Bintang Hollywood Ramai-Ramai Boikot Lembaga Film Israel

AKURAT.CO Beberapa nama besar Hollywood menandatangani ikrar untuk memboikot lembaga-lembaga film Israel, termasuk festival, penyiar, dan perusahaan produksi yang dianggap “terlibat dalam genosida dan apartheid terhadap rakyat Palestina.”
Ikrar ini diumumkan lewat surat terbuka yang diunggah kelompok Film Workers for Palestine pada Senin (9/9). Sejumlah tokoh papan atas Hollywood ikut menandatangani, antara lain Emma Stone, Ayo Edebiri, Ava DuVernay, Olivia Colman, Yorgos Lanthimos, Riz Ahmed, Rob Delaney, Javier Bardem, Tilda Swinton, hingga Cynthia Nixon.
Kelompok tersebut menyebut telah mengumpulkan lebih dari 3.000 tanda tangan dari pekerja industri film sejak ikrar diumumkan.
“Sebagai pembuat film, aktor, pekerja industri, dan institusi, kami menyadari kekuatan sinema dalam membentuk persepsi,” bunyi surat terbuka tersebut. “Di saat krisis mendesak ini, di mana banyak pemerintah mendukung pembantaian di Gaza, kami harus melakukan segala upaya untuk menghentikan keterlibatan dalam kengerian yang terus berlangsung.”
Inspirasi dari Gerakan Anti-Apartheid
Film Workers for Palestine, kelompok profesional film yang dibentuk pada awal 2024, mengatakan ikrar ini terinspirasi dari Filmmakers United Against Apartheid—gerakan internasional yang menolak menayangkan karya mereka di Afrika Selatan pada masa apartheid.
“Kami berjanji untuk tidak menayangkan film, tampil di, atau bekerja sama dengan institusi film Israel—termasuk festival, bioskop, penyiar, dan perusahaan produksi—yang terlibat dalam genosida dan apartheid terhadap rakyat Palestina,” mereka menegaskan dalam suratnya.
Namun, kelompok ini menegaskan bahwa boikot tidak berlaku untuk semua lembaga film Israel. Mereka meminta publik untuk mencari panduan dari masyarakat sipil Palestina guna membedakan institusi yang terlibat dan yang tidak.
Festival Film Israel Jadi Sorotan
Dalam pernyataan resminya, kelompok tersebut menyebut lembaga penyiaran publik maupun swasta Israel selama puluhan tahun terlibat dalam menutupi dan membenarkan kejahatan perang.
Festival film besar seperti Festival Film Yerusalem dan Festival Film Internasional Haifa juga dituding bermitra dengan pemerintah Israel meski dituding melakukan genosida di Gaza.
Festival Film Yerusalem sendiri belum memberikan tanggapan terkait seruan boikot tersebut.
Para penandatangan menekankan bahwa boikot ini ditujukan pada institusi, bukan individu.
“Seruan ini ditujukan kepada pekerja film agar menolak bekerja sama dengan institusi Israel yang terlibat dalam pelanggaran HAM terhadap rakyat Palestina. Ini menyasar kebijakan institusi, bukan identitas personal,” tulis pernyataan tersebut.
Respons Industri Film Israel
Boikot ini memicu respons keras dari industri film Israel. Tzvika Gottlieb, CEO Asosiasi Produser Film & TV Israel, menyebut langkah tersebut sebagai “seruan salah arah”.
“Kami adalah industri yang selama bertahun-tahun berjuang untuk mendorong diskusi. Kami bekerja sama dengan warga Palestina dan Israel untuk menceritakan kisah konflik dari berbagai perspektif,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa industri film Israel kerap bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah, bahkan vokal menentang tindakan pemerintahan saat ini. “Kami mendesak agar kekerasan dihentikan, penderitaan diakhiri, dan semua sandera segera dibebaskan,” katanya.
Dalam pernyataan resminya, asosiasi tersebut menilai boikot justru merugikan tujuan para penandatangan.
“Dengan menargetkan kami—para kreator yang menyuarakan beragam narasi dan mendorong dialog—para penandatangan boikot ini justru melemahkan pesan mereka sendiri,” tegas Gottlieb.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









