AKURAT.CO, Polemik terkait konsumsi atlet pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara 2024 masih menjadi bola panas. Selain menu yang tidak sesuai, kendala keterlambatan juga menjadi masalah.
Ayah atlet PON Aceh-Sumut asal Banten, Rizki Juniansyah, Mohamad Yasin, bahkan sampai mengeluh kepada pihak penyelenggara soal konsumsi.
Jika penyelenggara PON Aceh-Sumut tidak mampu menyediakan konsumsi dengan baik dan tepat waktu, kata ayah peraih emas Olimpiade Paris itu, lebih baik mereka mendapatkan uangnya saja.
"Anak saya (Rizki Juniansyah) juara pecah rekor nasional, juara Olimpiade. Weh di sini makannya gimana ini? Sudah uangnya saja kalau (buat) Banten," kata Mohamad Yasin dalam video viral yang beredar.
Dikutip dari kanal Youtube Catatan Demokrasi tvOne, Manajer Angkat Besi Banten, Haridoyo Sugianto, tidak membantah polemik menu dan keterlambatan konsumsi bagi atlet peserta PON Aceh-Sumut 2024.
Selain menyayangkan isi dan keterlambatan konsumsi yang mereka rasakan, Haridoyo juga menyarankan bahwa konsumsi bagi tiap-tiap atlet seharusnya berbeda.
Karena menurutnya kebutuhan nilai gizi bagi atlet angkat besi dan atlet dari cabang olahraga lainnya itu pasti berbeda-beda.
"Yang kami pikirkan itu sekarang ini, kenapa ketika angkat besi atau cabor sepakbola disamain menunya? Harusnya jangan disamain, karena kebutuhannya beda," kata Haridoyo.
"Saran kami ke depan harus ada perbedaan (terkait menu konsumsi untuk atlet), mungkin penanganannya saja menurut kami yang kurang baik."
Hal tersebut diamini oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf, yang menilai ada pembagian kewenangan yang belum tepat dalam penyelenggaraan PON kali ini.
Dede menganggap konsumsi atlet malalui sistem tender di rasa kurang tepat. Karena pemenang tender bakal memegang konsumsi untuk beberapa cabor, di mana konsumsi setiap atlet tidak sama.
"Ketika berbicara makan, saya sepakat atlet angkat besi, tinju, dengan atlet lainnya itu makanannya berbeda. Kalau atlet-atlet yang membutuhkan energi yang lebih besar sudah pasti makannya enggak bisa ditakar sama," jelas Dede Yusuf.
"Artinya dari konteks ini kita melihat, karena (konsumsi atlet menggunakan dana) APBD, karena sifatnya tender, jadi akhirnya siapa yang menang itu yang megang (konsumsi) sekian cabor, pasti berantakan."
"Ke depan perlu kita pikirkan sebuah sistem baru. Setiap cabor, dia yang menetapkan sendiri kateringnya, dan jenis makannya apa, yang dibiayai pemerintah daerah dengan standar biaya yang sudah ditetapkan, agar tahu kebutuhannya apa," terang Dede.