BRIN dan STAI Barus Jalin Kerja Sama, Dorong Barus sebagai Kawasan Riset Sejarah Nasional

AKURAT.CO Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Barus menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk mendukung pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi dalam mendukung riset dan inovasi nasional.
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Ketua STAI Barus, Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, MA, dan Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Edy Giri Rachman Putra, di Gedung BJ Habibie BRIN, Selasa (3/12/2024).
Acara ini turut disaksikan Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, Ketua Yayasan Maju Tapian Nauli (Matauli), Fitri Krisnawati Tandjung, Ketua Gabema Sibolga Tapteng Masriadi Pasaribu, dan sejumlah tokoh asal Tapanuli Tengah.
Fitri menyampaikan, MoU ini merupakan langkah penting bagi masyarakat Tapanuli Tengah. Ia berharap kerja sama ini semakin memperkuat posisi Barus sebagai pusat riset sejarah dan religi nasional.
Baca Juga: Apa Itu Darurat Militer yang Sempat Dideklarasikan Presiden Korsel Yoon? Ini Penjelasannya
"Kami sangat bangga karena menjadi institusi pertama dari Tapanuli Tengah yang berkolaborasi langsung dengan BRIN. Barus memiliki potensi besar sebagai kawasan khusus riset sejarah dan religi, mengingat situs-situs sejarah di wilayah ini menunjukkan Barus sebagai gerbang pertama masuknya Islam ke Nusantara," ujar Fitri.
Fitri juga menekankan pentingnya mendukung penetapan Barus sebagai Titik Nol Peradaban Islam Nusantara yang telah dideklarasikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2017.
Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, menjelaskan, kerja sama ini membuka peluang besar untuk pengembangan riset, eskavasi, dan penguatan sumber daya manusia (SDM) di Tapanuli Tengah.
Ia menegaskan komitmen BRIN untuk melaksanakan program eskavasi jangka panjang di wilayah Barus dan Bongal.
"Kegiatan eskavasi kami bersifat permanen dan jangka panjang, bisa berlangsung 7 hingga 10 tahun. Kami berharap STAIB dapat berkontribusi langsung dalam program ini, baik melalui mahasiswa maupun dosennya," kata Tri Handoko.
Baca Juga: Piala AFF: Meski tak Ingin Terbebani, Hokky Caraka Justru Targetkan Juara dan Top Scorer
Tri Handoko juga mengusulkan pendirian program studi Arkeologi Islam di STAI Barus. "Saat ini hanya ada enam jurusan Arkeologi di Indonesia. Barus bisa menjadi pionir untuk melahirkan arkeolog-arkeolog baru, khususnya di bidang Islam," imbuhnya.
STAI Barus didirikan oleh Dr. Ir. H. Akbar Tandjung di bawah naungan Yayasan Maju Tapian Nauli (Matauli). Kampus ini memiliki dua program studi: Sejarah Peradaban Islam dan Studi Agama-Agama.
Ketua STAI Barus, Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, menjelaskan bahwa institusi ini menerapkan sistem boarding bagi seluruh mahasiswa hingga lulus, lengkap dengan pelatihan keterampilan hidup.
"Mahasiswa wajib tinggal di asrama hingga lulus dan mendapatkan beasiswa penuh dari Yayasan Matauli," jelasnya.
Dengan MoU ini, diharapkan Barus tidak hanya menjadi pusat riset sejarah dan religi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Tapanuli Tengah melalui pendidikan dan inovasi berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










