Akurat

Cuaca Panas Melanda Indonesia, Ini Doa agar Selamat

Lufaefi | 16 Oktober 2025, 06:29 WIB
Cuaca Panas Melanda Indonesia, Ini Doa agar Selamat

AKURAT.CO Fenomena cuaca panas ekstrem kembali melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Sejak awal Oktober 2025, suhu udara di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa hingga Bali, terasa begitu menyengat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh pergeseran posisi semu matahari ke arah selatan Indonesia.

Kondisi ini membuat sinar matahari lebih tegak lurus terhadap permukaan bumi di wilayah selatan ekuator, sehingga suhu terasa lebih panas dari biasanya.

Senior Forecaster BMKG, Iqbal Fathoni, menyampaikan bahwa posisi matahari saat ini berada di sekitar ekuator hingga selatan Kalimantan dan Jawa, menyebabkan wilayah seperti Jakarta, Surabaya, hingga Denpasar mengalami pemanasan maksimal.

Ia menambahkan bahwa fenomena ini bukanlah gelombang panas (heatwave), sebab suhu udara masih berkisar antara 34 hingga 37 derajat Celsius, dan belum melampaui ambang batas ekstrem.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa cuaca panas ini akan berlangsung hingga awal November 2025, sebelum akhirnya berangsur mereda bersamaan dengan datangnya musim hujan.

Ia juga menegaskan bahwa pancaroba, atau masa peralihan dari kemarau ke musim hujan, kerap ditandai dengan suhu yang fluktuatif dan cuaca yang sulit diprediksi. Selain itu, fenomena La Nina lemah yang diperkirakan akan berlangsung hingga Januari 2026 turut memengaruhi pola curah hujan di Indonesia.

Baca Juga: Mengenal Mediasi dalam Islam: Apa yang Boleh dan yang Tidak Boleh dalam Perdamaian

Meski secara ilmiah dapat dijelaskan, fenomena alam semacam ini tetap menjadi pengingat bagi manusia tentang keterbatasan dirinya di hadapan kekuasaan Allah. Panas terik, kemarau panjang, dan perubahan cuaca ekstrem adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta.

Dalam pandangan Islam, cuaca dan iklim bukan sekadar fenomena fisik, melainkan juga bagian dari sistem ketetapan (sunnatullah) yang mengandung pelajaran bagi manusia.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Artinya: “Dan Dialah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih.” (QS. Al-Furqan: 48)

Ayat ini menunjukkan bahwa perubahan cuaca, baik panas terik maupun turunnya hujan, merupakan bagian dari rahmat dan kekuasaan Allah. Karenanya, menghadapi cuaca panas ekstrem tidak hanya dengan langkah fisik seperti menjaga hidrasi dan menghindari paparan langsung matahari, tetapi juga dengan memperbanyak doa dan introspeksi diri.

Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan sejumlah doa untuk memohon perlindungan dari cuaca yang ekstrem. Salah satu doa yang relevan dibaca ketika menghadapi panas yang menyengat adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنْ حَرِّ نَارِكَ

Allāhumma ajirnī min ḥarri nārik.

Artinya: “Ya Allah, lindungilah aku dari panasnya api neraka-Mu.”

Doa ini memiliki makna spiritual yang mendalam. Panas matahari di dunia hanyalah sebagian kecil dari panasnya api neraka yang sebenarnya. Maka, ketika seseorang merasa kepanasan, doa ini bukan hanya permohonan perlindungan fisik, melainkan juga bentuk kesadaran akan kehidupan akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila seseorang merasa panas, maka hendaklah ia mengucapkan doa itu, karena panas dunia adalah peringatan dari panas neraka.”

Selain itu, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, karena dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa istighfar dapat mendatangkan hujan dan kesejukan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Nuh ayat 10–11:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا

Artinya: “Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.’”

Ayat ini menegaskan adanya hubungan antara perilaku spiritual manusia dan keseimbangan alam. Ketika manusia menjaga hubungan baik dengan Tuhan dan lingkungannya, maka Allah menurunkan keberkahan, termasuk cuaca yang seimbang.

Di sisi lain, cuaca panas ekstrem juga dapat dijadikan momentum untuk memperkuat rasa empati sosial. Banyak masyarakat di daerah kering yang kesulitan mendapatkan air bersih atau hasil panen menurun karena kekeringan. Dalam situasi seperti ini, Islam mendorong umatnya untuk memperbanyak sedekah air, membantu sesama, dan menjaga kelestarian alam.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sedekah yang paling utama adalah memberi air.” (HR. Ahmad). Air bukan hanya kebutuhan dasar manusia, tetapi juga simbol kehidupan dan rahmat. Dengan memberi air di tengah musim panas, seseorang tidak hanya membantu makhluk hidup secara fisik, tetapi juga menanam amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Baca Juga: Apa Itu Mediasi dan Urgensinya dalam Perspektif Islam?

Pada akhirnya, fenomena panas ekstrem ini dapat menjadi pengingat spiritual sekaligus ujian kesabaran. Alam semesta berputar dalam sistem yang penuh keseimbangan, dan manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaganya.

Ketika cuaca terasa menyengat, selain berusaha menjaga kesehatan, mari memperbanyak doa, memperkuat kepedulian sosial, serta memohon perlindungan dari Allah agar tetap selamat dari segala bahaya.

اللَّهُمَّ خَفِّفْ عَنَّا حَرَّ الدُّنْيَا وَحَرَّ الْآخِرَةِ

Allāhumma khaffif ‘annā ḥarra ad-dunyā wa ḥarra al-ākhirah.

Artinya: “Ya Allah, ringankanlah dari kami panasnya dunia dan panasnya akhirat.”

Dengan doa ini, semoga setiap hembusan angin yang datang membawa kesejukan, setiap tetes air hujan menjadi rahmat, dan setiap panas yang menyengat menjadi pengingat akan kasih sayang Allah yang tak pernah surut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.