Akurat

Jarang Tersorot, 6 Fakta Menarik Mahmoud Abbas Presiden Palestina

| 29 Juli 2019, 16:12 WIB
Jarang Tersorot, 6 Fakta Menarik Mahmoud Abbas Presiden Palestina

AKURAT.CO, Hampir tiap hari, konflik Palestina dan Israel menjadi perbincangan media internasional. Jika diamati, dalam pemberitaan tersebut, media lebih sering mengusung nama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu; Presiden Amerika Serikat, Donald Trump; hingga pencipta Perdamaian Timur Tengah, Jared Khusner.

Kemudian bagaimana dengan Presiden Otoritas Nasional Palestina, Mahmoud Abbas? Warga dunia terkadang dibuat lupa akan sosok pemimpin Palestina tersebut meski ia memiliki peran yang sama penting dengan para pemimpin dunia lain.

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO menghimpun 6 fakta menarik Presiden Otoritas Nasional Palestina, Mahmoud Abbas.

1. Pernah jadi pengungsi

Abbas, juga dikenal dengan panggilan Abu Mazen, lahir di Safed, Galilee (sekarang menjadi bagian Israel) pada 26 Maret 1935. Keluarganya menjadi salah satu warga Palestina yang terpaksa mengungsi ketika Perang Kemerdekaan Israel atau Perang Arab-Israel pada 1948 silam. Mereka lantas bermigrasi ke Suriah

Di Suriah, Abbas sempat bekerja menjadi seorang guru sekolah dasar. Meskipun berstatus sebagai imigran, ia terbilang beruntung lantaran bisa menempuh pendidikan tinggi. Ia belajar hukum di perguruan tinggi tertua dan terbesar di Suriah, Universitas Damaskus.

Setelah mengantongi gelar BA, Abbas melanjutkan S2 di Universitas Patrice Lumumba atau Universitas Persahabatan Rakyat di Moskow, Rusia. Abbas memperoleh gelar Kandidat Nauk (semacam gelar tingkat pertama untuk gelar doktor/setara dengan gelar PhD yang diberikan oleh pemerintahan Uni Soviet).

2. Disertasinya menuai kritik

Untuk memperoleh predikat doktor dari Universitas Patrice Lumumba, Abbas menulis sebuah disertasi yang kemudian menuai banyak kritik tajam dari berbagai pihak, khususnya kaum Yahudi serta pemerintahan Israel.

Dalam disertasi berjudul "The Other Side: The Secret Relationship Between Nazism and Zionism" (Sisi Lain: Rahasia Hubungan antara Nazisme dan Zionisme"), Abbas mempertanyakan kebenaran sejarah yang menyebut bahwa ada sekitar 6 juta kaum Yahudi yang dibantai saat peristiwa Holokaus. Menurut Abbas, jumlah korban tewas mungkin lebih sedikit, yaitu hanya sekitar 1 juta jiwa.

Selain itu, Abbas juga menarik hipotesis yang tidak kalah fenomenal. Ia mengajukan kemungkinan adanya teori konspirasi yang menyatakan bahwa genosida kaum Yahudi selama Perang Dunia II merupakan kerja sama antara kaum Yahudi sendiri dan Hitler.

Menurutnya, lewat ideologi Nazi, Hitler diduga memberikan legitimasi untuk melakukan apapun kepada kaum Yahudi dengan sebuah tujuan jangka panjang, yaitu kemungkinan kaum Yahudi bermigrasi ke Palestina.

Namun, dalam berbagai kesempatan, Abbas kerap meminta maaf jika ada kaum Yahudi yang merasa tersinggung dengan isi disertasinya. Ia berkilah hanya mempertanyakan sejarah, tanpa ada niatan untuk menodai kepercayaan agama lain.

3. Memulai perjalanan politik lewat gerakan bawah tanah

Setelah menuntaskan pendidikan doktor, Abbas mulai aktif terjun ke dalam politik Palestina. Sekitar pertengahan tahun 1950-an, saat masih menjabat sebagai Direktur Personalia di bagian Layanan Sipil Qatar, Abbas pun mengisi sela-sela waktunya untuk bergaul dengan warga Palestina lainnya yang diasingkan ke Qatar.

Bersama dengan teman-temannya tersebut, Abbas serta warga Palestina kemudian aktif membuat gerakan bawah tanah mereka.

Barulah pada tahun 1961, pemimpin besar gerakan Palestine Liberation Organization atau Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Yasser Arafat, merekrut Abbas untuk menjadi anggota partai terbesar Palestina, Fatah. Karier politik Abbas di Fatah pun mulai menanjak, dan membuatnya dianugerahi berbagai jabatan penting hingga akhirnya menjadi wakil Arafat pada sekitar tahun 1996.

4. Dijuluki sebagai "Merpatinya PLO".

Selama kepemimpinan Arafat, Abbas memang dikenal sebagai salah satu figur pemimpin Palestina yang getol mencari solusi damai untuk konflik Palestina-Israel. Reputasi serta pencapaian besarnya dalam menjalin komunikasi dengan para gerakan sayap kiri Israel inilah yang kemudian membuatnya dijuluki sebagai "PLO Dove" atau "Merpatinya PLO".

Saat itu Abbas berhasil menjalankan negosiasi dengan salah satu figur paling berpengaruh dalam Perang Enam Hari Israel atau Perang Arab-Israel Ketiga, Matiyahu Peled. Negosiasi antara Peled dan Abbas pada Januari 1977 itu menghasilkan prinsip-prinsip perdamaian antara Palestina dan Israel.

Abbas juga diketahui memimpin negosiasi terkait dengan perjanjian perdamaian paling bersejarah antara Israel dan Palestina, Perjanjian Oslo, yang berlangsung di Washington DC pada 13 September 1993.

Namun, beberapa hari yang lalu, Abbas akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa Palestina telah membatalkan semua perjanjian perdamaian setelah pihak Israel merobohkan pemukiman warga Palestina di wilayah Timur Yerusalem pada pekan lalu.

5. Menjadi presiden Palestina selama 14 tahun

Setelah kematian Arafat pada 2014, dengan perolehan suara sebesar 62 persen, Abbas kemudian melaju menjadi Presiden Otoritas Nasional Palestina pada 9 Januari 2005. Hal yang menarik dari kepemimpinannya adalah saat Abbas "menjilat ludahnya" sendiri. Pasalnya, ia pernah mengumumkan hanya akan menjabat sebagai presiden selama satu periode saja.

Tetapi pada Januari 2009, saat masa jabatannya sudah habis, Abbas secara resmi mengumumkan bahwa dia akan memperpanjang masa jabatannya sebagai presiden lantaran berdasarkan Hukum Dasar Palestina, ia mempunyai hak untuk melakukannya. Hingga sekarang, Abbas masih menjabat menjadi presiden Otoritas Nasional Palestina. Ini berarti Abbas sudah menjabat sebagai presiden lebih dari 14 tahun.

6. Negaranya terbelah menjadi dua

Perseteruan antara Hamas dan partai yang dipimpin Abbas, Fatah, membuat Palestina terpecah menjadi dua fraksi dengan ideologi berbeda. Fatah dikenal nasionalis dan "lebih ramah" dengan pihak Israel daripada Hamas. Sedangkan Hamas berpegang teguh menolak keberadaan Israel.

Perpecahan ini setidaknya membuat dua wilayah utama Palestina juga terbagi menjadi dua kepemimpinan, yaitu Gaza dikuasasi oleh Hamas sementara wilayah Tepi Barat dipimpin oleh Fatah.

Itulah 6 fakta menarik Presiden Otoritas Nasional Palestina, Mahmoud Abbas. []

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.