Bayang-Bayang Shin Tae-yong dan Perjudian Gagal Erick Thohir Menunjuk Patrick Kluivert

AKURAT.CO, Teriakan nama Shin Tae-yong di tribun Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, Arab Saudi, ketika pemain Timnas Indonesia menghampiri suporter mereka adalah pernyataan yang jelas kepada PSSI.
Lebih spesifik lagi adalah “tusukan” ke arah Ketua Umum PSSI: Erick Thohir. Juga kepada para juru bicaranya, komentator, serta lembaga survei yang mendukung keputusannya memecat Shin Tae-yong dan menunjuk Patrick Kluivert awal tahun ini.
Publik mungkin bisa bersikap fifty-fifty ketika Erick Thohir memilih Patrick Kluivert menggantikan Shin Tae-yong. Suporter Garuda berusaha meredam “marah” dengan bersikap positif terhadap Kluivert.
Namun, kekalahan Timnas Indonesia atas Irak di laga kedua Grup B Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Jeddah, Minggu (12/10) dini hari WIB, lalu itu melepas katup emosi dan pendulum bergerak ke arah kecaman atas pemecatan Shin Tae-yong.
Dunia tahu bahwa Patrick Kluivert tak punya rekam jejak yang positif sebagai pelatih. Lebih lagi jika dibandingkan dengan Shin Tae-yong yang membangun ulang Timnas Indonesia sekaligus membuat orang mulai berani bicara soal peluang ke Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026, Patrick Kluivert: Kami Bermain Lebih Baik dari Irak
Sinyalemen rekam jejak Kluivert itu sebenarnya sudah cukup terasa ketika Indonesia kebobolan sebelas gol melawan negara yang levelnya jauh di atas Garuda pada putaran ketiga. Yakni kalah 1-5 melawan Australia dan 0-6 melawan Jepang.
Namun, orang menghindari suudzon karena sekurang-kurangnya Kluivert bisa mempersembahkan dua kemenangan yang memastikan Timnas Indonesia ke putaran keempat. Yakni menang atas China dan Bahrain di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan skor masing-masing 1-0.
Kemudian tibalah pada hari yang menentukan dan pil pahit harus ditelan dengan kekalahan 2-3 atas Arab Saudi dan 0-1 atas Irak pekan lalu. Sulit bagi suporter untuk tak membandingkan hasil tersebut dengan yang pernah dicapai oleh Shin Tae-yong.
Melalui akun Instagramnya Erick Thohir meminta maaf sambil menyisipkan capaian Timnas Indonesia mencapai putaran keempat dengan menyebutnya sebagai “pertama kali dalam sejarah”.
Pandangan ini mungkin bias. Tetapi Erick tampaknya hendak berselindung di balik “pertama kali dalam sejarah” lolos ke putaran keempat atas kegagalan Patrick Kluivert membawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026.
Bukankah Erick sendiri yang memberikan kesan bahwa ia sengaja mengganti Shin Tae-yong di tengah jalan dengan Patrick Kluivert untuk membawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia.
Jika hasilnya toh Timnas Indonesia pada akhirnya gagal-gagal juga ke Piala Dunia, apa signifikansinya mengganti Shin Tae-yong yang sukses mengalahkan Saudi dan menahan imbang Australia di putaran ketiga?
Baca Juga: Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026, Erick Thohir: Kami Mohon Maaf
Di sini jelas tampak perjudian yang dilakukan Erick Thohir kali ini meleset dari perhitungannya. Bukan saja karena gagal menang di putaran keempat, tetapi juga karena permainan ala Kluivert yang tak meyakinkan.
Jika bukan karena perjudian yang gagal, selebihnya publik hanya bisa meraba-raba. Tampaknya ada urusan personal dan konflik antara Erick Thohir dan Shin Tae-yong yang membuat pria yang juga menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga itu memutus kontrak sang pelatih asal Korea Selatan itu sebelum waktunya.
Manajer Timnas Indonesia, Sumardji, yang sudah mengemban tugas itu sejak era Simon McMenemy, secara tersirat menyebut ada kesalahan pengambilan keputusan yang berdampak pada kegagalan di Jeddah pekan lalu.
Sumardji tak menyebut secara rinci soal kesalahan tersebut. Apakah soal penunjukan Patrick Kluivert ataupun keputusan yang diambil Kluivert terhadap tim.
“Di sana saya akan paparkan semua yang saya alami dan apa yang terjadi,” kata Sumardji tentang rencana yang akan dilakukannya di Rapat Exco PSSI untuk mengevaluasi kinerja Kluivert.
“Agar semua nanti bisa tahu, dan, mohon maaf saja, agar tidak salah mengambil keputusan.”
Proyek naturalisasi jor-joran Erick mungkin tidak gagal. Yang gagal adalah proyek membawa Kluivert ke Timnas Indonesia.
PatrickOut dan Kebiasaan Buruk Pemain Liga 1
Di media sosial seruan untuk memecat Patrick Kluivert sulit dihindari. Tagar #PatrickOut atau #KluivertOut masih jadi tren di X sampai Senin (13/10) siang. Juga ada tagar #ErickOut yang meminta Erick Thohir mundur dari PSSI.
Berarti pula Erick tampaknya tinggal menunggu waktu untuk memutuskan memecat Kluivert dengan desakan tersebut. Mungkin publik yang menyampaikan seruan tersebut “emosional”, namun mereka punya hak dan aspek rasionalnya.
Suka atau tidak suka, perbedaan yang paling signifikan antara Kluivert dan Shin Tae-yong adalah observasi kedua pelatih tersebut terhadap pemain lokal di tengah mayoritas pemain diaspora keturunan Belanda di tubuh Garuda.
Seluruh gol yang membuat Indonesia kalah atas Arab Saudi dan Irak terjadi karena kesalahan. Dan fakta yang harus diterima meski tak mengenakkan, kesalahan-kesalahan tersebut dilakukan oleh pemain-pemain yang bermain di Liga 1.
Di laga melawan Arab Saudi, gol terjadi karena clearance buruk Marc Klok, aksi tarik kaus oleh Yakob Sayuri, dan kontrol bola buruk Ricky Kambuaya saat menerima lemparan ke dalam dari Yakob Sayuri.
“Dan gol dari titik penalti (akibat) kebiasaan buruk Yakob Sayuri di kompetisi Indonesia. Meski Feras Albrikan tidak berbahaya, Sayuri menarik kausnya, dan terjatuh,” kata wartawan senior dan pengamat sepakbola nasional, M Nigara, soal gol penalti Arab Saudi yang disebabkan Yakob Sayuri menarik kaus pemain lawan.
“Sangat sering ia melakukan keisengan yang berbuah pahit itu di kompetisi kita.”
Adapun di laga melawan Irak, gol bermula dari lepasnya bola dari kontrol Rizky Ridho di tepi kiri lapangan.
Kluivert sendiri sejatinya punya pandangan yang baik untuk menciptakan keseimbangan antara pemain naturalisasi dan lokal. Legenda Barcelona itu mengistilahkan dengan ungkapan “pemain lokal adalah jantungnya Timnas Indonesia.”
Masalahnya, Kluivert tampaknya kurang detail dalam soal kebiasaan pemain Indonesia yang bermain di Liga 1 yang bisa berdampak buruk di level internasional seperti Kualifikasi Piala Dunia.
Salah satu kinerja jitu Shin Tae-yong yang tak dilakukan Kluivert adalah pelatih asal Korea Selatan itu fokus pada kebiasaan-kebiasan buruk di Liga 1 yang bisa menjadi bumerang di level internasional.
Dengan kata lain, Shin Tae-yong bekerja keras untuk mengubah kebiasaan pemain Liga 1 seperti salah umpan dan kontrol bola tak akurat. Shin Tae-yong melihat pemain lokal tidak dengan cara yang sama dengan ketika ia melihat pemain naturalisasi.
Pada akhirnya, publik harus menunggu lagi empat atau lima tahun untuk melihat peruntungan sejarah baru Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia. Yang jelas, standar sudah ditegakkan bahwa ke depan target Indonesia tak lagi sekadar lolos ke Piala Asia, tetapi juga Piala Dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









