Akurat

Protes Artis Hollywood Karena Kecerdasan Buatan: Haruskah kita Khawatir?

Erizky Bagus Zuhair | 27 Juli 2023, 11:57 WIB
Protes Artis Hollywood Karena Kecerdasan Buatan: Haruskah kita Khawatir?

AKURAT.CO, Akhir-akhir ini, dunia hiburan dikejutkan dengan protes masif pekerja seni film di Amerika Serikat dan Inggris. Serikat Buruh pekerja seni Amerika Serikat terbesar yaitu ‘The Screen Actors Guild – American Federation of Television and Radio Artists ‘ (SAG-AFTRA), dan ekivalensinya di Inggris, Equity, adalah organizer dari protes tersebut.

Setelah berpuluh-puluh tahun adem-ayem, Ketua SAG-AFTRA yang juga adalah artis Hollywood veteran, Fran Drescher, memutuskan bahwa studio-studio besar harus didemo. Salah satu alasan mereka adalah karena pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI yang tidak adil. Akhirnya, salah satu sengketa industrial terbesar dalam sejarah dunia hiburan Amerika merebak dengan didukung ratusan ribu pekerja seni anggota SAG-AFTRA.

SAG-AFTRA berang karena studio film menggunakan AI untuk menyimpan dan melatih data artis untuk digunakan ‘in perpetuity,’ namun kompensasi kepada artis hanya dengan dibayar putus selama sehari. Hal ini tidak hanya berlaku pada artis, namun juga pada penulis skenario misalnya, yang posisinya mulai ‘diganggu’ oleh generative AI. 

Perwakilan studio film di Amerika, yaitu ‘American Motion Picture and Television Producers’ (AMPTP), membantah bahwa mereka berniat mengganti pekerja seni dengan AI, dan sudah mengklarifikasi posisi mereka di media massa. Namun SAG-AFTRA masih belum puas dengan ‘counter-offer’ mereka. Karena belum ada kesepakatan antara kedua belah pihak, sampai sekarang tulisan ini dimuat, protes masih berlangsung.

Menarik melihat bahwa pekerja seni Hollywood yang banyak di antara mereka bukanlah orang miskin, namun ikut bersolidaritas dalam protes tersebut. Mereka terlibat, sebab paguyuban SAG-AFTRA-lah yang mendukung artis-artis top tersebut dari sewaktu mereka awal merintis karir, mungkin sekali sebagai figuran atau pekerjaan lain, sampai akhirnya jadi artis dengan bayaran sekian juta dollar sekali main film.

Beberapa nama yang naik daun sekarang ini seperti Cillian Murphy dan Emily Blunt, artis dalam film ‘Oppenheimer,’ juga merupakan anggota SAG-AFTRA dan mendukung protes tersebut.

Tidak mau kalah, kolega SAG-AFTRA di Inggris, yaitu Equity, juga ikut protes. Artis veteran yang bermain dalam film seri ‘Succession,’ yaitu Brian Cox, juga ikut berprotes mendukung kolega mereka di seberang samudra Atlantik.

SAG-AFTRA dan Equity membuktikan, bahwa solidaritas sosial bukan masalah kaya atau miskin, namun masalah keadilan sosial maupun kompensasi dan benefit yang adil dari pemberi kerja pada pekerja.

Banyak anggota SAG-AFTRA dan Equity juga dari kalangan menengah ke bawah, jadi semua kelas sosial terwakili.

Matt Damon, artis yang juga bermain di film ‘Oppenheimer,’ juga menyatakan keprihatinannya karena masih banyak pekerja seni seperti penulis skenario yang tidak diberi kompensasi layak oleh studio film. Disini, apakah kita perlu khawatir bahwa AI akhirnya akan sejauh itu melakukan disrupsi pada lapangan pekerjaan, termasuk pekerja seni?

Kekhawatiran tersebut bisa dijawab bahwa AI sudah seharusnya diregulasi. Perlu ada peraturan yang menegaskan bahwa AI hadir bukanlah untuk menciptakan pengangguran, namun menciptakan lapangan kerja baru. Terkait regulasi AI, berbeda dengan Amerika dan Inggris, Eropa kontinental, terutama negara Uni Eropa seperti Jerman dan Perancis, jauh lebih strict daripada kedua negara tersebut dalam meregulasi AI. Regulasi Uni Eropa, yaitu ‘EU AI act’  bisa menjadi benchmark terhadap permasalahan ini. ‘Omnibus law AI’ Uni Eropa ini bahkan mengatur detail teknis aplikasi AI, seperti generative AI, harus direview secara ketat sebelum dirilis secara komersial.

Disini, tidak heran jika akhirnya aplikasi generative AI seperti ChatGPT sempat di banned di Italia selama beberapa waktu. Selain itu, beberapa aplikasi AI seperti ‘Social scoring,’ dan ‘real-time biometric identification systems‘ juga dilarang. Pelanggaran terhadap regulasi ini akan didenda sangat berat. Disini tidak mengherankan jika sampai sekarang, sinema Eropa termasuk sangat membatasi pemakaian AI pada studio film mereka. Umumnya, mereka masih sangat berfokus pada kekuatan penghayatan karakter artis-artisnya, dan sangat membatasi memakai CGI misalnya. Ini bisa dilihat misalnya pada film-film Skandinavia, terutama aliran ‘Nordic Noir’. Namun, mereka tetap bisa membuat dan mengembangkan produk seni yang tidak kalah kualitasnya dengan produksi Hollywood. Bahkan tidak jarang film-film tersebut malah mendapatkan penghargaan di Amerika yang sangat ‘AI-centered.’

Beberapa film yang bisa menjadi contoh adalah film ‘All Quiet on the Western front’ dari Jerman, dan film ‘Narvik’ dari Norwegia. 

Sineas Eropa membuktikan, bahwa kualitas sinematografi tidak harus ditentukan semata-mata oleh AI atau teknologi lain. Namun, mengutip Nietzsche, para ‘creator of value’ akan selalu bisa bertahan di tengah pengarusutamaan AI di segala bidang. Para ‘creator’ adalah mereka yang menciptakan ide-ide baru dan berintegritas, yang pada akhirnya hanya sekedar ditiru dan direplikasi oleh agen AI. Disini, agen AI menjadi pengikut para ‘creator’ pekerja seni, bukan sebaliknya. 

Pada dasarnya, AI diciptakan bukan untuk menjadi ‘Skynet’ yang akhirnya melawan manusia atau menggantikan peran mereka, namun justru untuk membantu manusia untuk menyelesaikan tugas dan permasalahannya. Disini, Pemerintah kita seyogyanya mulai memikirkan hal ini, dan kementerian terkait seperti Kominfo, Parekraf, naker, maupun lembaga lain seperti BRIN dan DPR berembuk untuk mempersiapkan regulasinya.

Jangan sampai akhirnya protes ala SAG-AFTRA dan Equity terjadi di negara kita, karena kalau itu terjadi, berarti ada ‘loophole’ di regulasi terkait AI yang dimanfaatkan secara kurang baik.

Negara, dalam hal ini pemerintah dan DPR, harus memikirkan ‘fair share’ pemanfaatan AI dan fasilitasi mediasi yang adil di badan arbitrase maupun bahkan pengadilan jika terjadi sengketa industrial seperti yang terjadi di Amerika dan Inggris.

‘EU AI act’ bisa menjadi benchmark yang baik bagi pemerintah dan DPR. Kemudian, pekerja seni kita juga bisa benchmark dengan kolega di SAG-AFTRA dan Equity untuk sharing pengalaman, dan kemudian berkolaborasi untuk mensinkronisasikan agenda mereka.

Terakhir, korporasi seperti studio film kita juga seyogyanya memertimbangkan bahwa pertumbuhan dan stabilitas ekonomi suatu negara hanya bisa dijamin jika angka pengangguran rendah dan terkendali.

Menggantikan semua pekerja seni dengan AI, atas nama ‘efisiensi’ akan menjadi salah kaprah karena justru akan meningkatkan pengangguran, yang pada akhirnya akan mengganggu stabilitas ekonomi suatu negara. Tentu hal itu tidak akan menjadi baik dan kontraproduktif bagi iklim investasi pada industri hiburan. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.