Yang Terbaru Dari Kesepakatan Gencatan Senjata Menuju Perdamaian Israel-Hamas

AKURAT.CO Israel akhirnya menyetujui resolusi gencatan senjata dengan Hamas yang difasilitasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Persetujuan ini menandai langkah awal menuju perdamaian setelah berbulan-bulan perang mematikan di Gaza.
Menurut dua pejabat Israel yang dikutip CNN, gencatan senjata mulai berlaku segera setelah kesepakatan disahkan, meski belum ada perintah resmi dari Kantor Perdana Menteri kepada Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk menghentikan tembakan.
Peran Amerika Serikat dalam Kesepakatan
Pemerintah AS mengumumkan pembentukan Civil-Military Coordination Center (CMCC) di Israel untuk mendukung stabilisasi Gaza. Sekitar 200 personel militer Amerika akan dikerahkan untuk mendukung pusat tersebut, dengan keahlian di bidang logistik, keamanan, transportasi, dan rekayasa.
“Amerika Serikat tidak berencana mengirim pasukan ke dalam wilayah Gaza,” kata pejabat CENTCOM dalam pernyataannya.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa personel tersebut akan memantau pelaksanaan kesepakatan damai bersama pasukan internasional dari Mesir, Qatar, Turki, dan Uni Emirat Arab.
Trump, yang menjadi penjamin utama kesepakatan ini, menugaskan menantunya Jared Kushner dan utusannya Steve Witkoff untuk menuntaskan perundingan di Sharm el-Sheikh, Mesir. “Kita harus menyelesaikannya,” ujar Trump kepada para diplomat sebelum mereka berangkat.
Isi dan Tahapan Kesepakatan Gencatan Senjata
Fase pertama rencana Trump mencakup penghentian total serangan militer dan pembebasan seluruh sandera Israel yang masih ditahan Hamas.
Namun, negosiasi masih berlangsung untuk menentukan daftar tahanan Palestina yang akan dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan timbal balik.
Trump mengatakan seluruh sandera Israel di Gaza akan dibebaskan paling lambat awal pekan depan, sementara bantuan kemanusiaan sebesar 170 ribu ton bahan makanan dan obat-obatan telah disiapkan PBB untuk segera dikirim ke wilayah Gaza.
Meskipun begitu, beberapa pejabat AS mengingatkan bahwa kesepakatan ini masih rapuh dan dapat runtuh sewaktu-waktu karena rendahnya kepercayaan antara kedua pihak.
Reaksi dari Hamas dan Israel
Pejabat senior Hamas, Osama Hamdan, menegaskan bahwa pembebasan sandera hanya akan dilakukan setelah ada deklarasi resmi berakhirnya perang di Gaza. “Itu bukan hanya posisi Hamas, tetapi juga yang disetujui pihak Israel,” ujarnya.
Sementara itu, penasihat Trump, Steve Witkoff, menyebut bahwa keberanian Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi faktor kunci dalam tercapainya kesepakatan.
“Netanyahu membuat keputusan sulit yang menekan Hamas untuk menyetujui kesepakatan ini,” kata Witkoff.
Kushner menambahkan bahwa Netanyahu “melakukan negosiasi dengan baik dan tetap tegas pada prinsipnya.”
Netanyahu sendiri menyampaikan terima kasih kepada tim negosiasi AS atas dukungan mereka. “Ini bukan hanya untuk Israel dan Amerika Serikat, tetapi untuk semua keluarga yang akhirnya bisa berkumpul kembali,” ujarnya.
Seruan untuk Dialog dan Kemanusiaan
Di tengah kabar gencatan senjata, suara kemanusiaan juga muncul dari warga yang terdampak perang. Liz Naftali, bibi dari mantan sandera anak-anak asal Israel, Abigail Mor Edan, menyerukan agar penderitaan di kedua pihak menjadi pemicu dialog perdamaian.
“Saya pikir ini adalah kesempatan untuk memulai percakapan sulit tentang nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas,” kata Naftali kepada CNN. “Jika kita tidak memanfaatkannya, maka itu akan menjadi kesalahan besar bagi kita semua.”
Abigail, yang berusia tiga tahun ketika kedua orang tuanya tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, sebelumnya disandera di Gaza dan dibebaskan enam minggu kemudian selama jeda kemanusiaan pertama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









