Miris, Krisis Transportasi di Pelabuhan Pulau Baai, Masyarakat Adat Enggano Rugi Rp2 Miliar per Bulan

AKURAT.CO Kondisi perekonomian di Pulau Enggano, Bengkulu, saat ini tengah berada di titik kritis akibat terhentinya distribusi hasil bumi sejak Maret 2025. Hal ini dipicu oleh pendangkalan ekstrem di Pelabuhan Pulau Baai yang menyebabkan kapal tidak bisa bersandar secara normal.
Akibatnya, pengiriman hasil pertanian dan perikanan dari Pulau Enggano ke daratan Sumatra maupun wilayah lainnya mengalami kelumpuhan total.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 5,0 Guncang Enggano Bengkulu
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu, bersama tokoh masyarakat adat dan kepala suku Pulau Enggano, telah menghitung dampak ekonomi dari mandeknya aktivitas logistik tersebut.
Ketua AMAN Bengkulu, Fahmi Arisandi, menyatakan bahwa kerugian yang ditanggung masyarakat adat mencapai sekitar Rp2 miliar setiap bulan.
“Hasil bumi kami menumpuk dan tidak bisa keluar dari pulau. Kami sudah hitung bersama para kepala suku kerugiannya signifikan dan berlangsung setiap bulan,” ujar Fahmi, Sabtu (21/6/2025).
Rincian Kerugian Ekonomi Akibat Gangguan Distribusi
Berikut adalah estimasi potensi kerugian per bulan yang dialami masyarakat Pulau Enggano:
- Pisang: Sebanyak 320.000 tandan (setara 672 ton) tidak bisa dijual. Dengan harga Rp 40.000 per tandan, total kerugian mencapai Rp 1,15 miliar.
- Jantung pisang: 560 karung x Rp 60.000 = Rp 33,6 juta.
- Daun pisang: 160 karung x Rp 50.000 = Rp 8 juta.
- Ikan laut: 32 ton, mayoritas berstandar ekspor. Kerugian mencapai Rp 640 juta.
- Melinjo: 400 kg, kerugian sekitar Rp 20 juta.
- Kelapa: 32 ton, kerugian mencapai Rp 72 juta.
- Kakao: 500 kg, potensi kerugian sekitar Rp 40 juta.
- Pinang: 3,2 ton, dengan estimasi kerugian Rp 25 juta.
Dari data tersebut, terlihat jelas bahwa ketergantungan masyarakat terhadap sektor agrikultur dan perikanan sangat tinggi. Ketika jalur distribusi terganggu, seluruh sendi perekonomian lokal pun ikut terhenti.
Baca Juga: Menko Luhut Dukung Pembangunan Pulau Enggano Bakal Rangsang Ekonomi Bengkulu
Kondisi Logistik di Pulau Enggano Kian Memprihatinkan
Bupati Bengkulu Utara, Arie Septia Adinata, turut mengakui bahwa situasi logistik di Pulau Enggano berada dalam kondisi darurat.
Pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk mendukung operasional listrik di pulau tersebut kini hanya cukup untuk 17 hari ke depan.
“BBM kami hanya bisa bertahan sampai 17 hari lagi. Sementara itu, distribusi kebutuhan pokok masih bergantung pada kapal nelayan,” jelas Arie saat dikonfirmasi, Jumat (20/6/2025).
Dalam keadaan darurat seperti ini, mobilitas warga pun sangat terbatas.
Pemerintah mengandalkan sistem ship to ship melalui kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry, dengan bantuan dari TNI AL dan Basarnas. Di sisi lain, transportasi udara masih berjalan seperti biasa, meskipun tidak mampu menggantikan volume distribusi laut secara menyeluruh.
Arie menambahkan bahwa uji coba alur baru hasil pengerukan Pelabuhan Pulau Baai dijadwalkan berlangsung pada 23 hingga 25 Juni 2025. Namun, hingga saat ini, belum ada kepastian kapan distribusi logistik dan pengiriman hasil bumi dari Pulau Enggano bisa kembali berjalan normal.
Seruan Mendesak untuk Tindakan Konkret Pemerintah
Kondisi ini mendorong masyarakat adat dan aktivis lokal untuk meminta perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat.
Menurut Fahmi, belum ada langkah nyata yang diambil untuk memastikan pemulihan aktivitas ekonomi di Enggano.
“Perekonomian kami lumpuh. Tidak cukup hanya dengan wacana pengerukan atau uji coba pelabuhan. Kami butuh solusi konkret dan jangka panjang,” tegasnya.
Pulau Enggano saat ini berada dalam situasi yang sangat rentan. Selain berdampak langsung pada penghidupan ribuan warga, krisis distribusi ini juga mengancam ketahanan ekonomi lokal yang selama ini bergantung pada hasil bumi.
Pemerintah diharapkan segera turun tangan dan memastikan bahwa distribusi logistik, khususnya untuk kebutuhan dasar dan hasil pertanian masyarakat, dapat dipulihkan dalam waktu dekat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









