Akurat

Gempa Hebat di Jepang Tanpa Menyebabkan Kerusakan Berat, Ini Penjelasannya

Jackobus Jack Newa | 2 Januari 2024, 13:08 WIB
Gempa Hebat di Jepang Tanpa Menyebabkan Kerusakan Berat, Ini Penjelasannya

AKURAT.CO Jepang, dikenal dengan sejarahnya yang sering diguncang oleh gempa bumi dahsyat, baru-baru ini kembali digetarkan oleh gempa berkekuatan besar.

Diketahui, gempa dengan kekuatan 7,4 magnitudo melanda wilayah Noto di prefektur Ishikawa sekitar pukul 16.10 waktu setempat (14.10 WIB), Senin (1/1/2023).

Meskipun kekuatannya signifikan, dampak yang ditimbulkan ternyata minim dan kerusakan yang terjadi jauh dari yang diperkirakan.

Karena seringnya terjadi gempa bumi, perumahan di Jepang dirancang secara khusus untuk bertahan dan mengatasi dampak bencana tersebut.

Baca Juga: Apa Itu Ring of Fire, Yang Bikin Jepang dan Indonesia Rawan Gempa Bumi

Hal ini merupakan faktor utama yang menyebabkan kerugian material yang terjadi tidak begitu besar saat terjadi gempa di Jepang.

Pemerintah Jepang telah membuat undang-undang khusus yang mengatur persyaratan pembangunan rumah dan bangunan lainnya agar memenuhi standar ketahanan terhadap gempa bumi.

Di Tokyo, hampir 87 persen bangunan, termasuk pencakar langit, dilaporkan memiliki kemampuan untuk menahan gempa bumi

Berdasarkan video gempa yang tersebar di media sosial, terlihat sebagian jalan raya di Jepang mengalami keruntuhan.

Baca Juga: Penyulut Amarah Warga Papua Diamankan, Terancam 6 Tahun Penjara

Sebagian tanah di jalan tersebut terlihat ambruk, membentuk retakan dangkal yang menyebabkan jalan terbagi. Meskipun beberapa rumah tampak roboh, jumlahnya tidak begitu banyak.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan, bagaimana Jepang mampu menghadapi gempa dengan begitu efektif tanpa kerusakan besar?

Dikutip dari situs resmi Universitas Tokyo, ada tiga prinsip dalam konstruksi bangunan di Jepang untuk meningkatkan ketahanan terhadap gempa bumi.

Ini melibatkan sistem struktural yang anti-gempa, sistem redaman, dan struktur isolasi seismik.

Prinsip anti-gempa berfokus pada elemen-elemen yang memberikan kekuatan pada bangunan agar mampu mengatasi guncangan gempa.

Pertimbangan mendalam dilakukan untuk meningkatkan ketahanan terhadap deformasi, yang merupakan perubahan bentuk atau ukuran bangunan, dengan tujuan untuk mencegah kerusakan yang fatal.

Sementara itu, struktur bangunan yang dilengkapi dengan sistem redaman didesain untuk menyerap energi seismik melalui deformasi yang signifikan.

Penggunaan bahan viskoelastik yang memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap energi menjadi kunci utama untuk memastikan penyerapan yang efisien.

Dalam konteks struktur isolasi seismik, lapisan isolasi ditempatkan di antara tanah dan struktur bangunan untuk mengurangi efek pergerakan tanah.

Baca Juga: Sindir Jokowi, Deddy Sitorus: Tidak Peduli Apapun yang Penting Tetap Berkuasa

Bantalan atau peredam kejut yang umumnya berupa blok karet dengan ketebalan tertentu diposisikan sebagai lapisan ini.

Kolom bangunan ditempatkan di atas bantalan karet ini saat mereka menurun ke fondasi.

Keberadaan peredam gerakan ini memungkinkan bangunan tinggi untuk menahan guncangan dari gempa.

Di sisi lain, mengacu pada situs American Society of Mechanical Engineers (ASME), mereka menekankan bahwa gempa bumi bukanlah penyebab langsung kematian manusia.

Namun, rumah-rumah yang tidak tahan terhadap gempa lah yang sering menyebabkan korban jiwa.

Baca Juga: Tayang di Netflix 12 Januari, Intip Pemeran dan Sinopsis Film Lift Bergenre Komedi Aksi

Jepang telah berhasil meminimalkan kerusakan dan kerugian akibat gempa bumi, meskipun sering kali dihadapkan pada guncangan hebat.

Hal ini menjadi contoh bagaimana persiapan dan respons yang baik dapat mengurangi dampak dari bencana alam yang mematikan seperti gempa bumi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.