Akurat

Tim Ad Hoc Olimpiade Tekankan Pentingnya Sport Science, Indonesia tak Boleh Ketinggalan

Leo Farhan | 27 Maret 2024, 12:37 WIB
Tim Ad Hoc Olimpiade Tekankan Pentingnya Sport Science, Indonesia tak Boleh Ketinggalan
 
 
AKURAT.CO, Bulutangkis sebagai salah satu cabang olahraga favorit di Indonesia diharapkan bisa mengimbangi kemajuan zaman yang mengarah pada pemanfaatan sport science, teknologi, dan big data.
 
Ketua Tim Ad Hoc PBSI untuk Olimpiade 2024 Paris, M Fadil Imran, menyatakan bahwa hal ini harus segera direspons oleh seluruh pemangku kepentingan olahraga di Tanah Air.
 
Seperti yang sudah dilakukan pihaknya, di mana PBSI melakukan sejumlah inovasi agar Indonesia tetap berada di pincak panggung bulutangkis dunia.
 
 
"Sekarang trennya ke arah sana. Ada sport science, teknologi analisis video, database. Kita tidak boleh ketinggalan. Talenta pemain adalah modal dasar," kata Fadil di Jakarta, Rabu (27/3).
 
"Ini harus dikembangkan dengan pendekatan yang modern, yakni penerapan sport science. Kita sudah mulai dan pelan tapi pasti kita lihat hasilnya di tur Eropa ini."
 
Berkaca pada hasil BWF World Tour Super 300 Swiss Terbuka akhir pekan lalu, Indonesia mampu membawa pulang satu gelar juara dan dua medali perak.
 
Duet ganda putri Lanny Tria Mayasari/Ribka Sugiarto keluar sebagai yangvterbaik, diikuti posisi runner-up di ganda putra melalui Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana dan tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung.
 
Prestasi ini sekaligus melengkapi pencapaian sebelumnya di ajang All England Terbuka dan Orleans Masters.
 
 
Penerapan sport science diharapkan bisa menghasilkan pola latihan yang terukur dan tailor-made serta dapat dipantau secara real time.
 
"Di sini pentingnya analisis performa menyediakan data kuantitatif dan real time. Ini penting karena jadwal turnamen yang padat sepanjang tahun," ungkap Fadil.
 
"Atlet kita harus mendapat program latihan, bertanding, fisioterapi, nutrisi, dan recovery yang terukur sehingga penampilannya bisa stabil. Program itu dirancang per individu, karena tidak ada manusia yang sama."
 
Untuk bisa terus mengejar inovasi tersebut, Fadil bahkan melibatkan para pakar berpengalaman dari sejumlah kampus terkemuka.
 
Profesor Nicolaas C Budhiparama, dokter spesialis orthopedi dan 1 traumatologi lulusan Universitas Leiden, Belanda, menjadi direktur medis tim Olimpiade 2024 Paris. Ia memimpin tim dokter, nutrisi, fisioterapi, dan masseur.
 
Di bidang psikologi olahraga, ada Profesor Hamdi Muluk dan Profesor M Enoch Markum, keduanya adalah guru besar psikologi Universitas Indonesia (UI), serta Lilik Sudarwati, Ketua Ikatan Psikologi Olahraga (IPO).
 
PBSI juga mengajak dosen Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, M Nanang Himawan Kusuma, untuk
menggawangi analisis performa.
 
Yang menarik, Lilik dan Nanang adalah mantan atlet dengan prestasi membanggakan. Pernah menjadi juara dunia junior pada 1987-1988 untuk nomor ganda putri dan ganda campuran, Lilik merupakan anggota tim Piala Uber 1988 dan 1990 serta berpartisipasi di SEA Games dan Asian Games.
 
Sementara, Nanang adalah atlet nasional lompat tinggi era 2000-an yang berhasil menembus peringkat keenam Asia pada 2004. Selesai jadi atlet, keduanya menjadi akademisi yang tidak jauh-jauh dari olahraga

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

L
Reporter
Leo Farhan
H