Penutupan Selat Hormuz Picu Krisis Energi Global, Iran Terancam Isolasi Ekonomi

AKURAT.CO Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, setelah parlemen Iran menyatakan kesepakatan untuk menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi global.
Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap serangan militer Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran, dan sikap diam komunitas internasional.
"Penutupan Selat Hormuz adalah bagian dari keputusan nasional. Ini untuk merespons tindakan Amerika dan ketidakadilan global," ujar Anggota Parlemen Iran Esmaeil Kowsari, dikutip dari Al Jazeera, Senin (23/6/2025).
Baca Juga: Siapa Pemilik Selat Hormuz, Jalur Energi Dunia yang Jadi Titik Panas Geopolitik
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran strategis yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia. Setiap gangguan di wilayah ini dapat memicu lonjakan harga minyak global, dan mengguncang pasar energi internasional.
Menurut analisis Reuters, ancaman ini telah menyebabkan tarif sewa kapal tanker super (VLCC) naik hingga 40 persen sejak konflik meletus pada pertengahan Juni 2025.
Pakar energi dari JPMorgan Chase menyebut, penutupan Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak melonjak di atas US$130 per barel, tergantung pada seberapa lama gangguan berlangsung.
"Ini bukan hanya masalah regional, ini akan menyentuh seluruh sendi ekonomi global," kata analis energi JPMorgan kepada CNBC.
Namun, langkah agresif ini justru dinilai kontraproduktif bagi Iran sendiri. Negara tersebut bergantung besar pada ekspor minyak dan gas alam yang sebagian besar keluar melalui Selat Hormuz. Jika ditutup, pendapatan utama negara itu akan terputus.
"Ini bisa jadi blunder strategis. Iran akan menutup akses pernapasannya sendiri," ujar Robin Mills, CEO Qamar Energy, seperti dikutip dari Financial Times.
Di sisi lain, Amerika Serikat telah merespons dengan pengerahan kekuatan militer terbesar di kawasan sejak Perang Teluk. Armada kapal induk, kapal selam, dan jet tempur kini telah bersiaga di Teluk Persia.
Baca Juga: DPR RI Desak Pemerintah Dorong PBB Hentikan Perang Iran–Israel
Wall Street Journal menyebut, kekuatan ini lebih besar dibanding tiga operasi militer besar AS sebelumnya di kawasan tersebut.
Penutupan selat ini juga dapat memicu campur tangan militer dari sekutu AS, dan membuka ruang lebih besar bagi Israel untuk menekan Iran secara politik maupun militer.
"Langkah ini berisiko menyeret kawasan ke dalam perang besar, bahkan potensi pemicu perang global," tulis media The Guardian.
Indonesia, bersama negara-negara ASEAN dan OKI, telah menyuarakan keprihatinan atas situasi ini. Pemerintah RI mendorong penyelesaian damai dan evakuasi WNI dari Iran dan Israel sebagai langkah antisipasi krisis lebih luas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit








