Pascakonflik, Suriah Ingin Belajar dari Indonesia Soal Kerukunan Umat Beragama

AKURAT.CO Pemerintah Suriah menyatakan keinginannya untuk belajar dari Indonesia dalam membangun kerukunan antarumat beragama dan menata kehidupan sosial pascakonflik.
Hal tersebut disampaikan Direktur Afro-Asia dan Oseania Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Suriah, Mohammed Zakaria Labadibi, saat bertemu Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.
“Suriah ingin belajar dari Indonesia dalam membangun kerukunan antar kelompok dan kekuatan kolektif,” ujar Zakaria, dikutip Minggu (3/8/2025).
Zakaria menyebut, pemerintahan baru Suriah tengah membangun sistem sosial dan politik yang inklusif, jauh dari sektarianisme yang mewarnai masa lalu. Pemerintahnya kini menjamin kebebasan beragama dalam bingkai persatuan nasional.
“Pemerintah baru Suriah berbeda dengan rezim sebelumnya. Tidak ada lagi perpecahan sektarian. Semua kelompok kini bersatu dalam satu pemerintahan yang menjunjung tinggi kesatuan nasional,” jelasnya.
Ia menilai keberhasilan Indonesia menjaga harmoni dalam kemajemukan sangat relevan untuk dijadikan contoh dalam membangun kembali negaranya.
Baca Juga: Peringatan Wapres Gibran: BSU untuk Biaya Hidup, Bukan untuk Judi Online!
Zakaria menegaskan, Suriah juga menolak ideologi ekstrem dan berkomitmen menjadikan semua kelompok sebagai pilar pembangunan bangsa.
“Suriah menolak ideologi garis keras dan menganggap semua kelompok penting dan setara dalam membangun bangsa,” tegasnya.
Ia juga menyebut pentingnya peran lembaga pendidikan Islam moderat seperti Markaz Syam dan Ma’had Fattah, yang akan terus dikembangkan untuk memperkuat pemahaman keagamaan yang damai.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut baik niat pemerintah Suriah untuk menjalin kerja sama, khususnya dalam bidang pendidikan dan pembangunan moderasi beragama.
Ia mengakui, banyak masyarakat Indonesia masih memiliki persepsi negatif terhadap Suriah akibat minimnya informasi akurat.
“Banyak yang menyamakan kondisi Suriah dengan Sudan, karena minim informasi yang jelas,” ujar Nasaruddin.
Ia juga mengingat kembali masa-masa saat mahasiswa Indonesia rutin belajar di Suriah sebelum konflik berkecamuk. Kini, pengiriman mahasiswa terpaksa dihentikan karena alasan keamanan.
“Dulu banyak mahasiswa Indonesia belajar di Suriah. Tapi kini, karena kekhawatiran orang tua akan keselamatan anak-anak mereka, pengiriman itu kami hentikan,” tuturnya.
Menag berharap kondisi Suriah segera pulih dan kembali menjadi pusat keilmuan Islam dunia. Ia menyambut positif ajakan pihak Suriah untuk berkunjung ke Damaskus dalam waktu dekat.
“Insya Allah kami akan berkunjung dan berdiskusi lebih dalam lagi,” pungkasnya.
Baca Juga: Resep Makanan Prismatic di Cooking Event Grow A Garden: Cek di Sini!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








