Imbas Dokter Korea Selatan Mogok Kerja, Pasien: Saya yang Akhirnya Menderita

AKURAT.CO Sebanyak 9.000 dokter magang dan residen berhenti bekerja sejak awal pekan lalu untuk memprotes rencana pemerintah meningkatkan penerimaan sekolah kedokteran sekitar 65 persen.
Aksi mogok ini sangat merugikan operasional rumah sakit, lantaran banyak pembatalan operasi dan perawatan lainnya.
Pejabat pemerintah mengatakan, penambahan lebih banyak dokter diperlukan untuk mengatasi populasi penuaan yang cepat di Korea Selatan.
Rasio dokter-pasien di negara ini termasuk yang terendah di antara negara-negara maju.
Para pengunjuk rasa mengatakan, universitas-universitas tidak mampu menampung begitu banyak mahasiswa baru dan berpendapat bahwa rencana tersebut tidak akan mengatasi kekurangan dokter di beberapa bidang penting, terlebih dengan upah yang rendah seperti kedokteran anak dan unit gawat darurat.
Terdapat sekitar 13.000 dokter magang dan penduduk di Korea Selatan sebagian besar dari mereka bekerja dan mengikuti pelatihan di 100 rumah sakit.
Mereka biasanya membantu dokter senior selama operasi dan menangani pasien rawat inap. Mereka mewakili sekitar 30 hingga 40 persen dari total dokter di beberapa rumah sakit besar.
Dikutip dari AP News (Selasa, 27/2/2024), Asosiasi Medis Korea mewakili sekitar 140.000 dokter mengatakan, pihaknya mendukung para dokter yang mogok namun belum memutuskan apakah akan ikut serta dalam aksi pemogokan dokter yang masih dalam masa pelatihan.
Para dokter senior telah mengadakan serangkaian aksi unjuk rasa yang menyuarakan penolakan terhadap rencana pemerintah dalam beberapa hari terakhir.
Awal bulan ini, pemerintah mengumumkan bahwa universitas akan menerima 2.000 mahasiswa kedokteran lagi mulai tahun depan dari saat ini 3.058 mahasiswa.
Pemerintah menyatakan akan menambah hingga 10.000 dokter pada tahun 2035.
Para dokter yang mogok mengaku khawatir akan menghadapi persaingan yang semakin ketat. Hal ini juga dapat memicu kegiatan pengobatan yang berlebihan, sehingga membebani biaya pengobatan publik.
Sebuah survei publik menunjukkan bahwa sekitar 80 persen warga Korea Selatan mendukung rencana tersebut.
Para pengkritik mencurigai dokter salah satu profesi dengan bayaran terbaik di Korea Selatan menentang rencana rekrutmen karena mereka khawatir akan menghadapi persaingan yang lebih besar dan pendapatan lebih rendah.
Park mengatakan kondisi layanan medis di Korea Selatan setelah adanya aksi mogok kerja tetap stabil untuk pasien darurat dan kritis. Hal ini dilakukan dengan memperpanjang jam kerja fasilitas medis publik dan membuka ruang gawat darurat di rumah sakit militer untuk pasien biasa.
Namun, media lokal melaporkan bahwa seorang pria berusia delapan tahun yang menderita serangan jantung dinyatakan meninggal pada Jumat lalu setelah tujuh rumah sakit menolaknya dengan alasan kurangnya staf medis atau alasan lain yang mungkin terkait dengan pemogokan tersebut.
Hwang Byung-tae, seorang pasien kanker laring berusia 55 tahun, mengatakan, dirinya rutin mengunjungi rumah sakit di Seoul untuk perawatan selama empat tahun. Pekan lalu, dia mengatakan harus meninggalkan rumah sakit tanpa menerima suntikan antikanker karena aksi mogok kerja tersebut.
Hwang menyalahkan pemerintah dan dokter karena seolah mempermainkan nyawa pasien.
"Pasien seperti sayalah yang akhirnya menderita dan meninggal, bukan mereka," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 3ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 4Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 5Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 6Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 7Persija Terpaksa Jamu Java United di Bali, Terancam Pengurangan Poin Jika 4 Kali Musafir
- 8Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag








