Dari Bisnis Percetakan Kecil-kecilan, Merhan Kini Punya Omzet Rp2,5 miliar

AKURAT.CO Menjalankan usaha jaman sekarang ini, semua orang ingin bisnis yang berbau baru dan trendy. Mendengar bisnis tahun 90-an saja terdengar usang dan tak ada menariknya sama sekali. Zaman memang berubah, mindset-pun berubah, banyak para milenial berlomba mengintip binsis-bisnis viral dan enggan melihat bisnis yang sudah lama di depan mata.
Misalnya saja bisnis percetakan untuk spanduk dan baliho. Saat ini dikota besar baliho digantikan videotron, kemudian acara bazaar-pun layar digital nampak menjadi pilihan ketimbang spanduk.
Namun bagi Merhansyah pandangan ini tak selamanya benar. Merhan, panggilan akrabnya, adalah salah satu pelaku bisnis yang menekuni bisnis digital printing atau percetakan yakni PT.Sukses Media Kita. Selama 20 tahun lebih berkecimpung di dunia periklanan dan percetakan, ia merasa industri tersebut masih cocok dijajal siapa saja.
PT. Sukses Media Kita, milik merhan saat ini memiliki 15 pegawai, 2 kantor cabang serta bisnis baliho. Ia sendiri mengakui bahwa pernah mencetak omset dari Rp250 juta hingga Rp2,5 miliar dalam sebulan.
-Dari workshop sederhana menjadi perusahaan
Ia bercerita sebelum memulai bisnis digital printing, dirinya pertama kali membuka workshop sablon sederhana pada tahun 1998. Kala itu niat ia membuka bisnis percetakan karena melihat potensi-nya saat bekerja menjadi pegawai marketing disalah satu bisnis percetakan juga.
"Ketika saat saya bekerja ternyata perusahaan keseringan overload, waktu itu biar order klien harus selesai saya cari workshop lain, dari situ saya kepikiran ajak kerjasama saja dengan mereka," katanya. Sejak dari kerjasama itu, Merhan pada akhirnya memutuskan membuka workshop sablon kecil-kecilannya sendiri.
Merhan mengatakan memulai bisnis sablon juga nyatanya memiliki resiko cukup besar, karena pada tahun itu mesin digital printing mulai bangkit, sehingga ia merasa bisnis yang dilakukannya bisa dibilang cukup tertinggal, namun ia tak menyerah untuk mendapatkan klien.
"Berawal dari sablon dulu ternyata berkembang terus dan sudah ada digital printing waktu itu, wah saya merasa kita tertinggal, namun bukan berarti nga butuh kan tertinggal itu, tetap saja pasti ada yang masih butuh," ujarnya.
Meski demikian ia merasa beruntung sebab pada tahun 1999, pertama kalinya penyelenggaraan pemilu pasca jatuhnya rezim orde baru, order sablon perusahaannya meningkat tajam saat itu.
Dari situ Merhan perlahan mulai melirik bisnis cetak digital printing pada 2007 dan mengembangan usahanya. Perlahan ia mendapat suntikan dana juga dari beberapa investor. Akhirnya dari hanya Home Industry yang berstatus hukum CV kini ia mengembagnakan bisnisnya menjadi Perusahaan Terbatas (PT).
Bisnisnya sendiri perbulan bisa meraup omset hingga Rp250 juta per bulan dan jika selama masa pilkada, atau pemilu ia bisa meraih hingga Rp2,5 miliar. Merhan sendiri telah memiliki klien cukup besar mulai dari partai politik, lembaga Dompet Dhuafa, Aksi Cepat Tanggap (ACT), hingga perusahaan EO.
-Bisnis percetakan bukan soal cetak
Terjun di dunia bisnis percetakan kata Merhan tak semudah dibayangkan orang. Ia mengatakan banyak kendala dihadapai saat terjun dalam dunia percetakan. Ia mengatakan selain produksi, bisnis percetakan nyatanya harus juga menyiapakan layanan jasa. Misalnya saja, jasa memasang baliho, hingga konsultasi tiada hentinya sampai klien puas.
Bahkan ia mengatakan pernah berurusan dengan hukum saat awal mula ia berbisnis karena memasang spanduk tanpa mengetahui ada hukum yang harus dipahami. "Di awal perusahaan, saya ikut masang. Pernah dikejar Satpol PP karena ternyata ada izin, itu kita belum paham karena awal-awal," katanya.
Untuk itu dalam membangun bisnis digital printing ia mengatakan yang terpenting adalah pelayanan jasanya juga. Maka dari itu Merhan menerapakan pelayanan '24/7' atau setiap hari dan setiap saat buka terus.
"Sehingga keunggulan kita perlu capai adalah waktu, harus buat spanduk 24 jam karena kebutuhan klien cepat dan kapan saja. saya tanamakan diperusahaan itu kepada pegawai cepat dan pelayanan," katanya.
Selain itu untuk mengembangakan bisnisnya, Merhan tak sebatas mengandalkan produksi dan jasa juga. PT Sukses Media Kita juga melebarkan sayapnya lewat bisnis baliho yang dimilikinya di beberapa titik. "Jadi yang sewa baliho kita kasih murah atau gratis tapi nyetaknya di kita. Ini satu cara biar menarik klien," katanya.
-Masa depan bisnis percetakan digital, dan kendalanya
Sebagai pelaku usaha dunia percetakan dan periklanan, ia tak menampik videotron mulai digandrungi saat ini sebagai media luar ruang. Namun jika melihat survei dan di lapangan katanya media seperti baliho dan spanduk cukup efektif untuk promosi kegiatan politik hingga sosial seperti galangan donasi. Untuk itu ia mengatakan dalam waktu dekat videotron tak akan menggantikan bisnis digital printing. Menurutnya segmen digital printing masih cukup kuat.
"Persaingan itu menurut saya punya segemen sendiri bukan bersaing. unutk kampanye survei menunjukan spanduk masih efektif, kita masih pede. saya jadi bersaing bukan dengan video tron, tapi sesama digital printing ," katanya.
Namun tetap saja sebagai pebisnis, ia juga telah melihat potensi videotron yang bakal jadi media luar ruangan yang cukup mendominasi. Untuk itu ia sendiri mengatakan telah melirik bisnis videotron juga kedepannya.
"Saya sebenarnya selama mampu tetap saya update sesuai dengan kemampuan. Saya ngukur aja liat pasar dan karakter konsumen saja. jika masih ada konsumen tetap layani. kalo karakter konsumen memang pengen teknologi saya tetap berusaha ikut," katanya.
Selain munculnya videotron, Pandemi juga menjadi luka yang menyakitkan bagi industri digital printing. Sempat tak ada yang order baliho atau banner ketika orang dibatasai berkerumun atau keluar rumah. Merhan mengatakan ia sempat tak mendapat orderan 3 hingga 4 bulan karena pandemi. Sempat juga 5 pegawainya memilih resign karena uang insentif terpaksa berkurang karena tak ada sama sekali produksi.
"Ibarat-nya saya ada tabungan perusahaan itu gaji 3 atau 4 bulan itu dana tersisa dulu, putaran tak ada sama sekali," ucapnya.
Kendati demikian kondisi saat ini bisnis percetakan kembali moncer karena sempat ada pilkada pada 2020, serta berbagai gerakan sosial yang membutuhkan baliho, banner dan lain-lain.
-Jangan takut terlambat dan tertinggal
Mehran mengatakan bagi yang ingin memasauki bisnis percetakan dan periklanan , maka hal utama yang perlu ditanamkan adalah jangan takut tertinggal. Industri percetakan dan periklanan memiliki ritme yang cukup pesat dimana banyak teknlogi baru bermunculan, sehingga keberanian dan kejelian seorang pembisnis cukup teruji.
Dari pengalamaanya meski tertinggal belum tentu ditinggalkan oleh konsumennya. Ia mengatakan bisnis juga harus disesuaikan dengan kekuataan masing-masing sebab mengikuti jaman juga memiliki biaya cukup tinggi.
"Saya merasa memulai usaha terlambat, dulu waktu spanduk kain, itu digital sudah ada menggeliat cuma belum terjangkau bagi saya, tapi tetap juga kan masyarkat bakal tetap mencari sablon kain waktu itu karena juga harganya," katanya.
Untuk itu kiat dalam berbisnis menurutnya jangan takut tertinggal dan berani mulai apapun itu.
"Jangan pesimis tetap yakin ada pasarnya itu harus dipahamai karena tak mungkin perpindahan bisnis itu sangat cepat," katanya. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





