Akurat

WRC Jogja: Rela Sengsara Agar Satwa Langka Tak Puasa

| 1 Februari 2021, 18:35 WIB
WRC Jogja: Rela Sengsara Agar Satwa Langka Tak Puasa

AKURAT.CO, "Bagaimanapun kondisinya, kami komitmen satwa adalah yang utama. Kita sengsara tapi karena satwa tak bisa cari makan sendiri, kita harus utamakan mereka," tutur Reza Dwi Kurniawan, Manajer Konservasi Wildlife Rescue Centre (WRC) Jogja, Senin (1/2/2021).

WRC Jogja merupakan satu-satunya pusat rehabilitasi satwa liar dilindungi di DIY, berlokasi di Sendangsari, Pengasih, Kulonprogo, DIY. Berada di bawah naungan Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta yang bermitra dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta.

Reza menuturkan, pada akhir bulan Januari 2021 lalu, bisa dibilang nasib WRC di ujung tanduk. Musababnya, pandemi COVID-19 yang melanda sejak awal tahun 2020 lalu.

Pandemi COVID-19 memberikan dampak signifikan terhadap semua sektor, tak terkecuali bidang konservasi satwa liar. WRC kehilangan sumber pendanaan utama kegiatan operasional yang berasal dari program relawan asing berbayar, buntut akibat berbagai restriksi guna mengurangi penyebaran virus.

AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

Diakui Reza, WRC sampai detik ini memang tidak punya donatur tetap. Sambil tak henti-hentinya mencari, mereka selama ini mengandalkan program relawan.

"WRC mendapatkan income biaya operasional dari program relawan, dari orang luar di sini jadi relawan dan berdonasi. Ketika pandemi datang, imigrasi tutup, kita tidak boleh melaksanakan program kerumunan segala macem, jadi program relawan berhenti total," ungkap Reza saat dijumpai di Kantor WRC, Pengasih, Kulon Progo.

Situasi ini berdampak langsung pada kegiatan rehabilitasi 152 individu satwa liar di WRC. Dengan jumlah tersebut, dibutuhkan setidaknya biaya operasional sebesar Rp100 juta per bulan, sudah mencakup gaji 25 karyawan, kebutuhan medis, nutrisi, dan lain sebagainya.

Pengelola WRC putar otak mencari sumber pendanaan lain. Yakni, dengan membuka penggalangan dana lewat berbagai platform. Berharap uluran tangan mereka yang peduli akan keberlangsungan satwa dilindungi.

Di saat bersamaan, WRC telah mencoba menyiasati pengeluaran dari sisi pakan. Reza menyebut selama ini pihaknya telah menggandeng salah satu retail besar agar bisa menampung buah-buahan tak layak jual untuk konsumsi para hewan.

"Kecuali yang karnivora, makannya buah. Nah, itu kita ambil buah yang nggak layak jual, kita sortir lagi yang masih layak makan," ujarnya.

AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

Dahulu, sewaktu finansial masih kokoh, WRC kerap belanja variasi pakan buah untuk para hewan. Lantaran tidak cuma manusia, primata sebagai contoh, juga bisa merasa bosan manakala diberi buah yang itu-itu saja. Mereka juga bisa mengalami gangguan pencernaan ketika salah makan.

"Kalau sekarang (sejak pandemi) variasinya kurang. Variasi harus beli kaya nanas, pepaya, semangka, dan kacang-kacangan," lanjut dia.

Strategi lain demi menghemat pengeluaran adalah menekan bea operasional. Tanpa mengurangi kaidah konservasi, tentunya. Meliputi, pemakaian sarung tangan dan masker bukan sekali pakai untuk para animal keeper.

"Sistem perawatan dan rehabilitasi satwa ini kita tidak mengubah. Bagaimanapun mereka yang utama. Kita tidak menurunkan standar konservasinya," tegas Reza.

BKSDA bahkan sampai turun tangan memberikan suntikan dana selama masa pandemi Corona ini. Adapun angin segar lain yang datang organisasi non-profit, salah satunya Centre for Orangutan Protection (COP) yang bergerak di bidang penyelamatan orangutan. Bantuan diberikan dalam bentuk jatah pakan mingguan.

Segala daya dan upaya itu kendati belum cukup mengimbangi masa pandemi COVID-19 yang berkepanjangan. Bahkan, sampai awal tahun 2021 ini belum terlihat ujungnya.

Akses pendanaan WRC kembali tertahan. Menyusul keputusan Pemerintah memperpanjang larangan warga negara asing (WNA) masuk ke Indonesia hingga 8 Februari 2021 seiring penerapan kebijakan Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali.

AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

Di satu sisi, vaksinasi COVID-19 yang jadi asa bagi WRC ternyata belum menyeluruh. Sejauh ini masih dalam tahap pemberian kepada tenaga medis saja.

WRC akhirnya mau tak mau harus mengambil langkah paling ekstrem. Yakni, dengan memotong upah seluruh jajaran WRC 50 persen. Tanpa terkecuali.

"Jadi setelah kita berdiskusi dengan teman-teman yayasan dan melihat kondisi ini, dengan sangat berat hati mulai bulan Februari ini kita memutuskan mengurangi salary para pekerja, termasuk saya," ungkapnya.

"Kami juga seperti bimbang, kami melakukan rehabilitasi satwa liar tapi kita tidak boleh melupakan orang-orang yang bekerja untuk mereka. Tapi, dengan kondisi seperti ini kita mau nggak mau harus, karena kalau nggak kita bisa tutup kalau pandemi nggak kelar-kelar," sambungnya.

Mengantisipasi kemungkinan terburuk apabila situasi mengkhawatirkan ini terus berlangsung ke depannya, WRC sudah mengambil ancang-ancang melapor ke BKSDA dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Menyatakan akan menyerahkan peran rehabilitasi kepada mereka manakala WRC benar-benar kolaps.

"Kita berusaha cash flow jangan sampai tidak ada, walaupun di-press seperti apa, kami tetap bertanggung jawab karena satwa ini dilindungi, milik negara dan kita harus mengembalikan kepada negara nantinya dengan cara melepasliarkan," katanya menambahkan.

WRC didirikan 2003 silam di tanah seluas 13,9 hektare. Dulunya dikenal dengan nama Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta (PPSJ) sebelum berganti manajemen pada 2010 usai mengalami krisis finansial dimulai tiga tahun sebelumnya.

WRC kini menampung sejumlah satwa primata, meliputi orangutan, owa Sumatera, kera ekor panjang; unggas, seperti elang, kakak tua, nuri bayan, kasuari Papua; lalu reptil macam buaya, kura-kura byuku; serta mamalia layaknya beruang madu dan binturung.

Hampir semua hewan-hewan ini diperoleh melalui proses penyitaan oleh BKSDA. Ada yang diambil dari rumah makan maupun diserahkan oleh warga yang merasa bosan mengurusnya.

"Ada masyarakat yang melihara dari kecil, sudah gede makannya banyak, susah ngerawat, dikasih ke kita. Istilahnya, kami terima tahinya aja. Jengkel saya karena setelah itu mereka cari yang bayi lagi," bebernya.

AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

Komitmen merawat para satwa liar tidak pernah surut sejengkal pun meski dengan segala kondisi akibat pukulan badai pandemi COVID-19. WRC bersikeras melaksanakan giat lepas liar.

Tahun kemarin setidaknya WRC melepasliarkan 17 individu satwa dilindungi ke habitatnya. Antara lain 5 buaya ke Way Kambas dan beberapa elang dan merak hijau ke Taman Nasional Baluran.

"Setiap satwa memiliki kondisi yang berbeda saat datang ke WRC. Bisa kondisi psikis stress, cacat, dan rehabilitasi ada yang bisa sampai puluhan tahun. Tidak semua satwa bisa dilepasliarkan karena cacat, terlalu tua, kelamaan hidup di kandang, dan kalau kita paksakan sama saja kita membunuh mereka," paparnya.

Melihat jumlah kasus COVID-19 yang masih terus meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera usai, WRC Jogja tetap berusaha untuk menjalankan kegiatan dengan dana dari proses penggalangan dana melalui berbagai cara.

WRC mengapresiasi penuh partner dan donatur yang sudah membantu untuk bisa bertahan hingga hari ini, termasuk di dalamnya adalah pemerintah melalui BKSDA, dan beberapa organisasi konservasi independen dari dalam maupun luar negeri. Seperti Sunbear Outreach, Orangutan Conservancy, COP, dan KRKB Gembira Loka.

AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

Sementara Sangsang (49) salah seorang Animal Keeper WRC yang telah bekerja sejak awal berdiri PPSJ 2003 silam, mengaku tanggung jawab pekerjaan bertambah di masa pandemi COVID-19 ini. Seperti menyortir buah-buahan layak makan. Belum lagi dibutuhkan keterampilan lebih untuk menyuapi satwa yang cacat.

Meski bukan perkara sepele, Sangsang ikhlas melakukannya. Semua demi satwa liar yang ia cintai sepenuh hati.

"Karena saya dari dulu sudah setia, suka sama satwa. Saya bekerja dengan hati," ungkap warga Pengasih tersebut.

Dikisahkannya, pada krisis PPSJ 2007 lalu Sangsang pernah mencarikan pakan untuk para unggas. Berupa kelapa yang ia parut dan bagikan untuk empat burung di pusat rehabilitasi.

"Harapan saya semoga ke depan tetap lancar, situasi kembali seperti kemarin (sebelum pandemi). Saya kan ngerawat burung, ya semoga bisa sampai dilepasliarkan lagi," pungkasnya. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.