Akurat

Pascakonflik, Suriah Ingin Belajar dari Indonesia Soal Kerukunan Umat Beragama

Atikah Umiyani | 3 Agustus 2025, 16:59 WIB
Pascakonflik, Suriah Ingin Belajar dari Indonesia Soal Kerukunan Umat Beragama

AKURAT.CO Pemerintah Suriah menyatakan keinginannya untuk belajar dari Indonesia dalam membangun kerukunan antarumat beragama dan menata kehidupan sosial pascakonflik.

Hal tersebut disampaikan Direktur Afro-Asia dan Oseania Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Suriah, Mohammed Zakaria Labadibi, saat bertemu Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.

“Suriah ingin belajar dari Indonesia dalam membangun kerukunan antar kelompok dan kekuatan kolektif,” ujar Zakaria, dikutip Minggu (3/8/2025).

Zakaria menyebut, pemerintahan baru Suriah tengah membangun sistem sosial dan politik yang inklusif, jauh dari sektarianisme yang mewarnai masa lalu. Pemerintahnya kini menjamin kebebasan beragama dalam bingkai persatuan nasional.

“Pemerintah baru Suriah berbeda dengan rezim sebelumnya. Tidak ada lagi perpecahan sektarian. Semua kelompok kini bersatu dalam satu pemerintahan yang menjunjung tinggi kesatuan nasional,” jelasnya.

Ia menilai keberhasilan Indonesia menjaga harmoni dalam kemajemukan sangat relevan untuk dijadikan contoh dalam membangun kembali negaranya.

Baca Juga: Peringatan Wapres Gibran: BSU untuk Biaya Hidup, Bukan untuk Judi Online!

Zakaria menegaskan, Suriah juga menolak ideologi ekstrem dan berkomitmen menjadikan semua kelompok sebagai pilar pembangunan bangsa.

“Suriah menolak ideologi garis keras dan menganggap semua kelompok penting dan setara dalam membangun bangsa,” tegasnya.

Ia juga menyebut pentingnya peran lembaga pendidikan Islam moderat seperti Markaz Syam dan Ma’had Fattah, yang akan terus dikembangkan untuk memperkuat pemahaman keagamaan yang damai.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut baik niat pemerintah Suriah untuk menjalin kerja sama, khususnya dalam bidang pendidikan dan pembangunan moderasi beragama.

Ia mengakui, banyak masyarakat Indonesia masih memiliki persepsi negatif terhadap Suriah akibat minimnya informasi akurat.

“Banyak yang menyamakan kondisi Suriah dengan Sudan, karena minim informasi yang jelas,” ujar Nasaruddin.

Ia juga mengingat kembali masa-masa saat mahasiswa Indonesia rutin belajar di Suriah sebelum konflik berkecamuk. Kini, pengiriman mahasiswa terpaksa dihentikan karena alasan keamanan.

“Dulu banyak mahasiswa Indonesia belajar di Suriah. Tapi kini, karena kekhawatiran orang tua akan keselamatan anak-anak mereka, pengiriman itu kami hentikan,” tuturnya.

Menag berharap kondisi Suriah segera pulih dan kembali menjadi pusat keilmuan Islam dunia. Ia menyambut positif ajakan pihak Suriah untuk berkunjung ke Damaskus dalam waktu dekat.

“Insya Allah kami akan berkunjung dan berdiskusi lebih dalam lagi,” pungkasnya.

Baca Juga: Resep Makanan Prismatic di Cooking Event Grow A Garden: Cek di Sini!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.