Akurat

Ini Sederet Evaluasi PBSI Usai Sejarah Buruk Indonesia Di Asian Games

Hervin Saputra | 12 Oktober 2023, 14:56 WIB
Ini Sederet Evaluasi PBSI Usai Sejarah Buruk Indonesia Di Asian Games

AKURAT.CO, Usai berakhirnya Asian Games 2023, perwakilan bulutangkis Indonesia resmi pulang tanpa membawa satu medali pun. Hal ini menjadi perhatian besar bagi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dalam rapat evaluasi pada Senin (9/10) kemarin.

Hasilnya, terdapat beberapa poin evaluasi yang disampaikan langsung oleh Kepala Bidang Pembinaan Prestasi, Rionny Mainaky, pada Rabu, 11 Oktober 2023 di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur.

Mewakili tim bulutangkis Indonesia, Ronny Mainaky menyampaikan permohonan maaf serta rasa tanggung jawabnya selaku Kabid Binpres PP PBSI. Pertanggungjawaban kegagalan ini disampaikam kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga, Komite Olimpiade Indonesia (NOC)dan seluruh masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Soal Kegagalan Bulutangkis Di Asian Games, Ini Kata Menpora

Ucapan terima kasih juga disampaikan atas dukungan, motivasi, saran, kritik, serta masukan dari berbagai pihak. Ia menyatakan seluruh pelatih, pengurus harian, dan team support berkomitmen untuk berbenah, tidak saling menyalahkan, dan mencari solusi atas segala kekurangan yang ada.

Ia juga menyampaikan bahwa kegagalan yang terjadi bukan semata dipengaruhi faktor fisik pemain, melainkan tekanan mental untuk meraih juara dan tidak boleh kalah. Para pemain tampil tegang, tertekan, tidak menikmati permainan, dan terbeban untuk menang sehingga mempengaruhi konsentrasi permainan mereka.

Diantaranya Jonatan Christie yang merupakan pemain tunggal putra tampil ragu-ragu karena tidak mau mengecewakan tim namun justru banyak melakukan kesalahan sendiri.

Baca Juga: Pasca Asian Games, Kerja Berat Menanti Bulutangkis Menuju Olimpiade Paris

Begitu pula Gregoria Mariska Tunjung. Pemain tunggal putri ini tampil tegang sehingga melakukan banyak kesalahan karena ragu-ragu. Sedangkan Fajar/Rian, pemain ganda putra bermain dengan speed dan power yang lemah serta strategi yang monoton.

Seluruh pelatih dan pemain berkomitmen menjadikan tekanan dan keinginan untuk menang sebagai motivasi, bukan beban. Kebugaran fisik pemain akan terus ditingkatkan dan segala cedera akan segera ditangani ahlinya.

Selain itu, massa lemak tubuh turut menjadi perhatian khusus dengan memantau asupan gizi dan nutrisi pemain. Psikolog serta pakar motivasi, baik dari dalam maupun luar PBSI, juga dihadirkan bagi kebutuhan pemain mendapatkan pendampingan dan konseling.

Pembenahan strategi pengiriman pemain dalam turnamen tertentu juga dilakukan agar pemain dapat tampil maksimal dan mengurangi risiko cedera. Begitu juga tim video analist yang membantu pemain menganalisis lawan turut ditingkatkan.

Selain itu, menuju Olimpiade Paris 2024, PBSI membentuk Tim Pokja yang diketuai Fadil Imran, selaku Sekjen PP PBSI, dengan melibatkan ahli lainnya demi kesuksesan pemain pada ajang tersebut.[] 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.