Eropa Bergabung dengan Amerika Serikat, Desak Israel Menahan Diri Terhadap Serangan Iran

AKURAT.CO Sekutu Israel di Eropa pada mendesak negara tersebut untuk menahan diri atas serangan rudal dan tak berawak Iran pada akhir pekan kemarin.
Uni Eropa juga menyerukan para pemimpin Israel untuk menjauh dari tepi jurang eskalasi di Timur Tengah.
"Kita berada di tepi jurang dan kita harus menjauh dari situ. Kita harus menginjak rem dan gigi mundur," kata Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, pada Senin (15/4/2024).
Baca Juga: Wajib Tahu Deretan Fakta Serangan Iran ke Israel, Salah Satunya Gunakan 300 Lebih Drone dan Rudal
Dengan adanya bahaya perang terbuka antara Israel dan Iran serta tingginya ketengangan akibat konflik di Gaza, Presiden Joe Biden mengatakan kepada Netanyahu bahwa Amerika Serikat tidak akan berpartisipasi dalam serangan balasan Israel terhadap Iran.
Kepala kebijakan luar negeri Inggris, Prancis, Jerman dan Uni Eropa semuanya lantas bergabung dengan AS dan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres dalam menyerukan pengendalian diri Israel.
Bahkan, Presiden Prancis, Emmanuel Macron mendesak Israel untuk mengisolasi Iran daripada memperburuk situasi.
Baca Juga: Menahan Diri, Amerika Serikat Pilih Tidak Ambil Bagian dalam Serangan Balasan Israel Terhadap Iran
Kanselir Jerman, Olaf Scholz juga memperingatkan Iran untuk tidak melakukan serangan lagi dan mengatakan Israel harus berkontribusi dalam deeskalasi.
Sekutu Iran, Rusia, menahan diri untuk mengkritik serangan tersebut di depan umum. Namun menyatakan kekhawatirannya mengenai resiko eskalasi dan juga menyerukan penahanan diri.
"Eskalasi lebih lanjut bukanlah kepentingan siapapun," kata Juru Bicara Rusia, Kremlin Dmitry Peskov.
Seperti diketahui, Iran melancarkan serangan ke Israel atas dugaan pembalasan atas serangan di kompleks kedutaan besarnya di Suriah pada 1 April yang menewaskan tujuh petugas Garda Revolusi Iran termasuk dua komandan senior mereka.
Baca Juga: Serangan Iran ke Israel: Pertimbangan Politik, Militer, Ekonomi hingga Tanggapan Internasional
Serangan terjadi setelah berbulan-bulan bentrokan antara Israel dan sekutu regional Iran yang dipicu oleh perang Gaza, menyebar ke front dengan kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran di Lebanon, Suriah, Yaman dan Irak.
Serangan pada Sabtu dan Minggu pekan lalu melibatkan lebih dari 300 rudal dan drone, hanya menyebabkan kerusakan ringan di Israel sebab dapat ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Iron Dome Israel juga dengan bantuan dari AS, Inggris, Prancis dan Yordania.
Satu-satunya cedera serius yang dilaporkan Israel adalah seorang anak berusia tujuh tajun yang terkena pecahan peluru.
Serangan Iran ke Israel membuat saham-saham Asia melemah dan harga emas naik pada hari ini karena sentimen risiko terpukul, namun harga minyak turun dan syikal Israel naik terhadap dolar.
Baca Juga: Iran: Tidak Ada Kesepakatan dengan Negara Manapun Sebelum Serangan Balasan ke Israel
Serangan tersebut juga menyebabkan gangguan perjalanan dengan setidaknya selusin maskapai penerbangan membatalkan atau mengubah rute penerbangan mereka, regulator penerbangan Eropa menegaskan kembali saran kepada maskapai penerbangan untuk berhati-hati di wilayah udara Israel dan Iran.
Menanggapi serangan yang terjadi, dua menteri senior Israel telah memberi isyarat bahwa pembalasan tidak akan terjadi dan Israel tidak akan bertindak sendiri.
Saat ini Israel masih dalam kondisi siaga tinggi, namun pihak berwenang telah mencabut beberapa tindakan darurat termasuk larangan beberapa kegiatan sekolah dan pembatasan pertemuan besar.
Baca Juga: Ada Konflik Iran-Israel, Pemerintah Pastikan Harga BBM Tak Berubah hingga Juni 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








