Akurat

Mengenal Perbedaan Hadis Sahih, Hasan, dan Dhaif dalam Islam

Eko Krisyanto | 29 Desember 2025, 18:09 WIB
Mengenal Perbedaan Hadis Sahih, Hasan, dan Dhaif dalam Islam

AKURAT.CO Hadis merupakan segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW yang dijadikan pedoman hidup bagi umat Islam.

Hadis memiliki peran penting sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur'an, yang membantu menjelaskan dan merinci ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui hadis, umat Islam dapat mengetahui bagaimana Nabi Muhammad SAW menjalankan ibadah, berinteraksi dengan sesama, hingga menegakkan nilai-nilai moral dan sosial.

Namun, tidak semua hadis memiliki derajat atau tingkat keaslian yang sama.

Dalam ilmu hadis dikenal beberapa klasifikasi yang menunjukkan kualitas suatu hadis, yaitu hadis sahih, hasan, dan dhaif.

Memahami perbedaan ketiganya sangat penting agar umat Islam dapat membedakan mana hadis yang benar-benar dapat dijadikan pedoman dan mana yang perlu diteliti lebih lanjut.

Hadis Sahih

Hadis sahih secara bahasa berarti "sah", "sehat" atau "benar." Dalam istilah ilmu hadis, hadis sahih adalah hadis yang memiliki derajat paling tinggi di antara jenis hadis lainnya.

Hadis ini memiliki sanad yang bersambung (muttasil), diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabit (kuat hafalannya), serta terbebas dari kejanggalan (syadz) dan cacat (‘illat) baik dalam sanad maupun matannya.

Dua ulama besar yang paling dikenal dalam meriwayatkan hadis sahih adalah Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Keduanya menghimpun hadis-hadis sahih dalam karya monumental yang disebut Ash-Shahihain, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Selain dua kitab tersebut, terdapat pula beberapa kitab lain yang juga memuat hadis-hadis sahih, antara lain Al-Muwaththa' karya Imam Malik, Mustadrak Al-Hakim, Shahih Ibnu Hibban, dan Shahih Ibnu Khuzaimah.

Ciri-ciri hadis sahih antara lain sebagai berikut:

● Rantai sanadnya bersambung dari perawi pertama sampai terakhir tanpa ada yang terputus.

● Para perawinya adil, jujur, terpercaya, serta memiliki daya ingat yang kuat dan hafalan yang sempurna.

● Tidak bertentangan dengan hadis sahih lainnya.

● Tidak mengandung kejanggalan (syadz) dan cacat ('illat).

Hadis Hasan

Hadis hasan berada satu tingkat di bawah hadis sahih. Secara bahasa, hasan berarti "baik" atau "bagus."

Dalam istilah ilmu hadis, hadis hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung dan diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kekuatan hafalan dan ketelitian perawinya tidak sekuat perawi hadis sahih.

Dengan kata lain, hadis hasan memenuhi sebagian besar syarat hadis sahih, hanya saja terdapat sedikit kelemahan dalam hafalan atau ketelitian perawi.

Meskipun demikian, hadis ini tetap dapat dijadikan hujjah (dalil) dalam menetapkan hukum dan sangat sering digunakan dalam bidang fadhailul a'mal (keutamaan amal).

Salah satu kitab yang memuat hadis hasan, yaitu Kitab Sunan At-Tirmidzi (atau Jami At-Tirmidzi).

Ciri-ciri hadis hasan antara lain sebagai berikut:

● Sanadnya bersambung seperti hadis sahih.

● Diriwayatkan oleh perawi yang adil, namun kekuatan hafalan dan ketelitiannya lebih lemah dibanding perawi hadis sahih.

● Tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat.

● Tidak memiliki kejanggalan (syadz) atau cacat (‘illat).

Hadis Dhaif

Hadis dhaif secara bahasa berarti "lemah." Dalam istilah ilmu hadis, hadis dhaif adalah hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat hadis sahih maupun hasan.

Kelemahan ini dapat disebabkan oleh sanad yang terputus, perawi yang tidak terpercaya atau tidak dikenal (majhul), lemah dalam ingatan dan hafalan, atau adanya cacat dalam periwayatan.

Hadits dhaif tidak dapat dijadikan dasar hukum utama, terutama dalam hal akidah, hukum halal-haram, sifat-sifat Allah SWT dan hukum Islam (fikih).

Namun, sebagian ulama membolehkan penggunaannya untuk fadhailul a'mal (keutamaan amal), selama hadits tersebut tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat dan tidak terlalu lemah.

Beberapa kitab yang memuat pembahasan tentang hadis dhaif antara lain Al-Afrad karya Ad-Daruquthni, Mizanul I'tidal fi Ilmil Hadis karya Adz-Dzahabi, dan Ad-Duafa Al-Kabir karya Al-Uqaili.

Ciri-ciri hadis dhaif antara lain sebagai berikut:

● Sanadnya tidak bersambung, terputus, atau tidak jelas.

● Perawi yang tidak terpercaya, lemah hafalannya, atau tidak dikenal.

● Kemungkinan mengandung kejanggalan (syadz) atau cacat (‘illat).

Perbedaan antara hadis sahih, hasan, dan dhaif terletak pada kualitas sanad, kredibilitas perawi, serta tingkat keasliannya.

Hadis sahih memiliki derajat tertinggi dan menjadi dasar utama dalam penetapan hukum Islam.

Hadis hasan berada satu tingkat di bawahnya karena masih memenuhi sebagian besar syarat hadis sahih, sedangkan hadis dhaif tergolong lemah sehingga penggunaannya terbatas dan tidak dapat dijadikan dalil hukum.

Sebagai umat Islam, penting untuk selalu meneliti keaslian dan sumber hadis sebelum menjadikannya pedoman dalam beribadah maupun berdakwah.

Pemahaman terhadap klasifikasi hadis membantu kita lebih bijak dan berhati-hati dalam menerima serta menyebarkan ajaran agama.

Laporan: Vania Tri Yuniar/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK