Thailand dan Kamboja Gelar Perundingan Damai, Trump Desak Penyelesaian Segera

AKURAT.CO Perundingan damai antara Thailand dan Kamboja akhirnya digelar di Malaysia pada Senin (28/7/2025).
Hal ini menyusul peringatan keras dari Donald Trump pada Sabtu lalu yang mengancam untuk menghentikan kesepakatan perdagangan kedua negara jika pertempuran tidak dihentikan.
Trump menyatakan keyakinannya bahwa kedua negara ingin menyelesaikan perbedaan mereka.
Pertemuan tersebut diharapkan dapat mengakhiri konflik mematikan yang telah berlangsung selama lima hari dan merenggut lebih dari 35 nyawa, serta menyebabkan lebih dari 270.000 orang mengungsi.
Baca Juga: Perang Thailand - Kamboja, Apa Pengaruhnya bagi Indonesia?
Bentrokan tersebut telah menimbulkan kerugian besar di kedua belah pihak dengan banyaknya korban tewas dan kerusakan yang ditimbulkan.
Pertempuran tersebut yang dimulai pada Kamis lalu melibatkan ledakan ranjau darat yang melukai tentara Thailand dan memicu eskalasi ketegangan.
Pada hari yang sama, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat tidak akan melanjutkan negosiasi kesepakatan perdagangan dengan Thailand atau Kamboja kecuali jika pertempuran dihentikan.
Pada 1 Agustus, kedua negara tersebut akan menghadapi tarif impor AS yang mencapai 36%.
Dalam upaya untuk meredakan ketegangan, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengungkapkan bahwa pejabat Kementerian Luar Negeri AS hadir di Malaysia untuk mendukung proses perdamaian.
Sementara itu, Tiongkok, sekutu dekat Kamboja, menyatakan dukungannya untuk mempromosikan dialog dan berperan aktif dalam mendukung de-eskalasi konflik.
Malaysia yang saat ini menjabat sebagai ketua ASEAN, juga menyatakan keprihatinannya atas pertempuran ini dan menyerukan agar kedua pihak menghentikan kekerasan.
Thailand dan Kamboja sendiri telah lama terlibat sengketa wilayah di perbatasan, namun pertempuran kali ini semakin memburuk setelah insiden ranjau darat yang melukai tentara Thailand.
Dalam eskalasi terbaru, kedua negara menarik duta besar mereka, dan Thailand bahkan menutup perlintasan perbatasannya.
Sementara itu, pejabat Thailand dan Kamboja saling menyalahkan atas pertempuran yang terus berlanjut hingga Senin pagi.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, menyebutkan bahwa Thailand telah menginvasi wilayah Kamboja dengan senjata berat.
Di sisi lain, pejabat Thailand menyatakan bahwa Kamboja perlu menunjukkan niat baik dalam penyelesaian masalah ini.
Bentrokan yang terjadi telah menyebabkan lebih dari 139.000 orang di Thailand dan 134.000 orang di Kamboja mengungsi, dengan banyak fasilitas umum yang terpaksa ditutup.
Di tengah meningkatnya ketegangan ini, perayaan ulang tahun Raja Thailand yang ke-73 juga dibatalkan karena pertempuran yang sedang berlangsung.
Selain itu, sentimen nasionalisme yang semakin menguat di kedua negara telah menyebabkan ketegangan antara warga Thailand dan migran Kamboja yang tinggal di sana.
Salah satu faktor yang memperumit konflik ini adalah perseteruan politik antara dua tokoh penting di kedua negara, Hun Sen dari Kamboja dan Thaksin Shinawatra dari Thailand.
Hubungan antara kedua tokoh ini semakin memburuk setelah kebocoran rekaman telepon yang memicu kemarahan, memperburuk ketegangan politik yang sudah ada. Hal ini menambah kompleksitas dari konflik yang sudah melibatkan pertikaian wilayah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









