Final IBL: Kontroversi Kepemimpinan Wasit Membayangi, Kehadiran Wasit Asing Kembali Disorot

AKURAT.CO, Persaingan sengit antara Pelita Jaya Jakarta dan Bogor Hornbills dalam seri final IBL 2026 tak hanya menghadirkan duel menarik di lapangan, tetapi juga memunculkan perdebatan terkait kualitas kepemimpinan wasit.
Hingga tiga pertandingan yang telah dimainkan, Pelita Jaya masih memimpin dengan keunggulan 2-1 atas Bogor Hornbills.
Kedua tim dijadwalkan kembali bentrok pada gim keempat yang berlangsung di GOR Laga Tangkas, Pakansari, Bogor, Jumat 26 Juni 2026 malam WIB.
Meski tensi pertandingan terus meningkat, perhatian publik basket nasional justru kembali tertuju pada sejumlah keputusan wasit yang dinilai kontroversial sepanjang babak playoff hingga final musim ini.
IBL sendiri menerapkan sistem tiga wasit dalam partai puncak, terdiri dari dua pengadil asing yang direkomendasikan FIBA serta satu wasit lokal Indonesia.
Pada gim ketiga, pertandingan dipimpin oleh wasit asal Jepang, Urushima, wasit Arab Saudi, Alhejaili, dan wasit Indonesia, Budi Marfan.
Namun, kehadiran perangkat pertandingan internasional tersebut belum sepenuhnya menghilangkan perdebatan mengenai konsistensi penerapan aturan di lapangan.
Salah satu insiden yang paling banyak dibahas terjadi pada gim ketiga ketika pemain andalan Bogor Hornbills sekaligus MVP IBL 2026, Travin Thibodeaux, dinyatakan foul out.
Dalam pertandingan tersebut, ia menerima dua offensive foul yang turut memengaruhi jalannya laga.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada keputusan technical foul yang diberikan kepada pelatih Bogor Hornbills.
Momen tersebut memicu berbagai reaksi dari suporter maupun pengamat basket yang mempertanyakan dasar pengambilan keputusan wasit.
Perdebatan semakin menguat saat terjadi kontak antara Travin Thibodeaux dan pemain Pelita Jaya, Jeff Withey.
Awalnya, insiden tersebut hanya dinilai sebagai personal foul oleh perangkat pertandingan.
Namun, setelah pelatih Pelita Jaya, Dave Singleton, mengajukan coach's challenge, wasit melakukan peninjauan ulang dan mengubah keputusan menjadi unsportsmanlike foul.
Keputusan itu kemudian memunculkan diskusi baru mengenai standar penilaian pelanggaran dalam pertandingan level tertinggi IBL.
Mengacu pada aturan resmi FIBA dan regulasi kompetisi IBL, tindakan hooking yang dianggap berlebihan atau berpotensi membahayakan lawan dapat dikategorikan sebagai pelanggaran yang lebih berat.
Bahkan, liga memiliki kewenangan untuk melakukan evaluasi pascapertandingan dan menjatuhkan sanksi tambahan apabila ditemukan pelanggaran yang memenuhi ketentuan.
Sorotan terhadap kepemimpinan pertandingan juga datang dari kalangan penonton yang mengikuti langsung seluruh rangkaian final.
Danny, pendukung Pelita Jaya yang hadir sejak gim pertama, menilai perhatian publik seharusnya lebih banyak tertuju pada kualitas permainan dibanding kontroversi officiating.
"Sebagai pendukung Pelita Jaya tentu saya ingin tim saya menang. Tapi lebih dari itu, saya ingin pertandingan ditentukan oleh kualitas permainan pemain dan pelatih. Sayangnya, setelah hampir setiap gim yang ramai dibahas justru keputusan wasit. Final sebesar ini seharusnya dikenang karena basketnya, bukan karena kontroversinya," kata Danny.
Pandangan serupa juga disampaikan Tedi, pendukung Bogor Hornbills. Menurutnya, seluruh pihak berharap pertandingan berlangsung dengan standar yang sama bagi kedua tim sehingga hasil akhir benar-benar mencerminkan performa di lapangan.
"Saya mendukung Hornbills, tetapi saya juga ingin pertandingan berjalan dengan adil dan konsisten untuk kedua tim. Menurut saya, masih ada beberapa keputusan yang membingungkan penonton. Wasit asing diharapkan bisa meningkatkan kualitas pertandingan sehingga siapa pun yang menang nanti benar-benar menang karena permainan di lapangan," ujar Tedi.
Masukan dari dua pendukung yang berasal dari kubu berbeda tersebut menunjukkan bahwa isu kepemimpinan wasit kini telah berkembang menjadi persoalan kredibilitas kompetisi.
Menjelang gim keempat, publik basket Indonesia berharap sorotan utama kembali tertuju pada kualitas permainan para pemain dan strategi pelatih, sehingga penentuan juara IBL 2026 tidak lagi dibayangi polemik officiating.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 4Diduga Singgung Status Pendatang Shin Tae-yong, Direktur Teknik Java United Lakukan Rasisme?
- 5Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 6Bantah Tuduhan Konspirasi Wasit, Presiden La Liga Sebut Real Madrid Hidup di 'Dunia Lain'
- 7Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 8Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Tiga Laga Menanti di Grup A
- 9Prabowo Pantau Penanganan Karhutla, Sebanyak 209,78 Hektare Masih Proses Pemadaman
- 10Komisi III DPR Berkomitmen All Out Jadikan RUU Perampasan Aset Super Prioritas







