Mengapa Hamas Tolak Hadiri Pembicaraan Kesepakatan Gencatan Senjata dan Pembebasan Sandera pada Kamis?

AKURAT.CO Hamas mengumumkan bahwa mereka tidak akan menghadiri pembicaraan penting pada Kamis mendatang yang diharapkan dapat mencapai kesepakatan akhir mengenai gencatan senjata dan pembebasan 115 sandera yang ditahan di Gaza.
Meskipun begitu, Presiden AS Joe Biden menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan tersebut masih mungkin tercapai, dengan pembicaraan akan dilanjutkan antara Israel, AS, Qatar, dan Mesir.
Biden menekankan bahwa rencana yang telah didukung oleh G7 dan Dewan Keamanan PBB ini masih berlaku, dan ia bersama timnya bekerja setiap hari untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang bisa memicu perang regional.
Baca Juga: Pemimpin Barat Bersatu Serukan Penahanan Diri Iran, Risiko Perang Regional Menghantui
Namun, Hamas menyatakan bahwa mereka tidak akan mengirim delegasi ke pembicaraan tersebut dan menginginkan mediator untuk melaksanakan kesepakatan yang telah disetujui pada Juli 2024.
Mereka menuduh Israel menggunakan pembicaraan baru ini sebagai alasan untuk melanjutkan agresi terhadap rakyat Palestina.
Kesepakatan ini diharapkan dapat membebaskan 115 sandera yang ditahan oleh Hamas dan kelompok teroris lainnya di Gaza, serta mengakhiri konflik di wilayah tersebut.
Sementara itu, sumber keamanan Israel mengungkapkan optimisme hati-hati bahwa kesepakatan dapat diselesaikan pada pembicaraan Kamis nanti dan diterapkan dalam beberapa hari berikutnya, meskipun Hamas telah mengindikasikan ketidakhadiran mereka.
Meskipun adanya ketegangan dan ketidakpercayaan antara Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan tim negosiasinya, beberapa pihak tetap berharap bahwa kesepakatan dapat dicapai.
Salah satu isu utama yang masih menjadi perdebatan adalah pengaturan keamanan di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir, yang dianggap krusial untuk mencegah Hamas memperkuat kemampuan militer mereka.
Baca Juga: Iran Siap Balas Israel, AS Kerahkan Kapal Selam Bertenaga Nuklir ke Timur Tengah
Kesepakatan yang diusulkan ini merupakan salah satu dari sedikit peluang yang tersisa untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung selama lebih dari 10 bulan.
Jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan, mungkin tidak akan ada peluang lain dalam waktu dekat untuk mencapai perdamaian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 3ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 4Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 5Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 6Persija Terpaksa Jamu Java United di Bali, Terancam Pengurangan Poin Jika 4 Kali Musafir
- 7Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 8Prediksi Skor Sunderland vs AZ Alkmaar 17 September 2026: The Black Cats Bisa Tahan Tim Belanda?
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag






