Gencatan Senjata di Gaza: 135 Jenazah Warga Palestina Ditemukan di Tengah Upaya Warga Kembali ke Reruntuhan

AKURAT.CO Tim penyelamat Palestina menemukan sedikitnya 135 jenazah dari bawah reruntuhan bangunan di Jalur Gaza setelah diberlakukannya gencatan senjata antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Sabtu (11/10/2025).
Menurut kantor berita resmi Palestina, Wafa, jenazah-jenazah tersebut ditemukan di berbagai wilayah yang sebelumnya tidak dapat dijangkau akibat pertempuran intensif selama dua tahun terakhir.
Sebanyak 43 jenazah dievakuasi ke Rumah Sakit al-Shifa, 60 jenazah ke Rumah Sakit al-Ahli Arab di Kota Gaza, sementara puluhan lainnya dikirim ke rumah sakit di Nuseirat, Deir el-Balah, dan Khan Younis.
Pejabat medis Palestina juga melaporkan 19 korban tewas baru akibat serangan udara Israel pada Jumat malam, termasuk 16 anggota keluarga Ghaboun yang meninggal saat rumah mereka dibom di selatan Kota Gaza. Dua warga lainnya dilaporkan tewas di dekat Khan Younis.
Belum dapat dipastikan apakah serangan itu terjadi setelah gencatan senjata mulai berlaku pada siang hari waktu setempat.
Warga Mulai Kembali ke Kota Gaza
Seiring penarikan sebagian pasukan Israel dan dibukanya Jalan al-Rashid di pesisir Gaza, ribuan warga mulai kembali ke reruntuhan rumah mereka. Banyak dari mereka berjalan kaki, membawa barang seadanya, bahkan menumpang gerobak atau mobil rusak.
Reporter Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, menggambarkan arus pengungsi yang membawa tenda dan perabot sederhana untuk kembali ke wilayah yang telah hancur.
“Keluarga-keluarga memindahkan tenda mereka dan mendirikannya di atas puing-puing rumah yang rata dengan tanah,” ujarnya.
Kondisi di Kota Gaza nyaris tidak layak huni — tanpa air bersih, listrik, atau infrastruktur dasar.
“Kami akan kembali ke Kota Gaza meski tidak ada apa-apa di sana,” kata Naim Irheem, seorang warga. “Putra saya terbunuh, putri saya terluka, tapi kami harus kembali.”
Krisis Kemanusiaan Masih Parah
Menurut reporter Moath Kahlout dari Deir el-Balah, kebutuhan utama warga saat ini adalah tenda darurat, makanan, dan air bersih. Ribuan keluarga yang kembali kini tinggal di antara reruntuhan bangunan, tanpa kepastian akan masa depan.
Namun, bagi banyak warga Palestina, pulang ke tanah mereka adalah bentuk perlawanan dan harapan.
“Selama beberapa generasi, rakyat Palestina menunjukkan keteguhan yang luar biasa,” ujar Kahlout. “Kembali ke reruntuhan bukan hanya tindakan bertahan hidup, tapi juga simbol keteguhan untuk tidak diusir.”
Duka dan Harapan di Tengah Puing
Jurnalis Ibrahim al-Khalil dari Al Jazeera menggambarkan wajah-wajah warga Gaza yang kembali sebagai “campuran antara duka dan harapan.”
“Mereka tidak tahu apakah rumah mereka masih berdiri, tapi tetap kembali,” ujarnya.
Bagi Maryam Abu Jabal, kepulangan ini dipenuhi ketakutan dan doa.
“Kami tidak tahu apakah rumah kami masih ada. Kami hanya berharap Tuhan melindungi kami,” katanya.
Sementara itu, Mohammed Sharaf yang kembali ke Sheikh Radwan, mendapati kawasan tempat tinggalnya telah menjadi puing.
“Kami pikir hanya akan pergi beberapa hari. Sekarang kami kembali dan tidak menemukan apa pun,” ucapnya lirih
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









