Akurat Logo

Kim Jong Un Tiba Di Rusia Di Tengah Peringatan AS Untuk Tidak Menjual Senjata

Sulthony Hasanuddin | 12 September 2023, 11:28 WIB
Kim Jong Un Tiba Di Rusia Di Tengah Peringatan AS Untuk Tidak Menjual Senjata

AKURAT.CO Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, tiba di Rusia untuk apa yang dikatakan akan menjadi diskusi komprehensif dengan Presiden Vladimir Putin, dilaporkan pada Selasa (12/9/2023).

Kedatangan Kim Jong Un terjadi di tengah-tengah peringatan dari Amerika Serikat bahwa negara tersebut tidak boleh menyetujui kesepakatan senjata dengan Rusia.

Kim Jon Un meninggalkan Pyongyang menuju Rusia pada Minggu (10/9/2023) dengan menggunakan kereta pribadi dan didampingi para pejabat tinggi industri persenjataan dan militer serta menteri luar negeri.

Dilaporkan bahwa kereta yang membawa Kim Jong Un telah tiba di Stasiun Khasan, pintu gerbang kereta api utama ke Timur Jauh Rusia dari Korea Utara.

Laporan tersebut diyakinkan dengan juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan yang mengatakan bahwa pihaknya yakin Kim Jong Un memasuki Rusia pada Selasa pagi.

Padahal, pemimpin Korea Utara tersebut diketahui jarang bepergian ke luar negeri, Kim Jong Un hanya melakukan tujuh perjalanan ke luar negaranya dan dua kali melintasi perbatasan antar-Korea selama 12 tahun berkuasa yang empat dari perjalanan tersebut dilakukan ke Tiongkok, sekutu politik utama Korea Utara.

"Ini akan menjadi kunjungan yang lengkap," kata Juru Bicara Rusia, Kremlin Dmitry Peskov.

Menurut Kremlin, dalam kunjungan itu akan ada negosiasi antara dua delegasi dan setelahnya para pemimpin akan melanjutkan komunikasi mereka dengan format empat mata.

Di sisi lain, para pejabat AS mengatakan bahwa pembicaraan senjata antara Rusia dan Korea Utara secara aktif mengalami kemajuan dan bahwa Kim Jong Un dan Putin kemungkinan besar akan mendiskusikan penyediaan senjata bagi Rusia untuk perang di Ukraina.

Putin sendiri tiba di Vladivostok pada Senin dan dijadwalkan untuk menghadiri sesi pleno Forum Ekonomi Timur yang berlangsung hingga hari Rabu.

Dilaporkan bahwa pertemuan Putin dengan Kim Jong Un akan dilakukan setelah forum tersebut dan tidak ada konferensi pers yang direncanakan oleh para pemimpin.

Hal tersebut lantas akan menjadi pertemuan puncak kedua mereka, setelah sebelumnya bertemu pada tahun 2019 dalam perjalanan terakhirnya ke luar negeri.

Hingga saat ini belum ada konfirmasi mengenai lokasi pertemuan atau apakah Kim Jong Un akan menghadiri forum ekonomi tersebut.

AS dan sekutu-sekutunya telah menyuarakan keprihatinan mereka atas tanda-tanda kerja sama militer yang lebih erat antara Rusia dan Korea Utara yang bersenjata nuklir.

Namun pejabat kedua negara membantah bahwa Korea Utara akan memasok senjata ke Rusia atau negara yang telah menghabiskan banyak sekali persediaan senjata selama lebih dari 18 bulan perang.

Delegasi Kim Jong Un Menjelaskan Situasi yang Terjadi

Delegasi yang dibawa Korea Utara untuk berkunjung ke Rusia termasuk anggota terkemuka partai yang menangani industri pertahanan dan urusan militer atau Direktur Departemen Industri Amunisi, Jo Chun Ryong.

Seorang analis mengatakan bahwa hal tersebut menunjukkan kunjungan itu akan fokus pada kerja sama industri pertahanan.

"Kehadiran Jo Chun Ryong mengindikasikan bahwa Korea Utara dan Rusia akan membuat semacam kesepakatan untuk pembelian amunisi," kata Michael Madden, ahli kepemimpinan Korea Utara di Stimson Center yang berbasis di Washington.

Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Chang Ho-jin, mengatakan bahwa akan menjadi kepentingan Rusia untuk mempertimbangkan posisi internasionalnya setelah konflik dengan Ukraina dan mengingat bahwa hal itu membantu membentuk rezim nonproliferasi saat ini.

"Kerja sama militer akan melanggar resolusi Dewan Keamanan, apapun yang dilakukan (Rusia) dengan Korea Utara," katanya.

Pada Senin, AS memperbarui peringatannya kepada Korea Utara untuk tidak menjual senjata kepada Rusia yang dapat digunakan dalam perang Ukraina.

Tidak hanya itu, mereka juga mendesak Korea Utara untuk mematuhi janjinya untuk tidak menyediakan atau menjual senjata kepada Rusia.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa setiap transfer senjata dari Korea Utara ke Rusia akan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB, yang melarang transaksi senjata dengan Korea Utara.

"Kami, tentu saja, telah secara agresif menegakkan sanksi-sanksi kami terhadap entitas-entitas yang mendanai upaya perang Rusia dan tidak akan ragu-ragu untuk menjatuhkan sanksi-sanksi baru secara tepat," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller.

Korea Utara merupakan salah satu dari sedikit negara yang secara terbuka mendukung Rusia sejak invasi ke Ukraina tahun lalu, dan Putin berjanji pada minggu lalu untuk memperluas hubungan bilateral dalam segala hal dengan cara yang terencana dengan menyatukan upaya.

Dalam sebuah acara publik, Kim Jong Un secara terang-terangan memberikan tur pribadi ke pameran senjata untuk Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, ketika dia mengunjungi Pyongyang pada bulan Juli.

Diperlihatkan juga mereka berdiri bersama untuk menyaksikan parade militer yang menampilkan rudal balistik yang dilarang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.