria juga menolak menerima deportasi warga negara ketiga dari AS, meskipun langkah tersebut dapat membawa keuntungan ekonomi atau kemudahan visa.

“Kami tidak akan menerima warga negara ketiga dari negara mana pun. Posisi kami sudah sangat jelas dan dipahami dengan baik oleh AS,” tegas Tuggar.

Dalam konteks ekonomi, Nigeria — mitra dagang utama AS di Afrika Barat — mencatat peningkatan perdagangan bilateral hingga 17% pada 2024, dengan total nilai mencapai USD 13 miliar. Namun, status Nigeria dalam perjanjian African Growth and Opportunity Act (AGOA) masih belum pasti setelah pakta perdagangan itu berakhir bulan lalu.

Tuggar juga menegaskan bahwa Nigeria akan terus memperluas hubungan dagangnya secara global, termasuk dengan bergabung sebagai mitra BRICS bersama negara-negara berkembang lainnya.

“AS tidak keberatan dengan kemitraan kami di BRICS. Kami membuat keputusan berdasarkan kepentingan strategis Nigeria, bukan negara lain,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.