Akurat Logo

Amerika Serikat Jadi Sekutu Setia Hingga Mati-Matian Bela Israel, Ternyata Ada Tujuan Terselubung

Deni Muhtarudin | 2 November 2023, 22:26 WIB
Amerika Serikat Jadi Sekutu Setia Hingga Mati-Matian Bela Israel, Ternyata Ada Tujuan Terselubung

AKURAT.CO Serangan Israel terhadap Gaza sejak Sabtu (7/10/2023) telah menimbulkan atensi dunia internasional. Tak hanya Israel yang disoroti, masyarakat pun turut menyoroti Amerika Serikat (AS) yang merupakan sekutu setia Israel.

Diketahui, Amerika Serikat merupakan negara adidaya yang menyokong kebutuhan Israel. Pada 2016, AS melalui mantan presiden Obama menandatangani perjanjian untuk memberikan bantuan militer pada Israel sebesar USD38 miliar (Rp546 triliun) selama 2017-2028.

Bantuan itu diserahkan Amerika Serikat ke Israel secara bertahap setiap tahunnya. Pada 2020, AS menggelontorkan uang sebesar USD3,8 miliar (Rp55 triliun). Hampir semua bantuan yang disalurkan merupakan bantuan militer.

Kini pada masa pemerintahan Joe Biden, ia bahkan mengusulkan bantuan dana ke Israel sebesar USD14 miliar (Rp222 triliun). Dana tersebut dimaksudkan Biden untuk Israel menyediakan senjata seperti rudal hingga kendaraan lapis baja.

Baca Juga: Sejarah Istimewa Masjid Al Aqsa, Tempat Persinggahan Nabi Muhammad SAW Dalam Perjalanan Isra Miraj

Lalu mengapa AS begitu setia menjadi sekutu Israel? Berikut rangkumannya.

1. Alat untuk kepentingan AS di Timur Tengah

AS melihat Israel sebagai negara yang dapat membantu AS mencengkram Timur Tengah lebih kuat lagi. Timur Tengah dipandang AS sebagai wilayah potensial karena memiliki banyak minyak bumi.

Awalnya, AS mengamankan kekuatan politiknya di Timur Tengah dengan menghadirkan perusahaan SOCAL (cikal bakal raksasa minyak ARAMCO).

Namun perusahaan itu tak cukup kuat untuk menjaga posisi strategis AS di Timur Tengah. Alhasil, AS membutuhkan negara yang sejalan dengan mereka.

AS pun menjatuhkan pilihan ‘negara kesayangan’ nya pada Israel. Merujuk paparan koresponden senior Vox, Zack Beauchamp, AS melihat Israel sebagai alat yang berguna untuk membendung pengaruh Soviet di Timur Tengah yang sangat akrab dengan negara Arab.

Selain itu, merujuk riset Yaacov Bar-Siman-Tov dalam "The United States and Israel Since 1948" (1998), AS juga menganggap hubungan dekat dengan negara-negara Arab tidak selamanya bernilai baik.

Baca Juga: Akhir Zaman Sudah Dekat! Ini 7 Tips Menghadapi Hari Kiamat Untuk Mempersiapkan Diri Yang Lebih Baik

Sebagai contoh, hubungan AS dengan Arab Saudi yang pernah runyam karena sentimen agama. Hal ini pun membuat AS semakin yakin untuk memperkuat hubungan dengan Israel.

Selain itu, kemampuan intelijen dan pengetahuan Israel tentang Timur Tengah yang tak tertandingi juga menjadi faktor eratnya hubungan AS-Israel. 

Hal ini senada dengan apa yang dikatakan pengamat Timur Tengah, Michael Koplow yang mengatakan wawasan Israel mengenai Timur Tengah sangat menguntungkan AS dalam berbagai cara.

2. Kesamaan ideologi

AS dan Israel sepakat mengenai hal mendasar yang dianut negaranya, yakni sama-sama menganut demokrasi liberal.

"Israel adalah satu-satunya negara dengan demokrasi paling liberal di Timur Tengah," kata Koplow.

Karena kesamaan ideologi tersebut, AS juga menjadikan Israel sebagai alat untuk melawan pengaruh komunis di Timur Tengah, mengingat kedekatan Soviet yang sangat mesra dengan Timur Tengah.

Baca Juga: Perdana Menteri Benjamin Netanyahu Dinilai Tidak Layak Hingga Dikritik Media Israel Dan Warganya Sendiri

3. Adanya rasa nilai-nilai bersama

Pada 2020 lalu Pew Research Center mempublikasikan riset "U.S. Jews' connections with and attitudes toward Israel".

Melalui riset yang memaparkan koneksi emosional antara AS-Israel, diketahui 6 dari 10 orang Yahudi AS menyebut mereka sangat terikat secara emosional. 

Selain itu, dipaparkan juga bahwa 54 persen orang Yahudi-Amerika menganggap dukungan kepada Israel merupakan keputusan yang tepat.

Besarnya dukungan itu juga dibarengi dengan fakta bahwa mereka adalah konstituen utama dalam politik AS.

Jadi, dengan mendukung Israel, para pejabat AS sebenarnya mengamankan posisi masing-masing mereka dalam politik AS. 

Bahkan dikutip melalui CNBC, suara Yahudi merupakan ceruk potensial yang bisa menjadi mesin pendulang suara saat pemilu.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.