China Hukum Mati 11 Anggota Keluarga Ming, Mafia Kasino dan Penipuan di Myanmar

AKURAT.CO Pengadilan di China telah menjatuhkan hukuman mati kepada 11 anggota keluarga Ming, kelompok berpengaruh yang selama bertahun-tahun mengendalikan jaringan penipuan dan kasino ilegal di Myanmar. Putusan ini diumumkan pada Senin (30/9) di kota Wenzhou, menurut laporan stasiun televisi pemerintah, CCTV.
Secara total, 39 anggota keluarga Ming dijatuhi hukuman. Selain 11 orang yang dieksekusi, lima orang lainnya dijatuhi hukuman mati dengan masa percobaan dua tahun, 11 orang dipenjara seumur hidup, dan sisanya dihukum penjara antara 5 hingga 24 tahun.
Keluarga Mafia di Perbatasan Myanmar-China
Sejak 2015, keluarga Ming dituduh terlibat dalam berbagai kejahatan lintas negara, mulai dari penipuan telekomunikasi, perjudian ilegal, perdagangan narkoba, prostitusi, hingga pencucian uang. Menurut pengadilan, aktivitas mereka menghasilkan lebih dari 10 miliar yuan (Rp22 triliun).
Keluarga Ming adalah bagian dari empat klan besar yang menguasai kota Laukkai, wilayah perbatasan Myanmar dengan China. Awalnya, Laukkai berkembang sebagai tujuan perjudian bagi warga Tiongkok, di mana perjudian resmi dilarang. Namun dalam perkembangannya, kawasan ini berubah menjadi pusat kejahatan terorganisir, termasuk penipuan online skala internasional.
Pusat Penipuan Global yang Disebut "Scamdemic"
PBB menyebut fenomena ini sebagai “scamdemic”, dengan lebih dari 100 ribu orang asing – sebagian besar warga China – dijebak dan dipaksa bekerja di pusat-pusat penipuan daring. Para pekerja sering diperlakukan tidak manusiawi, bahkan ada laporan tentang penyiksaan dan pembunuhan.
Kompleks paling terkenal milik keluarga Ming adalah Crouching Tiger Villa, tempat ribuan pekerja ditahan dan dipaksa melakukan operasi penipuan online yang menyasar korban di seluruh dunia.
Kejatuhan Keluarga Ming
Kekuatan keluarga Ming mulai runtuh ketika kelompok pemberontak Myanmar menyerang Laukkai dua tahun lalu. Dengan restu diam-diam dari Beijing, militer Myanmar dipukul mundur dan sejumlah anggota keluarga Ming ditangkap. Kepala keluarga, Ming Xuechang, dilaporkan bunuh diri, sementara anggota lainnya diekstradisi ke China.
Sejak itu, ribuan pekerja pusat penipuan juga diserahkan kepada otoritas China. Beberapa anggota keluarga Ming bahkan menyampaikan pengakuan penuh penyesalan.
Tekad Beijing Menumpas Penipuan Lintas Negara
Hukuman ini menunjukkan tekad China menumpas mafia perjudian dan penipuan di wilayah perbatasannya. Tekanan dari Beijing sebelumnya juga mendorong Thailand untuk membongkar jaringan serupa di perbatasan Myanmar.
Namun, bisnis gelap ini belum sepenuhnya berhenti. Kini, sebagian besar pusat penipuan berpindah ke Kamboja, meski masih ada yang beroperasi di Myanmar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









