Akurat

Profil Thaksin Shinawatra: Kiprah, Kontroversi, dan Warisan Politik di Thailand

Kosim Rahman | 10 September 2025, 12:11 WIB
Profil Thaksin Shinawatra: Kiprah, Kontroversi, dan Warisan Politik di Thailand

AKURAT.CO Profil Thaksin Shinawatra kembali menjadi sorotan setelah Mahkamah Agung Thailand menjatuhkan putusan mengejutkan terkait kasus penahanannya.

Sosok yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Thailand ini memang dikenal sebagai tokoh politik berpengaruh sekaligus kontroversial dalam dua dekade terakhir.

Dikutip dari berbagai sumber, Rabu (10/9/2025), berikut informasi mengenai profil dan kontroversinya saat ini.

Profil dan Pendidikan Thaksin Shinawatra

Thaksin Shinawatra lahir pada 26 Juli 1949 di Chiang Mai, Thailand. Ia berasal dari keluarga keturunan pedagang Tionghoa.

Baca Juga: Thaksin Sebut Punya Bukti Pelanggaran dalam Pemilu Thailand

Awalnya, Thaksin bercita-cita menjadi polisi. Ia lulus dari Akademi Kadet Polisi pada tahun 1973, kemudian melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat hingga meraih gelar doktor di bidang peradilan pidana dari Sam Houston State University, Texas, pada 1978.

Kariernya di kepolisian sempat menanjak hingga berpangkat letnan kolonel. Namun, pada 1987, ia memutuskan keluar dan merintis bisnis di bidang komputer bersama istrinya, Potjaman.

Meski sempat hampir bangkrut, Thaksin berhasil bangkit hingga menguasai monopoli satelit komunikasi dan telepon seluler. Kekayaan besar inilah yang kemudian membuka jalannya masuk ke dunia politik.

Perjalanan Politik Thaksin Shinawatra

Thaksin pertama kali terjun ke politik pada 1994 dengan jabatan menteri luar negeri.

Kariernya semakin menanjak hingga pada 2001, ia memimpin Partai Thai Rak Thai (TRT) meraih kemenangan besar dalam pemilu. Pada 9 Februari 2001, ia resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Thailand.

Baca Juga: Anutin Charnvirakul Resmi Jadi Perdana Menteri Thailand, Ini Profil dan Perjalanannya

Sebagai pemimpin, profil Thaksin Shinawatra lekat dengan kebijakan populis, seperti program bantuan tunai, subsidi pertanian, hingga layanan kesehatan universal.

Langkah-langkah ini membuatnya populer di kalangan masyarakat kelas pekerja, terutama di pedesaan.

Namun, popularitas tersebut juga memicu kecemburuan elite konservatif, militer, dan kelompok kaya yang menguasai politik Thailand.

Pada 2006, Thaksin menghadapi gelombang protes setelah menjual perusahaan telekomunikasi keluarganya hampir senilai 2 miliar dolar AS tanpa dikenakan pajak.

Kontroversi itu memicu kudeta militer yang menggulingkannya saat ia sedang berada di luar negeri. Sejak itu, ia mengasingkan diri selama hampir 15 tahun.

Kasus Hukum dan Penjara

Mahkamah Agung Thailand menjatuhkan hukuman delapan tahun penjara kepada Thaksin karena penyalahgunaan kekuasaan dan konflik kepentingan saat menjabat sebagai perdana menteri.

Hukuman ini kemudian diringankan menjadi satu tahun oleh Raja Thailand. Pada Agustus 2023, Thaksin kembali ke Thailand setelah lama di pengasingan.

Namun, hanya beberapa jam di penjara, ia langsung dipindahkan ke rumah sakit dengan alasan masalah jantung.

Baca Juga: Badai Tropis Kajiki Hantam Thailand Utara, 5 Orang Tewas dan 7 Hilang

Publik Thailand curiga, karena ia tetap dirawat di ruang VIP selama enam bulan hingga akhirnya dibebaskan bersyarat.

Putusan terbaru pada 9 September 2025 kembali menjebloskannya ke penjara. Mahkamah Agung menyatakan Thaksin dan tim dokternya sengaja memperpanjang rawat inap dengan operasi kecil yang tidak mendesak.

Vonis ini menjadi pukulan telak bagi keluarganya yang sudah lama mendominasi politik Thailand, termasuk putrinya, Paetongtarn Shinawatra, yang baru saja dicopot dari kursi perdana menteri.

Pengaruh dan Warisan Politik

Meski terjerat kasus hukum, profil Thaksin Shinawatra tidak bisa dilepaskan dari perannya dalam membentuk politik modern Thailand.

Ia adalah perdana menteri pertama Thailand yang benar-benar menguasai mayoritas parlemen dan berhasil menciptakan reformasi kesehatan publik.

Namun, kepemimpinannya juga dinodai tuduhan korupsi, pelanggaran HAM, serta gaya politik yang dianggap terlalu dominan.

Baca Juga: Thailand Gratiskan Tiket Pesawat untuk Turis Asing, Ini yang Perlu Diketahui

Kini di usia 76 tahun, Thaksin masih memiliki pengaruh kuat, terutama melalui Partai Pheu Thai.

Banyak analis menilai bahwa ia belum sepenuhnya meninggalkan panggung politik, meskipun harus menghadapi kenyataan di balik jeruji besi.

Itulah Profil Thaksin Shinawatra, sosok kontroversial yang jejak politik dan warisannya tetap membekas dalam sejarah Thailand.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.