Minahasa Utara Terapkan Langkah Terpadu Cegah Dengue, Targetkan Nol Kematian pada 2030

AKURAT.CO Kabupaten Minahasa Utara semakin serius dalam menangani ancaman demam berdarah dengue (DBD) yang kian meningkat dalam tiga tahun terakhir.
Dari 116 kasus dengan 1 kematian pada 2022, melonjak menjadi 404 kasus dengan 3 kematian pada 2023, hingga mencapai 800 kasus dengan 4 kematian pada 2024.
Angka kejadian DBD di wilayah ini terus berada di atas target nasional, yakni 10 per 100.000 penduduk.
Tingginya mobilitas penduduk akibat posisi strategis kabupaten ini—diapit Kota Manado dan Bitung—menjadi salah satu faktor percepatan penyebaran virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara melalui Dinas Kesehatan, berkolaborasi dengan PT Bio Farma dan PT Takeda Innovative Medicines, meluncurkan serangkaian program terpadu.
Salah satunya adalah sosialisasi pencegahan dengue dan tatalaksana skrining kanker serviks yang melibatkan unsur pemerintahan desa, kecamatan, organisasi perangkat daerah, hingga tenaga kesehatan puskesmas.
Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, menekankan pentingnya tindakan preventif, terutama di tengah cuaca yang kerap memicu genangan air sebagai tempat berkembang biak nyamuk penyebab DBD.
“Gejala DBD sering disalahartikan sebagai flu biasa. Tapi demamnya khas, seperti pelana kuda. Kabar baiknya, DBD bisa dicegah. Salah satunya dengan vaksinasi untuk memperkuat sistem imun masyarakat,” ujar Joune dalam sambutannya, Kamis (24/4/2025).
Ia menyatakan dukungannya terhadap Strategi Nasional Penanggulangan Dengue (Stranas Dengue) 2021–2025 yang diinisiasi Kementerian Kesehatan RI, dan menjadikan vaksinasi sebagai bagian dari langkah nyata untuk melindungi warganya.
“Melalui kegiatan hari ini, kami meluncurkan program vaksinasi dengue yang menyasar anak-anak sebagai populasi rentan. Ini menjadi bagian penting dalam upaya kami menekan keparahan dan penyebaran penyakit,” imbuhnya.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyatakan apresiasi atas langkah progresif Minahasa Utara, yang tercatat sebagai wilayah pertama di Pulau Sulawesi yang mengimplementasikan vaksinasi dengue secara publik.
“Indonesia adalah negara pertama yang menerapkan program ini secara nasional, dan Minahasa Utara menjadi pelopor di Sulawesi. Kami bangga menjadi mitra dalam perjalanan ini, demi mewujudkan target Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030,” kata Andreas.
Takeda sendiri telah lebih dari 50 tahun berkiprah di Indonesia dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Andreas menegaskan bahwa keberhasilan penanggulangan dengue hanya bisa dicapai lewat kolaborasi dan komitmen jangka panjang dari seluruh pihak.
Kepala Dinas Kesehatan Minahasa Utara, dr. Stella Safitri, menambahkan bahwa berbagai upaya konvensional telah dilakukan, seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui Gerakan 3M Plus, abatisasi, hingga fogging. Namun angka kasus masih tinggi.
“Karena itu, tahun ini kami mengambil langkah baru dengan menyediakan vaksin dengue, dimulai dari dua kecamatan dengan kasus tertinggi, yaitu Kalawat dan Dimembe. Sebanyak 500 anak usia SD/MI akan menerima vaksin dalam pilot project ini,” jelas dr. Stella.
Ia menegaskan bahwa vaksinasi hanyalah satu bagian dari pendekatan holistik yang diterapkan.
Ke depan, Pemkab Minahasa Utara akan terus mengembangkan strategi berbasis data dan kolaborasi lintas sektor untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat dengue.
“Dengan pendekatan terpadu dan inovatif, kami optimis bisa menciptakan Minahasa Utara yang lebih sehat dan bebas dari ancaman dengue,” pungkasnya.
Baca Juga: Pramono Minta Wali Kota Proaktif Terima Proses Pendaftaran PPSU
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










