F1 GP Qatar: Perebutan Gelar Memanas, Lando Norris Favorit Max Verstappen Bidik Hattrick

AKURAT.CO, Persaingan gelar juara dunia Formula One 2025 memasuki titik paling menentukan saat F1 GP Qatar digelar di Sirkuit Lusail, Lusail, Minggu (30/11).
Dua kandidat terkuat, Lando Norris dan Max Verstappen, tiba dengan tekanan berbeda namun sama-sama membawa ambisi besar dalam dua seri penutup.
Max Verstappen, yang memburu kemenangan ketiga beruntun di F1 GP Qatar, datang bukan sebagai unggulan utama.
Baca Juga: Duo McLaren Didiskualifikasi di Las Vegas, Peluang Max Verstappen Terbuka di 2 Seri Pamungkas
Momentum kuat ada di tangan Lando Norris yang kini berada di ambang mengunci gelar dunia perdananya.
Pembalap dari tim McLaren itu memimpin klasemen F1 2025 dengan selisih 24 poin atas Max Verstappen, margin yang cukup untuk menentukan nasibnya sendiri dalam dua seri tersisa.
Selain itu, kejutan juga bisa dihadirkan pembalap McLaren lainnya, Oscar Piastri, jika Norris dan Verstappen melakukan kesalahan pada dua seri terakhir.
Pembalap Australia itu bisa merangsek naik ke puncak klasemen lantaran saat ini dia berada di posisi tiga besar. Tepatnya di peringkat kedua dengan koleksi total 366 poin, setara Verstappen yang ada di tempat ketiga.
Norris hanya perlu menjaga konsistensi dan finis setidaknya dua poin lebih baik dari Verstappen untuk memastikan gelar lebih cepat.
Jika sukses, ia akan menjadi pembalap Inggris pertama yang menjuarai F1 sejak era kejayaan Lewis Hamilton. Sekaligus membuka kans McLaren merebut gelar ganda pembalap dan konstruktor untuk pertama kali sejak 1998.
Oscar Piastri masih punya peluang secara matematis, meski performanya menurun dalam beberapa pekan terakhir.
Peluangnya juga dipengaruhi insiden di GP Las Vegas ketika ia dan Norris didiskualifikasi akibat keausan skid-block yang berlebihan.
Situasi tersebut justru menghidupkan kembali kesempatan Verstappen mengejar setelah memangkas 104 poin sejak awal September.
Baca Juga: F1 GP Las Vegas: Verstappen Tak Terbendung, Norris Kokoh di Puncak Klasemen
Namun, Kepala Tim McLaren, Andrea Stella, menegaskan bahwa timnya tetap menjaga keadilan penuh di antara dua pembalapnya.
"Kami tidak akan menutup pintu kecuali ditutup oleh matematika," ujar Stella dikutip AFP.
Rekam jejak Stella dalam perebutan gelar memberi McLaren pijakan emosional yang kuat. Ia pernah menjadi insinyur Kimi Räikkönen saat merebut gelar 2007 bersama Ferrari.
Ketika itu Raikkonen menyalip duo McLaren, Fernando Alonso dan Lewis Hamilton, meski tertinggal 17 poin dengan dua seri tersisa.
Ia juga terlibat langsung dalam drama Abu Dhabi 2010 ketika titel lepas dari tangan Alonso dan beralih kepada Sebastian Vettel.
Dengan latar pengalaman tersebut, Stella menilai peluang Piastri belum tertutup. Karakter Sirkuit Lusail yang cepat dan menuntut adaptasi teknis bisa membuka ruang bagi Piastri untuk bangkit.
Strategi Dua Pit Stop Jadi Kunci di F1 GP Qatar
GP Qatar berpotensi menghadirkan kejutan. Pirelli mewajibkan minimal dua pit-stop setelah menganalisis tingkat keausan ban yang ekstrem.
Setiap set ban hanya boleh digunakan maksimal 25 lap, sebuah batasan ketat yang membuka ruang perjudian strategi.
Kondisi ini bisa dimanfaatkan tim lain seperti Mercedes atau Ferrari untuk merangsek ke perebutan podium, sekaligus mengganggu kalkulasi gelar Norris dan Verstappen.
Jika skenario tak terduga terjadi di Lusail, pertarungan gelar bisa berlanjut hingga Abu Dhabi dalam kondisi "winner takes all".
Dengan tekanan yang kian membesar dan marjin yang kini menipis, F1 GP Qatar diprediksi menjadi salah satu seri paling krusial dalam satu dekade terakhir.
Verstappen masih menggenggam pengalaman dan mentalitas juara, sementara Norris tinggal selangkah menuju sejarah.
Dua pembalap, dua pendekatan, satu gelar. Drama akhirnya akan terjawab di bawah lampu Lusail.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









