Luis Enrique di Antara Dua Treble, Mendiang Xana, dan Permainan Bertahan Ousmane Dembele

AKURAT.CO, Pasca sukses membawa Barcelona meraih treble di musim 2014-2015, karier Luis Enrique sebenarnya relatif di luar radar jika dibandingkan dengan pelatih peraih gelar Liga Champions lainnya seperti Pep Guardiola, Jose Mourinho, atau Carlo Ancelotti.
Seakan-akan, trigelar dengan trisula MSN–singkatan Messi-Suarez-Neymar–sepuluh tahun lalu itu tidak cukup untuk menahbiskan Luis Enrique sebagai salah satu pelatih terbaik sepanjang sejarah.
Tetapi kini publik sepakbola dunia tak bisa tidak untuk menekukkan lutut di hadapan Luis Enrique setelah sang pelatih berusia 55 tahun itu membawa Paris Saint-Germain (PSG) meraih gelar Liga Champions 2024-2025.
Baca Juga: Superior! PSG Rebut Gelar Liga Champions Pertama dengan Bobol Inter Milan 5 Gol tak Berbalas
Gelar Liga Champions itu bukan sekadar gelar karena merupakan satu dari empat trofi yang direbut Enrique untuk PSG musim ini. Sekaligus mengulang treble yang pernah dilakukannya bersama Barcelona.
Capaian bersama PSG musim ini membuat juru taktik kelahiran Gijon, Spanyol, 8 Mei 1970, itu kini bersanding bersama eks rekan setimnya semasa masih menjadi pemain di Barcelona, Pep Guardiola, sebagai pelatih yang dua kali meraih treble.
Lebih dari itu, kepiawaian Enrique sebagai pelatih kelas dunia ditunjukkan dengan penampilan PSG yang mengalahkan Inter dengan skor 5-0 pada final Liga Champions di Stadion Allianz Arena, Munchen, Jerman, Sabtu (31/5).
Itu adalah kemenangan dengan selisih terbesar dalam sejarah final Liga Champions. Sekaligus dengan permainan di mana PSG bisa memporak-porandakan sistem pertahanan ala Italia Inter Milan yang termahsyur itu.
Sepuluh tahun antara treble pertamanya di Berlin pada 2015 dan yang terbaru di Munchen tahun ini sejatinya adalah tahun yang berat bagi Enrique. Terutama karena ia kehilangan putri bungsunya, Xana, yang meninggal di usia sembilan tahun karena kanker tulang pada 2019.
Situasi yang melanda Xana membuat Enrique yang ketika itu bertugas sebagai Pelatih Tim Nasional Spanyol mundur secara “diam-diam” tanpa menyebutkan alasan. Publik baru mengetahuinya setelah Xana meninggal dunia dan Enrique kembali ke Timnas Spanyol yang dipimpin oleh asistennya, Robert Moreno, semasa ia absen.
Baca Juga: Manajemen Inter Milan Tegaskan Kekalahan atas PSG tak Berdampak Pada Posisi Simone Inzaghi
“Kamu akan menjadi bintang yang memandu keluarga kita,” tulis Enrique sebagai penghormatan terhadap Xana saat sang putri meninggal dunia.
Enam tahun setelah kepergian Xana, Enrique mendapatkan ucapan terimakasih yang emosional dari suporter PSG. Di tribun Allianz Arena, suporter Les Parisien membentangkan tifo raksasa dengan gambar Enrique memancangkan bendera PSG bersama Xana di sampingnya.
Gambar tifo tersebut merupakan replika foto pasca final Liga Champions 2014-2015 ketika Barcelona mengalahkan Juventus dengan skor 3-1 di Berlin. Ketika itu, Enrique menancapkan bendera Barcelona disaksikan oleh Xana.
Sungguhpun begitu, Enrique sendiri berusaha “datar” dengan gestur yang ditunjukkan suporter PSG dengan baliho tersebut. “Itu baik tetapi saya tidak perlu memenangi Liga Champions untuk mengenang putri saya,” kata Enrique.
Kredit Luis Enrique untuk Ousmane Dembele
Ousmane Dembele adalah salah satu rekrutan baru PSG beriringan dengan datangnya Enrique ke Paris. Winger berusia 28 tahun itu hengkang dari Barcelona dengan sedikit pahit karena kepergiannya tidak disukai oleh sebagian suporter.
Dua tahun bersama Enrique Ousmane Dembele tak ayal menjadi pemain kunci bagi PSG. Total ia bermain di 91 pertandingan di seluruh kompetisi dengan sumbangan 39 gol.
Kemenangan di final Liga Champions juga membuat Ousmane Dembele kini berada di posisi terdepan sebagai kandidat pemenang Ballon D’Or. Kemungkinan pemain Timnas Prancis berusia 28 tahun itu akan menyingkirkan duo winger Barcelona sebagai pesaing terbesarnya, Lamine Yamal dan Raphinha.
Dembele memang tidak mencetak gol dalam kemenangan besar PSG melawan Inter. Namun pemain ini menyumbang satu assist dan manuvernya menjadi penentu dalam build-up yang berbuah gol.
Luis Enrique sendiri justru memberikan penilaian yang kontras terhadap peran Dembele di laga melawan Inter. Meski Dembele adalah pemain menyerang, Enrique justru memberikan penghargaan atas aksi sang winger membantu pertahanan.
“Semua orang bicara tentang Ballon D’Or. Saya akan memberikannya ke Dembele karena kinerja bertahannya melawan Inter,” kata Enrique. “Dia menunjukkan dari apa dia tercipta. Dia adalah seorang pemimpin, dia rendah hati.”
Sehari setelah final, Dembele dan Enrique turut dalam arak-arakan tim PSG digelar di jalanan Paris. Malam harinya, suporter berkumpul di stadion kebanggaan mereka, Parc Des Princes, untuk merayakan sejarah meraih gelar Liga Champions pertama yang sensasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









