Akurat

Port dan Oxford Datang, Garuda Terbang: Balada Prestasi di Langit Nusantara

Endarti | 15 Juli 2025, 18:25 WIB
Port dan Oxford Datang, Garuda Terbang: Balada Prestasi di Langit Nusantara
 
AKURAT.CO, Langit Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, yang menggantungkan harapan sejarah kembali menulis babak baru dalam balada sepakbola Nusantara. 
 
Di mana Piala Presiden 2025 bukan sekadar turnamen pramusim. Namun ia menjelma menjadi panggung peradaban, tempat kisah tentang semangat, kerja keras, dan mimpi-mimpi yang tak mengenal batas benua bermuara dalam satu malam magis.
 
Di Stadion Si Jalak Harupat, tercipta sejarah usai Port FC dari Thailand mengukir namanya sebagai kampiun Piala Presiden 2025.
 
 
Mereka menaklukkan Oxford United dari Inggris dengan skor tipis 2-1. Sebuah kemenangan yang bukan sekadar angka, melainkan gema dari semangat lintas negara, dari Asia Tenggara hingga Eropa.
 
Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Piala Presiden sebagai turnamen prestisius yang sejak awal dirancang sebagai event pramusim berhasil menelurkan juara yang merupakan tim dari luar negeri.  
 
 
Kehadiran Port FC dan Oxford United memang bukan hanya melakukan pertandingan, namun juga seakan pulang ke rumah kedua. 
 
Bukan tanpa alasan. Karena di balik bendera berbeda ada darah Merah Putih yang mengalir di sana. Seperti Asnawi Mangkualam Bahar di Port FC serta Marselino Ferdinan dan Ole Romeny di Oxford United.
 
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, pernah mengatakan bahwa keikutsertaan kedua tim ini sebagai bentuk penghargaan sekaligus kepercayaan pada talenta Indonesia.
 
“Kami harus apresiasi klub internasional yang memainkan pemain Timnas kita,” ujar Erick saat konferensi pers pembuka turnamen. 
 
 
“Karena itu kami mengundang Port FC dari Thailand dan Oxford United dari Inggris. Ini bukan hanya soal bertanding, tapi berbagi visi untuk mengangkat martabat sepakbola Indonesia."
 
Benar saja, kehadiran mereka bukan sekadar formalitas. Oxford United datang membawa semangat pembelajaran dan rasa hormat. 
 
Diutarakan Pelatih Oxford United, Gary Rowett, bahwa para pemainnya mendapatkan kesan mendalam.
 
"Bagi kami, Anda bisa lihat hal itu dari pertandingan final ini. Mungkin Port FC sedikit lebih terbiasa dengan kondisi seperti ini," kata Rowett.
 
"Tapi secara keseluruhan, ini adalah pengalaman yang sangat positif. Kami senang melihat anak-anak Indonesia yang merayakan bersama para pemain selama turnamen ini dan dalam dua minggu terakhir."
 
 
Sementara itu, eks Presiden Port FC dan Presiden Asosiasi Sepakbola Thailand, Nualphan Langsam aka Madam Pang menaruh perhatian lebih pada mentalitas dan disiplin.
 
"Merupakan suatu kehormatan besar bagi Thailand untuk diundang ke Piala Presiden 2025. Ini sangat mengesankan. Ini adalah pengalaman yang sangat baik bagi Port FC untuk mendapatkan kesempatan berada di sini," katanya.
 
"Ini sangat berarti. Ini adalah pertama kalinya saya di Bandung, dan saya sangat terkesan. Saya tahu bahwa penggemar sepakbola di Bandung hampir nomor satu.
 
 
"Terima kasih atas trofi ini. Ini yang pertama, saya rasa ini trofi pertama musim ini untuk Port FC dan juga penghargaan untuk tim perwakilan dari Thailand. Dan saya merasakan persahabatan dan rasa hormat yang sangat baik antara kedua negara, Indonesia dan Thailand. Bangga sekali bisa berada di sini. Terima kasih untuk penggemar sepakbola Indonesia. Salam hangat."
 
Adapun Pelatih Port FC, Alexandre Gama, menilai event Piala Presiden 2025 merupakan wadah untuk memberikan kesempatan pemain muda berkembang.

"Saya sangat senang, kompetisi yang bangus. Kita sangat senang bisa juara piala Presiden 2025," kata Alexandre Gama.

"Talenta muda dan berbakat tidak hanya diciptakan di Inggris saja, bisa diciptakan di Liga Thailand, Indonesia, dan lainnya. Untuk mencetak talenta muda lainnya, berpengaruh pada kekuatan tim, sehingga bisa menciptakan sebuah gol."
 
Piala Presiden 2025 kali ini memang berbeda. Hanya enam tim yang ambil bagian, yakni empat dari dalam negeri: Arema FC, Persib Bandung, Dewa United, dan tim Indonesia All Star.
 
Serta dua tamu agung dari luar negeri, Oxford dan Port. Namun sedikit bukan berarti sempit, karena dalam ruang kecil itulah nyala besar justru membara.
 
 
Tim Indonesia All Star, yang dipilih langsung oleh publik, digawangi pelatih berpengalaman Rahmad Darmawan. RD-sapaan Rahmad-mengakui betapa pentingnya turnamen ini sebagai wahana pembelajaran dan penguatan mental.
 
“Laga melawan Oxford itu pengalaman langka. Pemain-pemain kita harus menyerap pelajaran sebanyak mungkin. Karena lawan mereka bukan sembarangan, ini klub dari negara tempat sepakbola lahir,” ujar RD, penuh antusiasme.
 
Turnamen ini juga menyentil luka lama sepakbola tanah air peringkat liga domestik Indonesia yang masih tertinggal dari negara-negara tetangga. Thailand, negeri dari mana Port FC berasal, kini menempati peringkat liga terbaik se-Asia Tenggara.
 
Maka dari itu, bertarung dengan tim-tim semacam ini adalah cermin dan cambuk sekaligus pelita yang menerangi jalan pembenahan.
 
Piala Presiden 2025 telah berakhir. Namun gaungnya tak redup, justru baru menggelegar. Port FC mungkin juaranya, Oxford United mungkin pulang tanpa trofi, tapi sepakbola Indonesia adalah pemenang sesungguhnya  karena dari pertemuan ini kita belajar bahwa prestasi tak lagi angan, melainkan tujuan yang kian mendekat.
 
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
Reporter
Endarti
H