Akurat

Dokter Forensik Ungkap Kemudahan Mendapatkan Sianida di Thailand

Rahmat Ghafur | 19 Juli 2024, 18:29 WIB
Dokter Forensik Ungkap Kemudahan Mendapatkan Sianida di Thailand

AKURAT.CO Kemudahan memdapatkan sianida dan kepercayaan kepada orang yang salah diyakini menjadi faktor di balik tren pembunuhan akibat keracunan makanan yang mengkhawatirkan di Thailand.

Hal ini diungkapkan oleh seorang dokter forensik yang tidak disebutkan namanya pada Kamis (18/7/2024) kemarin.

Penggunaan sianida baru-baru ini menjadi sorotan dalam dua kasus di Thailand. Pertama, dalam kasus Sararat "Am" Rangsiwuthaporn, seorang pembunuh berantai yang menggunakan sianida untuk membunuh hingga 14 orang pada tahun 2023.

Baca Juga: Viral! Remaja di Pacitan Tewas Usai Minum Kopi Sianida, Pelaku Ternyata Tetangga Sendiri

Kedua, dalam kasus enam orang yang ditemukan tewas di Hotel Grand Hyatt Erawan, Bangkok, pada malam tanggal 16 Juli. Otopsi menunjukkan bahwa mereka diracuni dengan sianida.

Dalam kedua kasus tersebut, sianida diduga diberikan kepada korban melalui makanan atau minuman. Jejak bahan kimia tersebut ditemukan dalam cangkir teh dalam kasus terbaru.

Meskipun sianida dikategorikan sebagai bahan kimia terlarang di Thailand, orang masih dapat membelinya dengan mudah untuk keperluan seperti mengusir ular dan biawak.

Dokter forensik tersebut menjelaskan bahwa sianida mudah ditemukan di berbagai produk sehari-hari, bahkan dijual di toko alat tulis.

“Sianida sintetis memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari,” katanya, dikutip dari straitstimes, Jumat (19/7/2024).

Ia juga menambahkan bahwa jejak sianida dapat dengan mudah dideteksi selama otopsi, dan dalam kasus terbaru, para korban kemungkinan besar diberi teh yang dicampur sianida.

Faktor lain yang dikhawatirkan adalah kepercayaan. Orang cenderung lebih mudah menerima makanan dari orang yang mereka kenal, sehingga memudahkan para pelaku untuk meracuni korban mereka.

"Kami tidak akan makan makanan yang ditawarkan oleh orang asing, tetapi akan selalu menerimanya dari orang yang kami kenal. Jadi, kepercayaan memegang peranan penting dalam keracunan makanan," katanya.

Keberadaan sianida yang mudah diakses dan kepercayaan kepada orang yang salah menjadi kombinasi berbahaya yang memicu kekhawatiran akan tren pembunuhan berantai melalui keracunan makanan di Thailand.

Baca Juga: Tanggapi Kasus Kopi Sianida, Kejagung Bilang Begini: Saya Nyatakan...

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
D