Akurat

Krisis Tenaga Kerja Global, Negara-negara Ini Buka Peluang Besar bagi Pekerja Asing

Eko Krisyanto | 17 Januari 2026, 23:59 WIB
Krisis Tenaga Kerja Global, Negara-negara Ini Buka Peluang Besar bagi Pekerja Asing

AKURAT.CO Banyak negara di dunia kini menghadapi krisis tenaga kerja serius akibat menurunnya angka kelahiran dan meningkatnya populasi usia lanjut.

Kondisi tersebut memaksa pemerintah di berbagai negara membuka peluang kerja seluas-luasnya bagi tenaga asing untuk menjaga keberlangsungan sektor-sektor vital.

Jepang, misalnya, pada 2024 membuka lebih dari 2,3 juta lowongan kerja bagi pekerja asing, terutama di sektor kesehatan, teknologi, dan manufaktur.

Sementara di Eropa, kebutuhan tenaga kerja juga melonjak tajam.

Jermanmencatat lebih dari 1 juta lowongan pekerjaan, dengan proyeksi penerbitan lebih dari 220.000 visa kerja pada 2025.

Italia pun mengambil langkah serupa dengan merencanakan penerbitan 165.000 visa kerja baru pada 2025, terutama untuk sektor pertanian dan perhotelan.

Bagi Anda yang tengah mempertimbangkan bekerja di luar negeri, berikut daftar negara yang saat ini paling membutuhkan tenaga kerja asing.

Negara-Negara dengan Kekurangan Tenaga Kerja Tinggi

1. Jepang

Jepang mengalami kekurangan tenaga kerja hingga 85%, dipicu oleh penduduk lanjut usia yang mencapai sekitar 30%dari total populasi.

Baca Juga: Peluang Kerja Legal di Jepang Lewat Program SSW, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Hampir 86% wilayah Jepang aktif mencari pekerja asing, terutama di sektor pendidikan, perawatan kesehatan, teknologi, manufaktur, dan pertanian.

Program Specified Skilled Worker (SSW) menjadi jalur utama masuknya tenaga kerja asing.

2. Jerman

Dengan tingkat kekurangan tenaga kerja sekitar 82%, Jerman masih memiliki sekitar 1,8 juta posisi kosong.

Sektor konstruksi, manufaktur, kesehatan, teknik, dan teknologi informasi menjadi yang paling membutuhkan pekerja.

Pemerintah Jerman mengandalkan skema EU Blue Card dan visa pencari kerja untuk menarik tenaga asing.

3. Kanada

Kanada mencatat kekurangan tenaga kerja sekitar 80%, dengan penduduk lansia mencapai 19%.

Negara ini secara konsisten membuka peluang bagi pekerja asing melalui program Express Entry dan Provincial Nominee Program (PNP), terutama untuk sektor kesehatan, logistik, teknologi, dan pertanian.

4. Singapura

Singapura menghadapi kekurangan tenaga kerja terampil hingga 79%, dengan populasi lansia sekitar 15%.

Tenaga asing sangat dibutuhkan di sektor teknologi informasi, keuangan, pendidikan, dan kesehatan melalui visa Employment Pass (EP) dan S Pass.

5. Inggris Raya

Pasca-Brexit, Inggris mengalami kekurangan tenaga kerja sekitar 80%.

Dengan populasi lansia mencapai 19%, pemerintah memperluas visa pekerja terampil dan pekerja musiman, khususnya di sektor pertanian, perhotelan, dan layanan kesehatan.

6. Yunani

Yunani mencatat kekurangan tenaga kerja sebesar 82%, dengan penduduk usia lanjut mencapai 23%.

Pemerintah bahkan melegalkan sekitar 30.000 migran tak berdokumen untuk mengisi sektor pertanian, pariwisata, dan konstruksi.

7. Irlandia

Irlandia menghadapi kekurangan tenaga kerja sekitar 81%, dengan 15% penduduk berusia lanjut.

Setiap tahun, negara ini menerima sekitar 40.000 pekerja non-Uni Eropa untuk sektor konstruksi, perhotelan, dan kesehatan.

8. Portugal

Portugal juga mengalami kekurangan tenaga kerja sebesar 81%, dengan penduduk lansia mencapai 23%.

Baca Juga: Pesawat ATR 400 Rute Yogyakarta–Makassar Hilang Kontak, Keselamatan Penerbangan Jadi Sorotan!

Peluang kerja terbuka luas di sektor teknologi informasi, kesehatan, perhotelan, konstruksi, pertanian, hingga energi terbarukan.

Dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja global, saat ini menjadi momentum strategis bagi pencari kerja untuk menjajaki peluang internasional.

Pastikan memahami persyaratan visa dan sektor prioritas di masing-masing negara agar peluang bekerja di luar negeri dapat dimanfaatkan secara optimal.

Laporan: Lilis Anggraeni/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.