Akurat

Profil Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Diancam Pembunuhan oleh Zionis Israel

Fajar Rizky Ramadhan | 17 Juni 2025, 14:00 WIB
Profil Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Diancam Pembunuhan oleh Zionis Israel

AKURAT.CO Nama Ayatullah Ali Khamenei kembali menjadi sorotan dunia setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terang-terangan mengancam akan mengakhiri perang dengan Iran jika Khamenei terbunuh. Pernyataan ini memantik kekhawatiran akan eskalasi besar dalam konflik di Timur Tengah.

Ali Khamenei bukanlah sosok biasa dalam sejarah politik dan keagamaan Iran. Ia adalah pemimpin tertinggi Republik Islam Iran sejak wafatnya Imam Khomeini, dan dikenal sebagai penjaga ideologi Revolusi Islam yang mewarnai wajah politik Iran sejak 1979.

Latar Belakang dan Pendidikan

Lahir di kota suci Mashhad pada 19 April 1939, Ali Khamenei tumbuh dalam keluarga sederhana yang religius. Ayahnya, Sayyid Javad Khamenei, adalah seorang ulama miskin yang membesarkan anak-anaknya dengan nilai kesederhanaan dan keilmuan.

Sejak kecil, Khamenei menempuh pendidikan agama di maktab, sekolah dasar tradisional yang mengajarkan Al-Qur'an dan dasar-dasar Islam. Ia kemudian melanjutkan studi ke berbagai sekolah agama ternama di Mashhad, termasuk di bawah bimbingan ayahnya dan para ulama besar seperti Ayatullah Milani.

Baca Juga: Netanyahu Ancam Bunuh Ali Khamenei, Iran Janji Gempur Israel Tanpa Henti!

Aktivisme Revolusioner

Semangat revolusioner Khamenei muncul sejak usia 13 tahun setelah terinspirasi dari pidato ulama Nawwab Safavi yang lantang menentang rezim Shah Iran. Sejak 1962, ia bergabung dalam gerakan anti-Shah yang dipimpin Ayatullah Khomeini. Khamenei mengalami penangkapan, pengasingan, dan larangan berdakwah akibat keterlibatannya dalam gerakan tersebut.

Namun, justru dari berbagai tekanan itu, sosoknya semakin diperhitungkan dalam barisan revolusioner. Ia dipercaya membawa pesan-pesan rahasia antarulama dan menjadi penghubung penting dalam jaringan perlawanan terhadap rezim Pahlavi.

Peran Politik Pasca-Revolusi

Setelah Revolusi Islam berhasil menumbangkan rezim Shah pada 1979, Khamenei menduduki sejumlah jabatan strategis, seperti:

  • Anggota Dewan Revolusi Islam

  • Imam Salat Jumat di Teheran

  • Wakil Menteri Pertahanan

  • Presiden Iran (dua periode)

  • Ketua Dewan Kebudayaan Revolusi

  • Wakil Imam Khomeini di Dewan Pertahanan Tinggi

Hingga akhirnya, pada 1989, ia diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, menggantikan posisi Imam Khomeini.

Penjaga Revolusi dan Simbol Perlawanan

Sebagai pemimpin tertinggi, Khamenei bukan hanya simbol keagamaan, tetapi juga penentu arah kebijakan strategis Iran, termasuk urusan militer dan kebijakan luar negeri. Ia menjadi figur sentral dalam mempertahankan semangat anti-Zionisme dan menolak intervensi Barat terhadap kedaulatan negara-negara Muslim.

Baca Juga: Malu tak Mau Dilihat Lemah oleh Dunia, Israel Blokir Media-media Besar di Tengah Balasan Iran

Seruannya terhadap solidaritas dunia Islam dan pembebasan Palestina menjadikannya musuh ideologis utama bagi Israel. Maka tak heran jika namanya masuk dalam daftar target dalam rencana serangan, seperti yang terungkap dalam laporan AP bahwa Donald Trump pernah memveto rencana Israel untuk membunuh Khamenei.

Warisan Pemikiran

Di luar perannya sebagai pemimpin politik, Ayatullah Ali Khamenei juga dikenal sebagai intelektual produktif. Ia telah menulis berbagai buku dan koleksi pidato tentang tema-tema seperti tafsir Al-Qur'an, persatuan umat Islam, perjuangan para Imam Syiah, dan tantangan dunia modern terhadap nilai-nilai Islam.

Dalamkonteks geopolitik hari ini, Khamenei bukan hanya pemimpin Iran, tetapi juga ikon perlawanan terhadap dominasi global Barat.

Ancaman pembunuhan terhadap dirinya bukan sekadar ancaman terhadap satu orang, tetapi simbol serangan terhadap ideologi dan arah perjuangan yang ia representasikan. Dunia kini menanti: akankah krisis ini membawa pada konfrontasi terbuka, atau masih ada ruang bagi diplomasi yang rasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.