Akurat

Profil Riek Machar, Wapres Sudan Selatan yang Didakwa Kejahatan terhadap Kemanusiaan

Naufal Lanten | 12 September 2025, 01:17 WIB
Profil Riek Machar, Wapres Sudan Selatan yang Didakwa Kejahatan terhadap Kemanusiaan

AKURAT.CO Riek Machar Teny Dhurgon, tokoh politik asal Sudan Selatan yang lahir pada 26 November 1952 di Leer, Unity State, kembali menjadi sorotan dunia. Nama Machar bukan hal baru di panggung politik Afrika Timur. Ia dikenal sebagai sosok yang berulang kali menduduki kursi Wakil Presiden Sudan Selatan, namun juga sebagai pemimpin pemberontak yang kerap berseteru dengan Presiden Salva Kiir Mayardit. Pada September 2025, posisinya semakin rumit setelah dijerat dengan tuduhan serius, mulai dari pembunuhan, makar, hingga kejahatan terhadap kemanusiaan.

Perjalanan Awal Riek Machar

Machar berasal dari etnis Nuer, kelompok besar di Sudan Selatan. Ia menempuh pendidikan teknik di Universitas Khartoum, kemudian melanjutkan studi ke Inggris hingga meraih gelar doktor (PhD) di bidang Mechanical Engineering dari University of Bradford pada 1984. Latar belakang akademis ini menjadi modal penting saat ia mulai terjun ke dunia politik dan perlawanan bersenjata.

Tidak lama setelah menyelesaikan pendidikannya, Machar bergabung dengan Sudan People’s Liberation Movement/Army (SPLM/A), gerakan pemberontak yang dipimpin John Garang dalam Perang Saudara Sudan Kedua (1983–2005). Namun, hubungan keduanya tidak berlangsung mulus. Pada 1991, Machar pecah kongsi dengan Garang dan membentuk kelompok pecahan bernama SPLA-Nasir. Dari sinilah jejaknya sebagai pemimpin berbagai faksi pemberontak mulai tercatat panjang.

Jejak Kelam dalam Perang Saudara

Salah satu episode paling kelam dalam karier Machar adalah keterlibatannya dalam Tragedi Bor 1991. Pasukannya saat itu dituding melakukan pembantaian terhadap lebih dari 2.000 warga sipil etnis Dinka, yang memicu gelombang kelaparan dan penderitaan hingga menewaskan puluhan ribu orang dalam beberapa tahun berikutnya. Insiden ini terus menghantui reputasinya meski kemudian ia sempat menyampaikan permintaan maaf publik pada 2012.

Sepanjang 1990-an, Machar memimpin berbagai kelompok bersenjata seperti SPLA-United, South Sudan Independence Movement/Army (SSIM/A), hingga South Sudan Defence Forces (SSDF). Bahkan, ia sempat menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah Sudan dan dipercaya menjabat sebagai kepala Dewan Koordinasi Negara Bagian Selatan. Namun, loyalitas Machar sering berubah seiring dengan dinamika konflik, hingga akhirnya pada 2002 ia kembali bergabung dengan SPLM/A.

Dari Wakil Presiden ke Pemberontak Lagi

Ketika Perang Saudara Sudan berakhir pada 2005, Machar diangkat sebagai Wakil Presiden wilayah otonom Sudan Selatan, mendampingi Salva Kiir setelah kematian John Garang. Posisi ini berlanjut saat Sudan Selatan meraih kemerdekaan pada 9 Juli 2011. Namun, hubungan Machar dan Kiir kembali retak. Pada 2013, Machar dipecat, dan tak lama kemudian pecah perang saudara baru antara kubu Kiir dan pasukan loyalis Machar yang dikenal dengan SPLM-IO (Sudan People’s Liberation Movement-In Opposition).

Sejak itu, Machar keluar-masuk pemerintahan melalui serangkaian perjanjian damai yang sering gagal dijalankan. Ia pernah kembali sebagai Wakil Presiden pada 2016, namun terpaksa melarikan diri dari Juba setelah bentrokan bersenjata. Machar bahkan sempat ditahan di Afrika Selatan pada 2017 sebelum akhirnya kembali ke negaranya usai tercapainya kesepakatan damai pada 2018.

Penangkapan pada 2025 dan Tuduhan Berat

Pada Maret 2025, situasi politik Sudan Selatan kembali memanas. Machar mengkritik keras kehadiran pasukan Uganda di negaranya, menyebut langkah itu melanggar perjanjian damai 2018. Tak lama berselang, pada 26 Maret 2025, rumahnya di Juba dikepung konvoi bersenjata. Ia bersama istrinya, Angelina Teny—yang juga menjabat Menteri Dalam Negeri—ditempatkan dalam tahanan rumah. Pasukan pengawalnya dilucuti senjata, dan SPLM-IO menyatakan bahwa perjanjian damai praktis sudah runtuh.

Pemerintah Sudan Selatan kemudian menuding Machar berencana memicu pemberontakan baru. Ia dituduh mendukung serangan kelompok Nuer White Army yang pada Maret 2025 menyerang pangkalan militer di Nasir, menewaskan lebih dari 250 prajurit. Pada 11 September 2025, Machar resmi didakwa dengan tuduhan pembunuhan, makar, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pihak SPLM-IO membantah tuduhan itu dan menegaskan mereka tidak lagi memiliki hubungan dengan Nuer White Army. Namun, tekanan internasional meningkat setelah Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) memperingatkan bahwa penahanan Machar bisa memicu pecahnya perang saudara baru.

Kehidupan Pribadi dan Pengaruh Politik

Di balik perjalanan politiknya yang penuh gejolak, Machar juga dikenal lewat sisi pribadinya. Ia pernah menikah dengan Emma McCune, seorang pekerja kemanusiaan asal Inggris, yang meninggal dalam kecelakaan mobil di Nairobi pada 1993. Pernikahannya dengan Angelina Teny, salah satu politisi perempuan berpengaruh di Sudan Selatan, membuat pasangan ini disebut-sebut sebagai “power couple” di politik negara tersebut.

Pengaruh Machar dalam politik Sudan Selatan tidak bisa dipandang sebelah mata. Meski kontroversial, ia selalu berhasil kembali ke lingkaran kekuasaan setiap kali tersingkir. Namun, dengan tuduhan berat yang kini dihadapinya, masa depan politik Machar dipertanyakan. Apakah ia akan kembali bangkit, atau justru berakhir sebagai simbol kegagalan rekonsiliasi di Sudan Selatan?

Penutup

Riek Machar adalah figur yang mencerminkan kompleksitas politik Sudan Selatan—seorang pejuang kemerdekaan, pemberontak, sekaligus pemimpin yang berulang kali masuk dan keluar kekuasaan. Kini, dengan dakwaan berat yang bisa mengubah peta politik negaranya, nasib Machar menjadi salah satu isu paling penting untuk diperhatikan dunia internasional.

Baca Juga: FBI Rilis Foto Terduga Penembak Charlie Kirk, Pendukung Trump, di Utah Valley University

Baca Juga: Duterte Disebut Alami Gangguan Kognitif, Pengacara Minta ICC Hentikan Proses Hukum

FAQ

1. Siapa Riek Machar?
Riek Machar Teny Dhurgon adalah politikus Sudan Selatan yang pernah beberapa kali menjabat sebagai Wakil Presiden. Ia juga dikenal sebagai pemimpin kelompok pemberontak SPLM-IO yang berseberangan dengan Presiden Salva Kiir Mayardit.

2. Apa latar belakang pendidikan Riek Machar?
Machar menempuh studi teknik di Universitas Khartoum dan meraih gelar doktor (PhD) di bidang Mechanical Engineering dari University of Bradford, Inggris, pada 1984.

3. Mengapa Riek Machar sering berseteru dengan John Garang dan Salva Kiir?
Dengan John Garang, perbedaan muncul karena Garang menginginkan Sudan tetap bersatu namun demokratis, sedangkan Machar mendukung kemerdekaan penuh Sudan Selatan. Sementara dengan Salva Kiir, perseteruan terjadi karena perebutan kekuasaan di pemerintahan setelah Sudan Selatan merdeka.

4. Apa itu Tragedi Bor 1991 dan bagaimana kaitannya dengan Machar?
Tragedi Bor 1991 adalah pembantaian terhadap lebih dari 2.000 warga sipil etnis Dinka oleh pasukan yang dipimpin Riek Machar. Peristiwa ini menimbulkan trauma besar dan terus membayangi reputasinya, meskipun ia telah meminta maaf pada 2012.

5. Apa tuduhan terbaru terhadap Riek Machar pada 2025?
Pada September 2025, Machar didakwa dengan pembunuhan, makar, dan kejahatan terhadap kemanusiaan setelah pasukan Nuer White Army menyerang pangkalan militer di Nasir yang menewaskan lebih dari 250 prajurit.

6. Apakah Riek Machar masih memimpin SPLM-IO?
Ya, hingga 2025 Riek Machar masih menjadi pimpinan SPLM-IO, meskipun pemerintah Sudan Selatan menuduh kelompok ini masih memiliki kaitan dengan milisi Nuer White Army. SPLM-IO sendiri membantah tuduhan tersebut.

7. Bagaimana reaksi internasional terhadap penangkapan Machar?
Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) memperingatkan bahwa penahanan Machar dapat memicu perang saudara baru. Beberapa pihak internasional juga menyoroti risiko runtuhnya perjanjian damai 2018.

8. Siapa istri Riek Machar?
Istri Riek Machar adalah Angelina Teny, politisi perempuan berpengaruh di Sudan Selatan yang pernah menjabat sebagai Menteri Energi dan Pertambangan serta Menteri Dalam Negeri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.