Pertandingan Sepakbola Akhirnya Digelar Lagi di Reruntuhan Gaza setelah 2,5 Tahun Perang

AKURAT.CO, Dua setengah tahun sejak dimulainya perang di Jalur Gaza, pertandingan sepakbola akhirnya digelar untuk kali pertama di kawasan Palestina tersebut pada Senin (9/10).
Channel News Asia menyebut bahwa pertandingan resmi ini dilaksanakan di lapangan mini lima lawan lima yang lebih tepat disebut dengan pertandingan futsal.
Dua tim yang bertanding adalah Jabalia Muda melawan Al Sadaqa sementara pada jadwal kedua ada laga Beit Hanoun vs Al Shujaiya. Adapun lapangannya terletak di arena reruntuhan di distrik Tal Al Hawa.
Baca Juga: Bagaimana Serangan Israel Menghancurkan Kemeriahan Olahraga di Palestina?
Bocah-bocah lelaki memanjat tembok-tembok rusak atau mengintip melalui lubang dari reruntuhan untuk melihat pertandingan. Seorang penonton dikabarkan memukul tetabuhan.
“Bingung. Gembira, sedih, bahagia, gembira,” kata salah satu pemain Jabalia Muda, Youssef Jendiya, menggambarkan perasaannya kembali bermain sepakbola setelah 2,5 tahun perang bergulir.
Menurut Youssef Jendiya, 21 tahun, warga Gaza masih hidup dalam kesulitan. Mereka mencari makanan pada pagi hari namun bermain sepakbola menunjukkan bahwa kegembiraan masih memberikan harapan.
“Orang-orang mencari air di pagi hari, makanan, roti. Hidup sedikit sulit. Tetapi masih ada yang tersisa sedikit dari hari, ketika Anda bisa datang dan bermain sepakbola dan mengekspresikan kegembiraan dalam diri Anda,” kata Youssef Zendiya.
Baca Juga: Makin Lantang Bicara Soal Genosida di Palestina, Pep Guardiola dalam Posisi Berisiko?
“Anda datang ke stadion merindukan banyak rekan setim Anda… (yang) terbunuh, cedera, atau mereka yang harus melakukan perjalanan untuk perawatan. Jadi kegembiraannya tidak penuh.”
Pertandingan sepakbola di Gaza pada awal pekan ini terjadi setelah empat bulan gencatan senjata dilakukan. Namun demikian, nyaris belum ada pembangunan ulang di kawasan tepian Laut Mediterania tersebut.
Adapun Stadion Yarmouk yang berkapasitas 9.000 tempat duduk di Gaza diratakan oleh pasukan Israel selama perang dan sempat dijadikan sebagai pusat penahanan warga Palestina.
Kini bekas stadion tersebut menjadi area tenda tempat pengungsi Palestina. Lokasi lapangannya sendiri ditutupi debu berwarna coklat.
“Apapun yang terjadi dalam hal penghancuran dan perang genosida, kami terus bermain, dan terus hidup. Hidup harus dilanjutkan,” kata pemain Beit Hanoun berusia 31 tahun, Abu Awda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









