Kisah Dokter Lo, 'Malaikat' Berjas Putih yang Membantu Sesama

AKURAT.CO Baru-baru ini, seorang warganet membagikan kisah seorang dokter dari Solo yang dikenal karena kepiawaian dalam diagnosanya di Twitter. Melalui akunnya, @JostKoko, ia menceritakan sosok bernama Lo Siaw Ging yang telah menjadi dokter sejak 1963.
Si "Lo" dari SoloS piritO fL ovingO thers"Aku datang u/melayani, bukan dilayani.."Itulah semangat Dr. Lo Siaw Ging yg populer di Solo bukan hanya krn diagnosanya, tapi juga krn ia tdk pernah minta bayaran ke pasien bahkan biaya beli obat-pun terkadang dibayari oleh dr. Lo pic.twitter.com/3EvQMi6ZID
— Jost Kokoh (@JostKoko) June 24, 2021
Thread dengan judul Si "Lo" dari Solo, Spirit Of Loving Others (Solo) ini membuka cerita dengan bagaimana dr. Lo, sapaannya, memiliki semangat, "aku datang untuk melayani, bukan dilayani.."
Dokter yang lahir di Magelang, 16 Agustus 1934 ini memutuskan untuk mengambil kuliah kedokteran di Universitas Airlangga setamatnya SMA. Padahal, ia sendiri merupakan anak dari pengusaha tembakau moderat. Kedua orang tuanya ialah Lo Ban Tjiang dan Liem Hwat Nio.
Meski sang anak akan mengambil profesi yang berbeda, ayah dr. Lo tetap mendukungnya dengan memberikan sebuah pesan, "jika ingin menjadi dokter jangan berdagang. Sebaliknya jika ingin berdagang, jangan menjadi dokter!" Hal tersebutlah yang ia pegang hingga saat ini.
Tidak hanya belajar dari sang ayah, dr. Lo pun belajar dari dr. Oen yang merupakan pemiliki poliklinik Tsi Sheng Yuan yang merupakan tempat pertamanya bekerja. Di matanya, sosok dr. Oen merupakan dokter yang tidak hanya pintar dalam mengobati, tetapi juga sederhana dan berjiwa sosial luar biasa.
Tampaknya, jiwa sosial milik dr. Oen diikuti olehnya. Kini, dr. Lo juga dikenal bukan hanya karena kepiawaiannya saat mendiagnosa, namun juga sifat dermawannya. Ia diceritakan tidak pernah meminta bayaran kepada pasien.
Dokter yang tinggal di Surakarta ini pun pernah mengatakan, "seorang dokter tidak boleh mengejar materi semata karena tugas dokter adalah membantu orang. Kalau hanya ingin cari untung, lebih baik jadi pedagang. Jadi siapapun pasien yang datang, miskin atau kaya, harus dilayani dengan baik. Ikhlas. Profesi dokter itu menolong orang sakit bukan menjual obat!"
Selain tidak pernah meminta bayaran, ia juga membantu pasien kurang mampu untuk menebus biaya resep, juga pasien rawat inap di RS Kasih Ibu, tempatnya bekerja. Biaya tersebut bisa mencapai 8 hingga 10 juta yang akan ditagih kepada dr. Lo di akhir bulan. Tidak hanya itu, dr. Lo juga akan mencarikan donatur untuk pasien dengan biaya rawat cukup besar, seperti halnya harus operasi. Menurutnya, untuk apa pasien membayar ongkos dokter dan obat kalau setelah itu tidak bisa membeli beras untuk anak-anaknya.
Dokter yang merupakan lulusan Manajemen Administrasi Rumah Sakit UI ini terkadang memarahi pasiennya yang menganggap enteng penyakit. "Sampai sekarang masih banyak yang bersikap kayak gitu. Memangnya penyakit itu bisa sembuh sendiri. Kalau sakit ya harus segera dibawa ke dokter. Jangan bikin diagnosa sendiri.." Ucapnya dengan gaya bicara yang tegas.
Kebaikan-kebaikan dr. Lo memang telah dikenal sejak dulu. Saat kerusuhan Mei 1998, dr. Lo tetap melayani pasien di rumahnya, Kampung Jagalan, Jebres, Surakarta. Tanpa sungkan ia membantu orang yang membutuhkan pertolongan, termasuk para korban kerusuhan kala itu. Hal tersebutlah yang akhirnya membuat orang khawatir dan menjaga kediaman dr. Lo.
Di usianya yang akan menginjak 87 tahun, dr. Lo telah menjadi direktur rumah sakit dan masih aktif melayani pasien dari pagi hingga malam. Tongkat yang membantunya berjalan pun bukan halangan baginya.
"Selama saya kuat, saya belum mau pensiun. Menjadi dokter itu baru pensiun kalau sudah tidak bisa apa-apa. Kepuasan bagi saya bisa membantu orang dan itu tidak bisa dibayar dengan uang." Ungkap dr. Lo.
Baca Juga: Kisah Dokter Prancis Berusia 98 Tahun Tetap Bekerja di Tengah Pandemi COVID-19
Telah malang melintang di sepanjang kariernya, dr. Lo mendapatkan penghargaan MURI. Meski demikian, ia masih sosok yang sama, sosok sederhana yang tinggal di rumah sederhana bersama istrinya, Maria Gandi atau Maria Gan May Kwee.
Selain sosok dermawan dan sederhana, dr. Lo juga seorang yang romantis. Ia tidak sungkan memuji wanita yang dinikahinya pada tahun 1968 itu. Menurut dr. Lo, istrinya memiliki peran besar terhadap apa yang telah ia buat. Tanpanya, ia tidak akan bisa melakukan semuanya. Dokter ini bahkan merasa sangat bersyukur menjadi suami dari seorang Maria Gandi.
Saat ini, 'malaikat' berjas putih itu telah menjalani perawatan intensif di ICU RS Kasih Ibu, Solo karena masalah pencernaan. Sebelumnya, ia juga sempat dirawat karena gejala stroke pada beberapa tahun yang lalu.
Lekas sembuh seperti sedia kala, dr. Lo Siaw Ging. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




