Akurat

Korban Tewas Protes Generasi Z di Nepal Meningkat Jadi 34 Orang

Kumoro Damarjati | 12 September 2025, 17:45 WIB
Korban Tewas Protes Generasi Z di Nepal Meningkat Jadi 34 Orang

 

AKURAT.CO Jumlah korban tewas akibat kerusuhan Nepal yang dipicu protes besar-besaran Gen Z di Lembah Kathmandu kini meningkat menjadi 34 orang. Menurut data resmi Kementerian Kesehatan dan Kependudukan Nepal yang dikutip The Himalayan Times, lebih dari 1.368 orang terluka dalam aksi yang meluas ke berbagai kota sejak 8 September 2025.

Juru bicara kementerian, Dr. Prakash Budhathoki, menyatakan bahwa sebagian besar korban luka sudah mendapat perawatan dan dipulangkan.

“Sebanyak 949 orang telah keluar dari rumah sakit,” ujarnya.

Saat ini, 58 pasien masih dirawat di Pusat Trauma, 48 orang di Rumah Sakit Layanan Sipil, 35 di Fakultas Kedokteran Kathmandu, 25 di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan (TUTH), dan 26 pasien di Rumah Sakit Militer Birendra.

Pertemuan Tingkat Tinggi di Istana Presiden

Di tengah meningkatnya jumlah korban kerusuhan Nepal, Presiden Ram Chandra Paudel dijadwalkan memimpin pertemuan penting pada Jumat bersama Panglima Angkatan Darat Ashok Raj Sigdel, Ketua Mahkamah Agung Prakash Man Singh Raut, dan para pemimpin Partai Komunis Nepal (CPN) Maois. Pertemuan ini diharapkan mencari solusi atas krisis politik yang semakin memanas setelah Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri.

Para pemimpin protes Gen Z sebelumnya mengumumkan dukungan penuh kepada mantan Ketua Mahkamah Agung Sushila Karki sebagai calon perdana menteri sementara. Karki dikenal luas karena integritas dan komitmennya melawan korupsi dalam sistem peradilan Nepal.

Jam Malam dan Aksi Protes Meluas

Untuk menekan eskalasi, pemerintah memberlakukan jam malam di Kathmandu dan beberapa kota besar lainnya. Jam malam berlangsung hingga pukul 17.00 dan dilanjutkan lagi mulai pukul 19.00 hingga 06.00 keesokan harinya, sesuai pernyataan Angkatan Darat Nepal.

Protes Gen Z yang awalnya damai berubah menjadi kerusuhan setelah disusupi kelompok politik, kata para pemimpinnya. Mereka menuntut diakhirinya “korupsi dan favoritisme yang dilembagakan” dalam pemerintahan. Gerakan ini juga dipicu kemarahan publik atas fenomena “Nepo Babies,” yang mengungkap gaya hidup mewah anak-anak politisi di media sosial dan menyoroti kesenjangan sosial-ekonomi.

Tuntutan Kaum Muda Nepal

“Gerakan ini lahir karena korupsi merajalela,” kata Diwakar Dangal, salah satu pemimpin protes Gen Z. Rekannya, Junal Gadal, menekankan pentingnya memilih Karki sebagai pemimpin transisi. “Dalam enam bulan, kami akan menuju pemilu,” ujarnya.

Wali Kota Kathmandu, Balendra Shah (Balen), juga mendukung pencalonan Karki, memperkuat posisinya sebagai figur persatuan di tengah krisis. Para pemimpin Gen Z menegaskan bahwa tujuan mereka bukan mengganti konstitusi, tetapi mendorong amandemen penting untuk memperbaiki tata kelola negara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.