Akurat

Skandal Pemain Naturalisasi dan Guncangan Sakralitas Identitas Kewarganegaraan Malaysia

Badri | 29 September 2025, 15:07 WIB
Skandal Pemain Naturalisasi dan Guncangan Sakralitas Identitas Kewarganegaraan Malaysia

AKURAT.CO, Sanksi yang dijatuhkan FIFA terhadap Asosiasi Sepakbola Malaysia (FAM) dan tujuh pemain naturalisasi Tim Nasional Malaysia pada Jumat (26/9) tak pelak telah menarik perhatian publik Indonesia.

Selain karena Malaysia adalah negara tetangga dan punya sentimen spesial dalam urusan persaingan sepakbola, juga karena ada pihak dari Negeri Jiran yang membawa-bawa Indonesia dalam kasus ini.

Salah satu indikasinya adalah unggahan Tunku Mahkota Johor aka TMJ yang merupakan figur sentral dalam upaya Timnas Malaysia merekrut tujuh pemain Harimau Malaya yang disanksi FIFA.

Baca Juga: FIFA Sanksi FAM dan 7 Pemain Naturalisasi Timnas Malaysia, Pangeran Johor Duga Ada 'Tangan Asing'

Dalam unggahan di akun X resminya, TMJ menulis “entitas luar yang terlibat memengaruhi FIFA” dan “who was in New York?” yang dianggap mengarah pada Indonesia.

Pasalnya, Presiden Prabowo Subianto sempat bertemu dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino, di sela-sela Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Rabu (24/9).

Sejumlah pemangku kepentingan di Malaysia juga mempertanyakan sanksi yang dijatuhkan FIFA karena diputuskan justru setelah induk organisasi sepakbola dunia tersebut menyetujui naturalisasi ketujuh pemain tersebut.

“Pelik,” kata eks Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Khairy Jamaludin, sebagaimana dipetik dari Sinar Harian.

“FIFA sudah memberikan persetujuan sebagaimana proses ditunjukkan. Ini artinya FIFA sudah memeriksa dokumen dan melakukan upaya selayaknya yang diperlukan sebelum menyetujui tujuh pemain itu bermain.

“Kenapa tukar keputusan sekarang? Siapa yang melakukan pengaduan?”

Melampaui Urusan Sepakbola

Bagi publik Malaysia, tampaknya sanksi FIFA ini tidak lagi dipandang sebagai urusan sepakbola semata. Sejumlah pejabat pemerintahan memberikan penjelasan yang agaknya membingungkan.

Jabatan Pendaftaran Negara (Kantor Catatan Sipil) Malaysia mengakui bahwa mereka tak mendapatkan arsip asli tulisan tangan tentang kelahiran tujuh pemain tersebut atau kerabatnya yang memiliki hubungan dengan Malaysia.

Ini diperlukan karena FIFA mensyaratkan bahwa pemain yang hendak dinaturalisasi setidaknya memenuhi satu dari tiga poin dalam artikel 7 Regulasi Hak Mewakili Tim Nasional. Yakni:

  1. Lahir di wilayah asosiasi (sepakbola) yang dimaksudkan;
  2. Ibu biologis atau ayah biologisnya lahir di wilayah asosiasi yang dimaksudkan;
  3. Kakek atau neneknya lahir di wilayah yang dimaksudkan;
  4. Tinggal di wilayah asosiasi yang dimaksudkan:

    i) Untuk pemain yang mulai tinggal di wilayah yang dimaksudkan sebelum usia sepuluh tahun: sekurang-kurangnya tiga tahun;

    ii) Untuk pemain yang tinggal di wilayah yang dimaksudkan di usia sepuluh sampai 18 tahun: sekurang-kurangnya lima tahun;

    iii) Untuk pemain yang mulai tinggal di wilayah yang dimaksudkan mulai usia 18 tahun; sekurang-kurangnya lima tahun

Karena tak mendapatkan dokumen asli, Kantor Catatan Sipil Malaysia mengeluarkan salinan resmi berdasarkan akta kelahiran yang dianggap berhubungan dengan Malaysia.

FAM sendiri mengakui bahwa tuduhan FIFA ini merupakan kesalahan teknis yang mereka lakukan saat memberikan kewarganegaraan terhadap tujuh pemain naturalisasi.

“FAM menganggap serius masalah ini,” kata Sekretaris Jenderal FAM, Datuk Noor Azman Rahman.

“Walau bagaimanapun FAM ingin menegaskan bahwa para pemain warisan yang terlibat adalah rakyat Malaysia yang sah.”

Baca Juga: TMJ Tidak Menuduh Erick Thohir Mempengaruhi FIFA Hukum Malaysia, Tetapi Vietnam dan Singapura?

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Malaysia, Saifuddin Nasution, menegaskan bahwa pemberian kewarganegaraan terhadap tujuh pemain bersangkutan sesuai dengan regulasi dari pihaknya.

Namun, Saifuddin Nasution mengisyaratkan bahwa ketika FIFA menyatakan dokumen tersebut tidak sah, maka hal tersebut sudah menjadi masalah FIFA dan FAM.

“Semua teliti, kita teliti semua dokumen yang diajukan sebagaimana yang disyaratkan undang-undang,” kata Saifuddin. “Soal FIFA mengambil keputusan terhadap FAM, itu urusan FIFA dengan FAM.”

Narasi Sabotase dan Cemburu

Menteri Komunikasi Malaysia yang juga penasehat salah satu klub sepakbola negaranya, Kuala Lumpur City, Fahmi Fadzil, senada dengan koleganya di Kementerian Dalam Negeri.

Fadzil menegaskan bahwa dokumen pemberian kewarganegaraan sudah sejalan dengan peraturan dan perundang-undangan. Fadzil mensinyalir ada pihak yang tak suka dengan perkembangan Timnas Malaysia.

“Mungkin ada beberapa pihak yang cemburu dan risau tentang kebangkitan Harimau Malaya,” kata Fadzil.

“Kebangkitan” adalah kondisi yang agaknya membuat narasi sabotase dan kecemburuan terhadap Malaysia menjadi pilihan bagi para publik figur yang bisa memengaruhi opini publik.

Tak lain karena Malaysia sukses mengalahkan salah satu tim besar Asia Tenggara, Vietnam, dengan kemenangan meyakinkan 4-0 pada laga kedua Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Asia 2027.

Malaysia meraih kemenangan pada laga di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, 10 Juni, tersebut dengan menurunkan tujuh pemain yang dipersoalkan.

Baca Juga: Jadi Incaran Naturalisasi, Kapten Burnley Josh Brownhill Bantah Punya Keturunan Malaysia

Mereka adalah Gabriel Felipe Arrocha, Imanol Javier Machuca, Facundo Tomas Garces, Rodrigo Julian Holgado, Joao Vitor Brandao Figueiredo, Jon Irazabal Iraurgui, dan Hector Alejandro Hevel Serrano.

Pandangan soal mencemburui kebangkitan Harimau Malaya ini juga disampaikan oleh legenda sepakbola Negeri Jiran yang pernah bermain di Liga Indonesia, Safee Sali.

“Pandangan saya, semua negara tetangga sudah mulai risau dengan kehebatan pasukan Harimau Malaya kita," kata Safee Sali.

Apa Dampaknya Terhadap Sepakbola Malaysia

Sejauh ini, FIFA baru menjatuhkan sanksi denda sebesar 350 ribu Franc Swiss (sekitar Rp7,34 miliar) kepada FAM dan masing-masing 2.000 Franc Swiss (sekitar Rp41,7 juta) untuk masing-masing dari tujuh pemain tersebut.

Yang lebih berat tentu terhadap pemain karena mereka dilarang beraktifitas dalam sepakbola selama setahun. Beberapa di antara mereka sudah merasakan sanksi tersebut karena tak diturunkan klub masing-masing akhir pekan lalu.

Bagi publik Malaysia, sanksi denda dan hukuman terhadap para pemain masih bisa mereka antisipasi. Namun, yang menjadi isu dalam hal ini adalah rasa malu karena dituduh melakukan pemalsuan dan, lebih utama lagi, soal kesakralan kewarganegaraan mereka.

FAM sudah mengajukan banding dengan batas waktu sepuluh hari sejak sanksi FIFA diumumkan. Jika FAM menang maka Malaysia selamat dan berhak mendapatkan pembersihan nama.

Namun, jika mereka kalah, maka sanksi terberat tentu saja didiskualifikasi dari Piala Asia dan kemenangan 4-0 atas Vietnam dibatalkan alias kemenangan 3-0 diberikan untuk Vietnam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
Reporter
Badri
H