Pasang Surut Naturalisasi Timnas Indonesia di Era Shin Tae-yong, Ancaman atau Peningkatan?

AKURAT.CO, “Saya bisa membuat satu tim dengan pemain bagus dengan pemain berdarah campuran. Saya juga berpikir orang Indonesia pasti berharap bisa meraih prestasi bagus dengan pemain yang ada di Indonesia.”
Ucapan di atas disampaikan Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-y0ng, pada Desember 2021 menjelang ia sukses membawa Garuda ke final Piala AFF 2020. Lebih dua tahun sejak itu, Shin Tae-yong makin gencar merekrut pemain keturunan.
Fenomena pemain naturalisasi yang diterapkan Shin Tae-yong, bagaimanapun, dikritik secara terbuka namun diterima secara pasif. Pengamat sepakbola seperti Tomy Welly, misalnya, menyebut Shin Tae-yong malas meninjau Liga 1 dan lebih memilih pemain naturalisasi.
Sementara itu, suporter menerima secara diam-diam selama para pemain yang sebagian besar lahir dan besar di Belanda itu bisa memberikan kemenangan untuk Timnas Indonesia. Namun, jauh di lubuk hati mereka, suporter tetap lebih suka pemain lokal yang mendominasi skuad nasional mereka.
Baca Juga: Indonesia vs Vietnam: Menang Tiga Gol di Hanoi, Garuda Patahkan Kutukan 20 Tahun
Sebagai orang Asia, Shin Tae-yong menyadari ego kebangsaan seperti itu. Sebagaimana yang terjadi di Timnas Korea Selatan yang sukses mengandalkan pemain-pemain lokal mereka.
Namun demikian, pada saat yang sama sepakbola adalah soal hasil. PSSI dan suporter ingin hasil yang langsung tersedia di depan mata dan menyerahkan semuanya kepada Shin Tae-yong dengan otoritasnya sebagai pelatih Timnas Indonesia.
Cukup menyakitkan memang meski demikianlah adanya untuk menerima fakta bahwa pemain lokal tak cukup untuk membuat Timnas Indonesia setidaknya bersaing di kancah Asia pada hari-hari ini. Atas situasi itu, maka jalan naturalisasi harus diterima dengan berat hati.
Shin Tae-yong, dengan pengalamannya memimpin Korea Selatan di Piala Dunia Rusia 2018 dengan kemenangan bersejarah atas juara bertahan Jerman ketika itu, mengambil jalan tengah: merekrut hanya pemain asing berdarah Indonesia.
Maka sejak Shin Tae-yong melatih Timnas Indonesia, tercatat sudah ada 12 pemain asing berdarah Indonesia yang di-WNI-kan. Mereka semua tersebar di semua posisi kecuali penjaga gawang.
Kemungkinan jumlah itu masih bisa bertambah jika melihat peran yang ditunjukkan para pemain peranakan tersebut. Semakin Shin Tae-yong bisa membuktikan keputusannya tepat, maka sulit untuk menghentikan perekrutan pemain keturunan.
“Ini (pemain yang dinaturalisasi) bukan pemain-pemain yang tidak punya darah Indonesia, tetapi pemain-pemain keturunan,” kata Shin Tae-yong pada Februari lalu sebelum berangkat ke Eropa untuk memantau pemain Timnas Indonesia yang berkiprah di sana dan kandidat pemain keturunan yang ingin direkrutnya.
Pasang Surut Pemain-Pemain Indo
Dalam perjalanannya, Shin Tae-yong tidak selalu menempuh jalan mulus dengan kualitas pemain-pemain keturunan ini. Dalam beberapa pertandingan, pemain-pemain ini justru menjadi biang kekalahan.
Umumnya, Shin Tae-yong akan memainkan lima pemain keturunan dan lima pemain lokal seperti yang dilakukannya di Kualifikasi Piala Dunia 2026 dan Piala Asia 2023 pada Desember-Januari silam. Untuk memberikan kesan bahwa pemain lokal tak didominasi pemain keturunan.
Keberhasilan pertamanya adalah ketika Elkan Baggott memperkuat Timnas Indonesia di Piala AFF 2020. Kemudian ketika Ivar Jenner mencetak gol dalam kemenangan 2-0 atas Turkmenistan di Kualifikasi Piala Asia 2023 pada September tahun lalu.
Namun, badai melanda ketika eksperimen Shin Tae-yong diuji untuk pertarungan resmi pertama di Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Irak, November silam. Bertandang ke Basrah ketika itu Timnas Indonesia lumat dengan skor 1-5 dengan hampir seluruh gol tersebut terjadi karena kesalahan pemain keturunan.
Hal yang sama terjadi ketika Timnas Indonesia bermain melawan Irak dan Jepang di Piala Asia. Salah satu pemain keturunan, Sandy Walsh, bahkan melakukan gol bunuh diri di laga menghadapi Jepang.
Baca Juga: Pengamat Sebut Naturalisasi 'Bedol Belanda' Dilakukan karena Shin Tae-yong Malas Pantau Liga 1
Setelah jeda sekitar 1,5 bulan sejak Piala Asia, Shin Tae-yong mendapatkan lima pemain keturunan lagi yang naturalisasinya dikebut oleh PSSI. Mereka adalah Jay Idzes, Nathan Tjoe-A-On, Ragnar Oratmangoen, Thom Haye, dan Maarten Paes.
Empat dari nama-nama itu diberikan kesempatan tampil di dua laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Vietnam dalam sepekan terakhir. Hasilnya? Mengesankan!
Garuda menang 1-0 di Gelora Bung Karno pada 21 Maret dan mematahkan kutukan tak pernah menang di kandang Vietnam dengan mengalahkan rival besar sesama ASEAN tersebut dengan skor 3-0, semalam.
Dua kemenangan itu mengantarkan Indonesia ke posisi kedua klasemen Grup F Kualifikasi Piala Dunia 2026 dan sangat berpeluang melangkah ke putaran ketiga. Jika lolos ke putaran ketiga, Timnas Indonesia juga akan lolos secara otomatis ke Piala Asia 2027 yang akan digelar di Arab Saudi.
Kini, para pengamat mulai melunak dengan kebijakan Shin Tae-yong merekrut pemain keturunan. Alasan kekentalan nasionalisme menjadi relatif karena mereka bisa melihat pemain yang lahir melalui sejarah kolonialisme itu benar-benar bermain selayaknya orang yang lahir dan tumbuh di Indonesia.
Pun demikian, sejak lama PSSI juga punya orientasi untuk mengembangkan pemain lokal yang bisa berprestasi ke tingkat dunia. “Garuda Mendunia” adalah slogannya.
Orientasi itu tak boleh dilupakan karena sejatinya kebijakan merekrut pemain keturunan yang punya sentuhan kelas Eropa dilakukan untuk memberikan hasil jangka pendek.
Liga 1 tetaplah harus menjadi tulang punggung masa depan untuk mendapatkan pemain asli Indonesia. Bukan berarti naturalisasi harus dihentikan atau yang lebih ekstrem bersikap “antinaturalisasi”.
Naturalisasi akan menjadi wajar jika pemain lokal sudah bisa bersaing di Eropa dengan pemain-pemain keturunan. Sebagaimana yang terjadi dengan negara-negara Afrika Timur seperti Aljazair dan Tunisia yang punya pemain lokal dan naturalisasi–kebanyakan dari Prancis–dengan kualitas setara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 2Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 3Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 4FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 5Soal Dualitas Alumni Universitas Trisakti, Menteri Maman: Hanya Ada Satu Ikatan yakni IKA Trisakti
- 6Prediksi Skor Roma vs Inter 19 September 2026: Duel Dua Tim Sempurna di Olimpico
- 7Gerindra Buka Pintu Koalisi 2029, Begini Respons PDIP
- 8Prediksi Skor Sevilla vs Barcelona 20 September 2026: Blaugrana Diprediksi Menang
- 9OTT Lagi, KPK Amankan Bupati Bolaang Mongondow Utara Bersama 13 Orang Lainnya
- 10Sidang Sudewo Ricuh, KPK Tegaskan Tuntutan Disusun Berdasarkan Fakta








