Fakta-fakta Seputar Pengunduran Diri PM Jepang Shigeru Ishiba

AKURAT.CO Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, mengumumkan pengunduran dirinya pada Minggu malam. Langkah ini diambil setelah tekanan dari dalam Partai Demokrat Liberal (LDP) semakin kuat menyusul kekalahan bersejarah partai tersebut dalam pemilu parlemen Juli lalu. Ishiba, yang baru menjabat sejak Oktober, juga menyatakan mundur sebagai ketua partai konservatif terbesar di Jepang.
Alasan Ishiba Memilih Waktu Mundur
Dalam konferensi pers, Ishiba menjelaskan bahwa ia sebenarnya sudah berniat mundur sejak partainya kalah di pemilu. Namun, ia menunggu hingga negosiasi tarif dengan Amerika Serikat mencapai kemajuan penting. Ia menilai mengundurkan diri terlalu cepat akan melemahkan posisi Jepang. Setelah Presiden AS Donald Trump menurunkan tarif mobil Jepang dari 25 persen menjadi 15 persen, Ishiba merasa waktunya tepat untuk menyerahkan jabatan.
Menghindari Perpecahan Internal Partai
Ishiba menyebut keputusannya sebagai pilihan yang menyakitkan. Ia khawatir bila pemungutan suara kepemimpinan dilakukan lebih awal, hal itu akan dianggap sebagai mosi tidak percaya dan memperdalam perpecahan dalam partai. Dengan mundur, ia berharap LDP dapat kembali bersatu dan fokus pada agenda politik nasional.
Tetap Menjabat Sementara hingga Pengganti Terpilih
Meski mundur, Ishiba akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara sampai partai memilih pemimpin baru yang kemudian disahkan oleh parlemen. Ia menegaskan tidak akan mencalonkan diri lagi, meski mengaku menyesal meninggalkan sejumlah agenda penting yang belum terselesaikan, seperti reformasi pertanian, kebijakan kenaikan gaji, dan penguatan pertahanan nasional.
Kekalahan Politik yang Mempercepat Kejatuhan
Kekalahan LDP di bawah kepemimpinan Ishiba menjadi faktor penentu. Pada Juli, koalisi yang dipimpinnya gagal mempertahankan mayoritas di majelis tinggi yang beranggotakan 248 kursi. Situasi ini menambah tekanan setelah LDP juga kehilangan mayoritas di majelis rendah, hanya dua pekan setelah Ishiba dilantik sebagai perdana menteri.
Tekanan dari Tokoh Senior Partai
Sejumlah tokoh konservatif berpengaruh, termasuk Taro Aso yang dikenal keras mengkritik Ishiba, mendorong agar pemilihan ketua dilakukan lebih cepat. Meskipun dukungan publik kepada Ishiba sempat naik, desakan mundur tetap tak terbendung setelah partai menyerukan “perombakan total” pasca-kekalahan.
Kandidat Pengganti Ishiba
Beberapa nama mulai mencuat sebagai calon pengganti Ishiba. Di antaranya Menteri Pertanian Shinjiro Koizumi, mantan Menteri Keamanan Ekonomi Sanae Takaichi yang dikenal ultra-konservatif, serta Kepala Sekretaris Kabinet Yoshimasa Hayashi, seorang moderat sekaligus anak didik mantan PM Fumio Kishida.
Tantangan bagi Pemimpin Baru Jepang
Siapapun yang menggantikan Ishiba akan menghadapi tantangan berat. Tanpa mayoritas di dua majelis, LDP harus menjalin kerja sama dengan oposisi untuk meloloskan undang-undang. Jika gagal, pemerintahan berikutnya akan selalu dihantui risiko mosi tidak percaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









