Israel Memulai Operasi Darat Kuasai Total Gaza

AKURAT.CO Militer Israel resmi memulai tahap awal operasi darat untuk merebut Kota Gaza, wilayah perkotaan terbesar yang selama ini menjadi benteng Hamas. Langkah ini dilakukan bersamaan dengan pembahasan rencana gencatan senjata baru, di tengah perang yang sudah berlangsung hampir dua tahun. Situasi ini menjauhkan lagi harapan kesepakatan damai.
Operasi Awal dan Klaim Keberhasilan
Brigadir Jenderal Effie Defrin, juru bicara militer Israel, mengatakan bahwa pasukan IDF telah menguasai pinggiran Kota Gaza. Ia menyebut Hamas kini berubah menjadi pasukan gerilya yang sudah “babak belur”. Defrin menegaskan, operasi akan dilanjutkan lebih dalam karena Kota Gaza dianggap sebagai pusat komando politik dan militer Hamas.
Pengumuman ini datang bersamaan dengan pemanggilan puluhan ribu pasukan cadangan. Menurut laporan Reuters, langkah tersebut menunjukkan bahwa Israel bertekad untuk terus maju meski kritik internasional semakin meningkat.
Sebelumnya, seorang pejabat militer Israel sempat menyatakan pasukan cadangan baru akan aktif pada September. Waktu tersebut dianggap sebagai ruang bagi mediator internasional untuk mencoba menjembatani kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Namun, bentrokan baru yang terjadi di Gaza membuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mempercepat jadwal operasi militer.
Reaksi Hamas
Menanggapi hal ini, Hamas mengeluarkan pernyataan melalui Telegram. Mereka menuduh Netanyahu sebagai pihak yang menghalangi perdamaian. Menurut Hamas, penolakan Netanyahu terhadap proposal mediator membuktikan bahwa ia adalah penghambat utama tercapainya kesepakatan.
Kondisi Terkini Jalur Gaza
Kabinet keamanan Israel pada bulan ini telah menyetujui rencana untuk memperluas operasi militer ke Kota Gaza. Militer Israel mengklaim bahwa sekitar 75 persen Jalur Gaza sudah berhasil dikuasai, hampir dua tahun setelah perang dimulai pada 7 Oktober 2023.
Konflik tersebut bermula ketika kelompok bersenjata pimpinan Hamas menyerang Israel selatan, menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 orang.
Sejak saat itu, lebih dari 62.000 warga Palestina tewas, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Namun, data korban ini tidak memisahkan antara warga sipil dan anggota militan.
Upaya Gencatan Senjata
Mediator internasional menyebut Hamas telah menyetujui proposal gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan ini mencakup pembebasan sebagian sandera yang tersisa dengan imbalan tahanan Palestina di penjara Israel.
Meski begitu, pemerintah Netanyahu masih menolak proposal tersebut. Israel bersikeras agar seluruh 50 sandera yang masih ditahan segera dibebaskan. Dari jumlah itu, pejabat Israel memperkirakan hanya 20 orang yang masih hidup.
"Pengabaian Netanyahu terhadap proposal mediator membuktikan bahwa ia adalah penghambat sejati dari setiap kesepakatan," kata Hamas.
Menghapus Palestina dari Tepi Barat
Israel sendiri memperlihatkan ambisi besarnya untuk terus mencaplok wilayah Palestina. Ini ditandai dengan pengumuman dari Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, yang berasal dari koalisi sayap kanan Netanyahu, bahwa telah dicapai persetujuan akhir proyek permukiman baru di Tepi Barat yang diduduki.
Keputusan ini memicu kecaman luas dari dunia internasional karena dianggap menghapus harapan terbentuknya negara Palestina di masa depan.
Tekanan dari Dunia Internasional
Sejumlah pemimpin dunia mendesak Israel untuk menghentikan serangan besar-besaran ke Kota Gaza. Mereka memperingatkan bahwa operasi ini berisiko menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.
Sebagai tanggapan, pejabat Israel mengatakan mereka akan membuka jalur aman bagi warga sipil yang ingin meninggalkan Gaza City sebelum operasi militer semakin masuk ke pusat kota.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









