Satu Sandera Tersisa, Israel Terima Jenazah Warga Thailand dari Gaza

AKURAT.CO Israel mengonfirmasi bahwa jenazah yang diserahkan pada Rabu (4/12), dari Gaza adalah pekerja migran asal Thailand, Sudthisak Rinthalak. Ia adalah korban serangan Hamas di Kibbutz Be’eri pada Oktober 2023.
Dalam pernyataan resmi kantor Perdana Menteri Israel pada Kamis, jenazah Rinthalak diidentifikasi melalui pemeriksaan forensik setelah diserahkan oleh ICRC. Jenazah tersebut ditemukan di Gaza utara oleh anggota kelompok Palestinian Islamic Jihad.
Rinthalak, 43 tahun, merupakan satu dari hampir 250 orang yang disandera dalam serangan 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang. Israel telah mengonfirmasi kematiannya pada Mei tahun lalu. Ia bekerja di Israel sejak 2017 dan berasal dari Ratnawee, Thailand utara.
Satu Sandera Masih Belum Dikembalikan
Dengan penyerahan jenazah Rinthalak, kini hanya tersisa satu sandera Israel yang belum ditemukan, yaitu polisi berusia 24 tahun, Ran Gvili. Pemulangan seluruh sandera—baik hidup maupun meninggal—merupakan bagian penting dari tahap pertama perjanjian gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, yang ditukar dengan pembebasan tahanan Palestina.
Hingga kini, kelompok Hamas telah menyerahkan 20 sandera hidup dan 27 jenazah.
Reaksi Pemerintah Thailand dan Israel
Juru bicara Pemerintah Thailand Nikorndej Balankura mengatakan bahwa keluarga Rinthalak sejak awal menyadari bahwa ia tewas dalam serangan tersebut dan jenazahnya berada di Gaza. Pemerintah Thailand menyampaikan terima kasih kepada Israel yang telah membantu memulangkan 31 warga Thailand, termasuk 28 orang yang selamat.
Pemerintah Israel menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan menegaskan komitmennya untuk memulangkan seluruh sandera.
“Pemerintah Israel berbagi duka mendalam terhadap keluarga Rinthalak dan seluruh keluarga para korban,” tulis kantor perdana menteri dalam pernyataan.
Situasi di Gaza Masih Memanas
Meski kesepakatan gencatan senjata masih berlaku, militer Israel tetap melancarkan serangan ke berbagai wilayah Gaza. Pemerintah Israel menyatakan serangan dilakukan karena Hamas melanggar perjanjian.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza menyebut jumlah korban tewas telah melampaui 70.100 jiwa, angka yang terus meningkat sejak dimulainya perang.
Penantian Panjang Keluarga
Dalam wawancara dengan media Israel, ibu korban, yang hanya diidentifikasi sebagai On, mengatakan bahwa terakhir kali ia berbicara dengan anaknya adalah sekitar 10 hari sebelum serangan 7 Oktober.
“Kami memintanya pulang ke Thailand untuk berkunjung. Ia mengatakan ingin bekerja sedikit lebih lama sebelum kembali selamanya,” ujarnya. “Saya hanya ingin anak saya pulang secepat mungkin. Saya menunggunya setiap hari.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









