DPR Soroti 6.000 Anak Putus Sekolah di Bogor, Minta Pemerintah Bergerak Lebih Cepat

AKURAT.CO Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyoroti temuan sekitar 6.000 anak putus sekolah di Kota Bogor, Jawa Barat.
Ia menilai persoalan tersebut menjadi alarm bagi pemerintah bahwa tantangan pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia semakin kompleks.
Menurut Puan, persoalan anak tidak sekolah (ATS) tidak lagi hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas pendidikan, bantuan biaya, maupun akses belajar, tetapi juga menyangkut rendahnya motivasi dan keyakinan anak terhadap masa depan melalui pendidikan.
“Persoalan pendidikan hari ini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan ketersediaan sekolah, bantuan pendidikan, atau akses belajar,” kata Puan dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7/2026).
Ia menilai, negara menghadapi tantangan besar untuk menjaga mimpi dan cita-cita generasi muda.
Jika persoalan anak putus sekolah tidak segera ditangani, dampaknya tidak hanya hilangnya kesempatan belajar, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas SDM Indonesia ke depan.
“Jika kondisi ini dibiarkan, yang hilang bukan hanya kesempatan belajar seorang anak, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang akan menentukan masa depan Indonesia,” ujarnya.
Puan mendorong pemerintah menjadikan penanganan ATS sebagai agenda strategis pembangunan nasional, bukan sekadar program di sektor pendidikan.
Menurutnya, penurunan angka anak putus sekolah harus menjadi indikator keberhasilan pembangunan yang melibatkan seluruh kementerian dan pemerintah daerah.
“Pemerintah perlu menetapkan penurunan angka ATS sebagai salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan sumber daya manusia yang mengikat seluruh kementerian, pemerintah daerah, dan menjadi bagian dari evaluasi pembangunan nasional,” jelasnya.
Mantan Menko PMK itu menegaskan, keberhasilan pembangunan pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari peningkatan angka partisipasi sekolah.
Pemerintah juga harus memastikan anak tetap bertahan hingga menyelesaikan pendidikan dan memiliki keterampilan untuk memasuki dunia produktif.
Untuk itu, Puan mengusulkan penyusunan Grand Design Nasional Penuntasan Anak Tidak Sekolah hingga 2045.
Dokumen tersebut, kata dia, dapat menjadi peta jalan lintas sektor yang mengintegrasikan kebijakan pendidikan, perlindungan sosial, pembangunan keluarga, ketenagakerjaan, dan pembangunan daerah.
Baca Juga: Tutup Dapur MBG
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 5Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar










