Israel 2 Kali Bombardir Rumah Sakit Tewaskan 20 Orang, Netanyahu Sebut Kecelakaan Tragis

AKURAT.CO “Israel sangat menyesalkan kecelakaan tragis yang terjadi hari ini...” begitu bunyi pernyataan kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ironisnya, yang disebut sebagai “kecelakaan” itu adalah serangan udara ke sebuah rumah sakit di Jalur Gaza yang menewaskan sekitar 20 orang, termasuk lima jurnalis internasional.
Kronologi Dua Serangan di Rumah Sakit Nasser
Pada Senin (25/8), rudal pertama menghantam lantai atas Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, menewaskan sedikitnya dua orang, menurut laporan Kementerian Kesehatan Gaza. Belum sempat suasana tenang, serangan kedua kembali menghantam lokasi yang sama, tepat ketika ambulans dan jurnalis tiba untuk memberikan pertolongan. Pola serangan semacam ini dikenal sebagai “double tap strike”, atau serangan ganda, yang membuat jumlah korban semakin besar.
Di antara korban yang gugur terdapat lima jurnalis dari media internasional besar. Mereka berafiliasi dengan Reuters, The Associated Press (AP), Middle East Eye, dan Al Jazeera. Salah satunya adalah Mariam Dagga (33 tahun), jurnalis lepas visual yang bekerja untuk AP. Kantor berita tersebut menyatakan terkejut sekaligus sedih mendengar kabar kematiannya. Sementara itu, Reuters menyebut pihaknya hancur setelah kehilangan juru kamera kontrak mereka, Hussam al-Masri, yang tewas dalam serangan itu.
Apa Tanggapan Israel?
Menyikapi kecaman internasional, kantor Netanyahu menyampaikan bahwa Israel tidak berniat menargetkan warga sipil. Mereka menegaskan sedang melakukan penyelidikan internal dan menyebut tetap menghargai kerja keras para jurnalis, tenaga medis, serta warga sipil di Gaza.
Hal senada disampaikan juru bicara militer Israel, Effie Defrin, yang menegaskan penyelidikan telah dibuka. Namun, ia juga menuding bahwa Hamas menggunakan Rumah Sakit Nasser sebagai basis operasi, sehingga Israel berdalih serangan tersebut tidak sepenuhnya disengaja.
Serangan Mematikan terhadap Jurnalis
Insiden ini menambah panjang daftar jurnalis yang tewas di Gaza. Awal bulan ini, lima wartawan Al Jazeera juga menjadi korban serangan Israel di dekat Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza. Menurut data dari Committee to Protect Journalists (CPJ), hingga kini sedikitnya 197 jurnalis telah terbunuh sejak ofensif Israel dimulai. Angka tersebut menjadikan konflik ini sebagai yang paling mematikan bagi jurnalis dalam sejarah catatan CPJ.
Reaksi Dunia Internasional
Serangan terhadap Rumah Sakit Nasser memicu kecaman keras dari berbagai pemimpin dunia. Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai serangan itu “tidak dapat ditoleransi” dan meminta Israel untuk menghormati hukum internasional. Dari London, Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy menuliskan pernyataan di X bahwa serangan terhadap rumah sakit di Gaza sungguh mengerikan, terlebih karena korban yang jatuh adalah warga sipil, tenaga kesehatan, dan jurnalis. Ia menegaskan perlunya gencatan senjata segera.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan adanya investigasi yang cepat dan tidak memihak untuk mengusut serangan tersebut.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menunjukkan ketidaktahuannya ketika ditanya wartawan soal serangan itu di Ruang Oval. Awalnya ia bertanya balik, “Kapan ini terjadi?” Namun setelah didesak, Trump hanya memberikan jawaban singkat bahwa ia tidak senang dengan peristiwa tersebut dan berharap seluruh “mimpi buruk” di Gaza bisa segera berakhir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









