Pangeran Hisahito Jalani Upacara Kedewasaan, Momen Bersejarah Bagi Kekaisaran Jepang

AKURAT.CO Jepang menggelar upacara kedewasaan akbar untuk Pangeran Hisahito pada Sabtu (6/9/2025). Momen ini menjadi istimewa karena Hisahito adalah anggota keluarga kerajaan pria pertama yang mencapai usia dewasa dalam 40 tahun terakhir.
Upacara tradisional di Istana Kekaisaran Tokyo berlangsung khidmat sekaligus menjadi pengingat serius: monarki tertua di dunia ini tengah menghadapi masalah besar terkait kekurangan penerus takhta.
Pangeran Hisahito, Harapan Masa Depan Takhta Krisan
Pangeran Hisahito adalah cucu mantan Kaisar Akihito dan putra dari Putra Mahkota Fumihito serta Putri Mahkota Kiko. Kini ia berada di urutan kedua pewaris Takhta Krisan setelah pamannya, Kaisar Naruhito.
Namun, posisi Hisahito juga diwarnai dilema besar. Ia menjadi salah satu dari hanya lima pria dalam keluarga kekaisaran Jepang yang beranggotakan 16 orang. Jika ia kelak naik takhta, praktis tidak ada lagi penerus laki-laki yang tersisa karena aturan pewarisan saat ini hanya mengizinkan laki-laki untuk menjadi kaisar.
Aturan Suksesi Kekaisaran yang Kaku
Sejak Undang-Undang Keluarga Kekaisaran 1947 diberlakukan, pewarisan takhta di Jepang hanya berlaku bagi laki-laki. Peraturan itu juga menetapkan bahwa perempuan dari keluarga kekaisaran akan kehilangan statusnya bila menikah dengan rakyat biasa.
Kebijakan ini kian diperdebatkan karena menutup kemungkinan perempuan seperti Putri Aiko, putri Kaisar Naruhito, untuk menjadi penerus. Pemerintah Jepang yang konservatif tetap bersikeras mempertahankan sistem suksesi laki-laki, meskipun mulai terbuka pada wacana agar perempuan yang menikah bisa tetap mempertahankan status kerajaan demi menjaga jumlah anggota.
Rangkaian Ritual Kedewasaan
Dalam upacara Sabtu pagi, petugas istana melepas ikat kepala sutra hitam dari kepala Hisahito dan menggantinya dengan mahkota dewasa yang diberikan langsung oleh Kaisar Naruhito. Prosesi itu disaksikan oleh Permaisuri Masako serta orang tua sang pangeran.
Setelah itu, Hisahito mengenakan pakaian adat, menaiki kereta kenegaraan, dan menuju kuil istana untuk memberi penghormatan kepada leluhurnya. Ia juga dijadwalkan beraudiensi dengan Kaisar Naruhito di ruang kenegaraan Matsu no Ma, di mana ia akan dianugerahi Grand Cordon of the Supreme Order of the Chrysanthemum, penghargaan tertinggi Kekaisaran Jepang.
Rangkaian perayaan masih berlanjut hingga minggu depan, termasuk kunjungan ke Kuil Ise—tempat paling sakral bagi Shinto—serta makam Kaisar pertama Jinmu di Nara dan makam Kaisar Hirohito di Tokyo. Hisahito juga dijadwalkan makan siang resmi bersama Perdana Menteri Shigeru Ishiba dan para pejabat tinggi Jepang.
Minat dan Kehidupan Sang Pangeran
Di luar statusnya sebagai calon kaisar, Hisahito dikenal sebagai mahasiswa biologi tahun pertama di Universitas Tsukuba. Ia bahkan ikut menulis makalah akademis tentang survei serangga di lahan Istana Akasaka. Dalam konferensi pers perdananya Maret lalu, ia mengungkapkan ketertarikannya pada capung dan pelestarian serangga perkotaan.
Selain itu, Hisahito gemar menanam padi dan tomat di kompleks istana. Seperti anggota keluarga kerajaan lainnya, ia menjauh dari politik dan lebih banyak menekuni bidang sains, seni, serta budaya.
Tantangan Demografi Jepang dan Monarki
Hisahito lahir pada 6 September 2006 dan memiliki dua kakak perempuan, Putri Kako serta mantan Putri Mako yang kehilangan status kerajaan setelah menikah dengan rakyat biasa. Kasus ini menjadi cerminan nyata bagaimana aturan suksesi yang ketat semakin mempersempit jumlah anggota keluarga kekaisaran.
Masalah penerus laki-laki juga berkaitan erat dengan krisis demografi Jepang. Negara itu mencatat hampir satu juta lebih banyak kematian daripada kelahiran pada 2024, penurunan populasi terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1968.
Perdana Menteri Shigeru Ishiba menyebut kondisi ini sebagai “darurat yang tenang”, berjanji memperluas fasilitas penitipan anak gratis dan jam kerja fleksibel. Namun, tekanan demografi ini tetap menjadi ancaman bagi keberlangsungan sistem kekaisaran Jepang yang telah berusia lebih dari 1.500 tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









