Akurat

Tenis China Di Antara Booming Dan Pengalihan Kasus HAM

Badri | 16 Oktober 2023, 23:42 WIB
Tenis China Di Antara Booming Dan Pengalihan Kasus HAM

AKURAT.CO, Sebagaimana yang terjadi dengan sepakbola melalui Liga Super China pada satu dekade lalu, demikian pula tenis di negara tersebut saat ini. Ya, Pemerintah China telah melakukan investasi besar-besaran di tenis dan kini para pemainnya sudah mulai “mendaki” menuju status bintang.

Sejak Li Na mencetak sejarah sebagai warga China pertama yang meraih gelar grand slam di Prancis Terbuka 2011 diikuti Australia Terbuka 2014, negeri berhaluan komunis tersebut kini mulai mengembangkan sayap ke sektor putra.

Wu Yibing, 23 tahun, menjadi petenis putra China pertama yang meraih gelar di Tur ATP. Ia mengalahkan John Isner dalam laga tiga set dengan skor 6(4)-7)7), 7(7)-6(3), dan 7(12)-6(10) di partai final Dallas Terbuka, Dallas, Amerika Serikat, 12 Februari lalu.

Baca Juga: Hadapi Rumania, Tim Tenis China Mundur Karena Wabah Virus Corona

Di sektor putri, Zheng Qinwen menjadi juara Palermo Terbuka sebagai gelar Tur WTA pertamanya, Juli lalu. Pada Agustus, petenis berusia 21 tahun tersebut mencapai perempat final Amerika Serikat Terbuka di mana ia mengalahkan finalis Wimbledon, Ons Jabeur, dalam prosesnya.

Bukan hanya itu, melalui Zheng Qinwen China mendominasi tenis di Asian Games Hangzhou 2022. Qinwen meraih medali emas dengan mengalahkan rekan senegaranya, Zhu Lin, di partai final.

The Guardian menyebut bahwa munculnya bintang-bintang tenis muda dari Negeri Tirai Bambu–julukan China–tersebut tak terlepas dari besarnya uang yang ditanamkan di negara tersebut.

Tercatat sekitar 20 juta orang bermain tenis di 30-40 ribu lapangan sekaligus membuat China menjadi negara posisi pertama dalam hal jumlah partisipasi. Akademi-akademi akar rumput untuk anak-anak dilatih oleh pelatih dari barat dan mantan-mantan pemain.

China juga mendirikan banyak stadion dan tenis kini menjadi industri yang bernilai jutaan Dollar AS. Pasar mereka berada di posisi kedua di dunia di belakang Amerika Serikat.

Namun demikian, tenis juga memiliki “nodanya” di China sejak kasus menghilangnya eks petenis ganda putri ranking satu dunia milik negara tersebut, Peng Shuai, pada 2021. Peng Shuai diketahui menghilang beberapa hari setelah mengunggah pengakuan bahwa ia diperkosa oleh salah satu petinggi Partai Komunis China.

Kolumnis The Guardian, Hannah Janne Parkinson, menulis bahwa booming tenis di China disertai dengan pantauan bahwa negara tersebut berusaha mengalihkan pandangan dari kasus Peng Shuai. Juga dugaan pelanggaran hak asasi manusia di negara tersebut seperti terhadap kelompok muslim Uigur.[]

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
Reporter
Badri
H