Kisah-kisah Inspiratif Pelaku UMKM Peserta KKI 2026

AKURAT.CO Bagi sebagian pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), persoalan mengembangkan bisnis tidak berhenti pada kemampuan membuat produk.
Setelah produk selesai dibuat, masih ada persoalan lain yang harus dihadapi, mulai dari pemasaran, kapasitas produksi, tenaga kerja, akses pembiayaan hingga kemampuan menjangkau konsumen di luar daerah.
Kondisi tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Seperti yang diketahui, KKI 2026 melibatkan lebih dari 1.860 UMKM dengan 560 UMKM mengikuti pameran secara langsung dan 1.300 UMKM berpartisipasi melalui platform digital KKI. Jumlah peserta pameran fisik meningkat dari 362 UMKM pada 2025.
Tahun ini, BI memperluas agenda dari sekadar pameran produk menjadi kegiatan yang mempertemukan UMKM dengan calon pembeli, lembaga pembiayaan, hingga mitra dalam rantai nilai.
Sebanyak 44 rangkaian kegiatan disiapkan, termasuk business matching untuk pembiayaan, ekspor dan value chain. BI juga menggandeng 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis dalam penyelenggaraan KKI 2026.
UMKM Success Story Binaan Bank Indonesia
Bagi UMKM yang sudah lama mengikuti pembinaan BI, dukungan tersebut tidak selalu langsung terlihat dalam bentuk peningkatan omzet. Prosesnya berlangsung bertahap, mulai dari pelatihan hingga kesempatan memperbaiki produk dan memperluas pasar.
Salah satunya dialami Surita Ramadewi, pemilik Surita Bordir. Usaha yang dijalankannya merupakan usaha keluarga yang sudah dimulai sejak 1999. Surita melanjutkan usaha tersebut dari ibunya dan mulai mengembangkan produk dengan merek sendiri pada 2008.
Sebelum memiliki produk sendiri, Surita mengaku masih bekerja kepada pihak lain dan menitipkan produk. Perubahan mulai dilakukan ketika dirinya memutuskan membangun produk dengan mereknya sendiri.
"2008 itu saya sudah bikin produk sendiri dengan brand sendiri," kata Surita.
Perjalanan menjadi UMKM binaan juga tidak berlangsung dalam waktu singkat. Surita sebelumnya menjadi binaan Dekranas pada 2003. Beberapa tahun kemudian, ia mengajukan diri menjadi binaan BI.
Menurut Surita, pada awal menjadi binaan BI, perkembangan usahanya belum langsung terlihat. Ia masih mencari pola untuk mengembangkan bisnis dan mengaku sempat mengalami keraguan.
Perubahan baru dirasakan lebih kuat setelah dirinya kembali konsisten mengikuti pembinaan BI pada 2018. Pada tahun yang sama, Surita mulai mengikuti KKI.
"Di tahun itu juga saya ikut KKI. Alhamdulillah bisa dipercaya sampai sekarang," ujarnya.
Surita memperkirakan omzet usahanya saat ini telah meningkat sekitar 80% dibandingkan sebelum mendapatkan pembinaan BI. Jika sebelumnya pendapatan masih berada di kisaran jutaan rupiah per bulan, kini omzet Surita Bordir dapat mencapai sekitar Rp30 juta per bulan.
Angka tersebut tidak hanya menunjukkan perubahan pada sisi penjualan. Bagi Surita, pembinaan juga membuka akses terhadap pelatihan yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha.
Meski demikian, perkembangan bisnis tidak membuat seluruh persoalan usaha selesai.
Surita justru menghadapi tantangan lain yang cukup mendasar, yakni keterbatasan sumber daya manusia.
Saat ini Surita Bordir mempekerjakan enam orang selain dirinya. Keterbatasan tenaga kerja membuat kapasitas produksi menjadi salah satu kendala ketika permintaan meningkat.
"Kalau dari pertama saya bangun usaha karena jatuh bangun, permasalahannya di SDM. Kita kurang SDM," ujarnya.
Menurut Surita, persoalan tersebut berkaitan dengan semakin sedikitnya anak muda yang tertarik menjadi pengrajin bordir. Pekerjaan sebagai pembordir masih dianggap kurang menarik dibandingkan pekerjaan lain yang menawarkan hasil lebih cepat.
Padahal, keterampilan tersebut dibutuhkan ketika permintaan produk meningkat.
Surita pernah mendapatkan permintaan dalam jumlah besar untuk produk busana muslim. Namun, permintaan itu belum dapat dipenuhi karena keterbatasan tenaga kerja.
"Karena itu SDM-nya kurang, jadi saya tidak bisa terima. Saya tolak," katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan UMKM tidak selalu berkaitan dengan permintaan pasar.
Ketika akses pasar mulai terbuka, kapasitas produksi dan ketersediaan tenaga kerja justru dapat menjadi persoalan berikutnya.
Hal serupa terlihat dari cerita UMKM binaan BI lainnya di Aceh Timur.
Tenun Bungong Jaroe merupakan kelompok perajin yang kembali mengembangkan usaha tenun sejak 2010 setelah sebelumnya mengalami masa vakum. Kelompok tersebut kemudian mendapatkan pembinaan dari Bank Indonesia Lhokseumawe pada 2020.
Salah satu dukungan yang diterima berupa alat tenun bukan mesin (ATBM). Kelompok tersebut memperoleh sekitar tujuh alat tenun yang digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus melibatkan masyarakat sekitar.
Pembinaan tidak berhenti pada peralatan. Para perajin juga mendapatkan pelatihan pemasaran digital, onboarding, pameran dan kurasi produk.
Fairiyah, salah satu anggota Tenun Bungong Jaroe, mengatakan pelatihan pemasaran digital menjadi salah satu perubahan yang paling dirasakan kelompoknya.
Sebelumnya, pemasaran produk masih banyak mengandalkan jaringan dan pelanggan yang sudah mengenal produk. Setelah mendapatkan pelatihan, kelompok mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan tenun khas Aceh Timur.
Hasilnya, pasar produk mulai meluas. Tenun Bungong Jaroe tidak hanya dipasarkan di Aceh, tetapi juga dikirim ke Jakarta dan sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Pesanan datang untuk kebutuhan pakaian, bingkisan hingga acara tertentu.
Dari sisi omzet, Fairiyah menyebut penjualan dapat mencapai sekitar Rp50 juta per bulan dalam kondisi permintaan normal. Ketika pesanan meningkat, produksinya dapat mencapai sekitar 100 lembar per bulan.
Perkembangan usaha tersebut juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. Sekitar 14 ibu rumah tangga terlibat dalam kegiatan Tenun Bungong Jaroe.
Fairiyah sendiri merupakan salah satu orang yang memperoleh keterampilan menenun setelah mengikuti pelatihan. Setelah lulus SMP, ia sempat tidak bekerja selama dua tahun sebelum mengikuti pelatihan selama 12 hari.
"Saya tamatan SMP. Saya menganggur di rumah dua tahun. Akhirnya BI membuat pelatihan. Saya ikut pelatihan selama 12 hari dan bertahan sampai sekarang di Tenun Bungong Jaroe," kata Fairiyah.
Bagi kelompok tersebut, pembinaan tidak hanya berdampak pada kemampuan memasarkan produk, tetapi juga membuka kesempatan bagi perempuan di sekitar untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi sehingga menjadi salah satu perhatian dalam KKI 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Tiba di Jakarta, Ryan Giggs Terkesan 'Kehebohan' Penggemar Sejak di Bandara
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan







